Intip Jurus Schneider Electric Dorong Pertumbuhan Energi Bersih di RI

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar strategis untuk pengembangan daya bersih dan solusi rendah karbon di area regional. Sebagai ekonomi terbesar dan salah satu pasar daya nan terus bertumbuh di Asia Tenggara, Indonesia mempunyai kebutuhan nan tinggi secara jangka panjang terhadap solusi daya nan lebih bersih, efisien, andal, dan terjangkau, terutama seiring meningkatnya permintaan daya dan kebutuhan dekarbonisasi.

Untuk mendukung pertumbuhan solusi tersebut, Schneider Electric melalui Schneider Electric Energy Access Asia Fund II (SEEAA II) berupaya menjawab salah satu tantangan utama di pasar negara berkembang, ialah kesenjangan pendanaan tahap awal bagi perusahaan rintisan (startup) nan hendak mengembangkan solusi daya bersih dan solusi iklim.

Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia telah muncul beragam penemuan berupa clean cooking, distributed solar, hingga solusi ekonomi sirkular. Kendati begitu, banyak perusahaan nan tetap menghadapi tantangan untuk bergerak dari tahap uji coba menuju skala komersial.

"Fase ini kerap disebut sebagai valley of death, ketika perusahaan tetap terlalu awal untuk menarik penanammodal institusional, terlalu padat modal untuk model venture capital tradisional, dan belum mempunyai akses memadai terhadap skill teknis. Akibatnya, banyak solusi berakibat tinggi belum dapat menjangkau masyarakat nan paling membutuhkannya," ujar Gilles Vermot Desroches, SVP Corporate Citizenship & Institutional Affairs Schneider Electric dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (22/6/2026).

Di samping itu, Gilles menjelaskan, tantangan ini tidak hanya berangkaian dengan modal, tetapi juga terbatasnya support operasional dan teknis nan dibutuhkan perusahaan untuk tumbuh secara berkepanjangan serta menghasilkan akibat lingkungan dan sosial nan terukur. Untuk itulah, SEEAA II datang dengan tiga pendekatan utama.

Pertama, menyediakan patient capital alias modal jangka panjang nan disesuaikan dengan karakter upaya daya bersih dan solusi iklim. Kedua, mendukung perusahaan tidak hanya melalui modal, tetapi juga melalui skill teknis, operasional, dan strategis. Ketiga, menggunakan struktur blended finance untuk memobilisasi lebih banyak modal ke sektor-sektor nan mempunyai potensi akibat besar, tetapi tetap dipersepsikan berisiko tinggi oleh investor.

Model ini juga dinilai krusial lantaran transisi daya bukan hanya memerlukan teknologi, melainkan juga struktur pembiayaan nan bisa menjembatani kebutuhan pasar dengan profil akibat investor. Dalam konteks ini, blended finance memainkan peran katalitik dengan menggabungkan modal konsesional dan modal komersial untuk memperbaiki profil akibat dan imbal hasil investasi.

"Blended finance berkedudukan krusial dalam menarik modal swasta ke pasar seperti Indonesia, di mana banyak kesempatan mempunyai akibat besar, tetapi juga dipersepsikan berisiko tinggi. Struktur ini membantu menciptakan ruang bagi modal publik alias konsesional untuk memainkan peran katalitik, sehingga modal swasta dapat berperan-serta dengan lebih percaya diri," terang Gilles.

Schneider ElectricSchneider Electric

Lebih jauh, Indonesia juga dipandang menjadi salah satu pasar strategis dalam portofolio regional SEEAA. Dari sisi komersial, Indonesia mempunyai permintaan daya nan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Dari sisi geografis, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau menciptakan kebutuhan struktural terhadap solusi daya terdesentralisasi, seperti mini-grid, off-grid solar, dan sistem daya terdesentralisasi.

Meskipun akses listrik nasional telah meningkat signifikan, tetap terdapat tantangan mengenai keandalan, keterjangkauan, dan akses terhadap daya bersih, terutama di wilayah terpencil. Di saat nan sama, sekitar 80% listrik Indonesia tetap berasal dari bahan bakar fosil, sehingga ruang untuk dekarbonisasi tetap sangat besar.

Pemerintah Indonesia juga menargetkan peningkatan kapabilitas daya terbarukan secara signifikan, termasuk sasaran mencapai 23 GW kapabilitas daya terbarukan pada 2030, dengan 8 GW di antaranya berasal dari tenaga surya. Upaya ini sejalan dengan sasaran peningkatan bauran daya terbarukan menjadi 34,3% pada 2034.

Berdasarkan kondisi tersebut, solusi daya bersih di Indonesia tidak hanya relevan untuk menurunkan emisi, tetapi juga untuk meningkatkan keterjangkauan energi. Termasuk, untuk memperkuat ketahanan sistem energi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal di wilayah nan belum sepenuhnya terlayani.

Dari sisi kesiapan pasar, terdapat beberapa model upaya daya bersih dan solusi suasana berbasis teknologi nan mulai mendekati skala komersial di Indonesia. Salah satunya adalah distributed solar dan rooftop solar, nan semakin diminati oleh sektor komersial dan industri lantaran dapat membantu stabilitas biaya daya sekaligus mendukung sasaran penurunan emisi.

Selain itu, mobilitas listrik, khususnya kendaraan roda dua, juga mempunyai potensi besar. Dengan lebih dari 120 juta sepeda motor beraksi di Indonesia, elektrifikasi kendaraan roda dua dapat menjadi salah satu kesempatan solusi suasana berbasis teknologi terbesar, didorong oleh efisiensi biaya, insentif kebijakan, serta pertumbuhan jasa logistik dan ride-hailing.

Sektor daya terbarukan lain seperti surya, panas bumi, dan biogas juga mempunyai kesempatan besar, mengingat potensi sumber daya daya terbarukan di Indonesia nan tetap belum tergarap secara optimal.

Namun, agar sektor-sektor tersebut bisa menarik pendanaan lanjutan dalam skala nan lebih besar, sejumlah aspek pendukung tetap diperlukan. Investor memerlukan kepastian regulasi, kerangka kebijakan nan konsisten, struktur proyek nan bankable, tata kelola perusahaan nan kuat, serta prasarana pendukung seperti jaringan pengisian kendaraan listrik dan kapabilitas jaringan listrik nan memadai.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, SEEAA II menempatkan support pendanaan tahap awal, pendampingan teknis, dan penguatan tata kelola sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan investasi perusahaan rintisan (startup). Dukungan seperti perbaikan pelaporan keuangan, proses operasional, pengukuran dampak, serta struktur pengambilan keputusan nan lebih kuat dapat membantu mengurangi persepsi akibat di mata penanammodal lanjutan.

"Kesiapan investasi bukan hanya soal ide, tetapi juga esensial bisnis, mulai dari unit economics nan jelas, pelaporan finansial nan andal, hingga tata kelola dan struktur pengambilan keputusan nan kuat," ujar Gilles.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan nan sebelumnya dianggap berisiko tinggi dapat berkembang menjadi upaya nan lebih terstruktur dan layak investasi. Alhasil, model pembiayaan seperti SEEAA II tidak hanya berfaedah untuk mendukung pertumbuhan perusahaan, melainkan untuk membuka lebih banyak investasi ke sektor-sektor nan krusial bagi transisi energi.

"Dengan potensi pasar nan besar, kebutuhan daya nan terus meningkat, dan support kebijakan nan semakin kuat, Indonesia mempunyai kesempatan untuk mengembangkan solusi suasana dalam skala nan lebih besar serta menarik lebih banyak modal institusional ke sektor transisi energi," pungkasnya.

Untuk info lebih lanjut klik di sini.

(dpu/dpu)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News