Instrumen Metodologis Trans-Verifikatif & Falsifikatif: Ambisi Post-Epistemik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
doc.pribadi

Dalam dialektika saya berbareng beberapa kolega, kami sepandangan bahwa sepanjang genealogi kesadaran manusia, senantiasa berdomisili salah satu obsesi tunggal paling primordial nan tidak pernah sungguh-sungguh mengalami kematian, ialah gairah untuk berjumpa pada suatu modus pengetahuan nan bisa berdiri di luar posibilitas keruntuhan.

Dari para filsuf era pra-Sokrates nan melacak arkhe sebagai substansi purba kosmik, sampai kami, para ahli filsafat postmodern nan mencurigai konfigurasi struktur makna sebagai permainan diferensial tanpa sentrum, manusia senantiasa beraksi di dalam orbit paradoks nan identik. Ia mendambakan kebenaran, namun setiap instrumen nan dipakainya untuk membongkar kebenaran justru memproduksi horizon pembatasan nan baru.

Bagi saya, pengetahuan pengetahuan modern lahir dari trauma masif pada kekacauan metafisika abad pertengahan. Positivisme lampau datang membawa janji agung, bahwa realitas hanya mendapatkan legitimasi sejauh dapat dia diverifikasi. Tapi kini, janji itu perlahan mengalami degradasi internal disaat bahasa, kognisi, simbol, kuasa, serta subjektivitas mulai memberontak terhadap reduksi empirisisme nan terlalu mekanistik.

Pada dimensi itulah, ahli filsafat seperti Karl Popper berupaya menyelamatkan martabat sains dengan menggeser verifikasi menjadi falsifikasi. Namun apalagi falsifikasi pun rupanya tidak sanggup menjangkau semua kedalaman pengalaman manusia. Ada teritori eksistensial nan mustahil direduksi menjadi sekadar proposisi eksperimental. Ada dimensi keberadaan nan melampaui kapabilitas laboratorium.

Di tengah turbulensi epistemik itulah lahir beragam proyek post-epistemik: fenomenologi, eksistensialisme, hermeneutika, post-strukturalisme, dekonstruksi, sampai ontologi spekulatif kontemporer. Masing-masing metode itu berupaya meloloskan diri dari belenggu kerasionalan kontemporer. Akan tetapi nyaris semua dihadapkan pada takdir intelektual nan senada. Semakin dekat pada kedalaman ontologis, kita bakal semakin jauh dari legitimasi metodologis.

Simtoxa sepertinya lahir dimunculkan dari kegelisahan semacam itu. Disaat berbincang dengan figur nan memprakasainya, Arthuur J. Maya, kami (saya, R. Oktavian, A. Wene, dan beberapà rekan lainnya) berupaya mendekomposisi secara paradigmatikbilustrasi konseptual nan tak biasa. Percakapan kami dengan AJM memancarkan ambisi nan jauh lebih radikal, untuk menghadirkan suatu medan pengetahuan nan tidak lagi tunduk pada rezim verifikasi maupun falsifikasi.

Yang hendak menggeser orbit epistemologi dari representasi menuju resonansi ontologis. Berhasrat mau memposisikan “Veritas Persona” sebagai being kebenaran itu sendiri. Dan memandang bumi simbolik hanya sebagai bagian perifer dari eksistensi nan lebih purba dan lebih dalam. Tapi justru di situlah problematika paling esensial dimulai.

Karena bagi saya, setiap teori nan berupaya melampaui metodologi modern bakal selalu dihadapkan dengan pertanyaan paling primordial dalam lintasan sejarah filsafat, ialah gimana membedakan antara pengalaman kebenaran dan ilusi mengenai kebenaran itu sendiri?

Risalah ini tidak dilahirkan untuk menolak Simtoxa AJM secara simplistis. Sebaliknya, tulisan ini berupaya melacak posibilitas terdalam dan probabilitas kebuntuan paling fatal dari proyek ini. Karena Simtoxa bukan sekadar teori. Ia merupakan simptom zaman. Ia adalah manifestasi dari krisis epistemologi modern nan sudah terlalu lama kehilangan pusat ontologisnya sendiri.

Oleh karena itu, telaah terhadap Simtoxa mesti dilakukan tidak hanya sebagai kritik metodologis, namun juga sebagai autopsi terhadap kondisi peradaban kontemporer itu sendiri. Perlu disadari, bahwa modernitas lahir bukan sekadar sebagai fase sejarah, namun insureksi intelektual bagi supremasi otoritas metafisik.

Dunia abad pertengahan dipersepsikan terlalu larut di dalam dogma, wahyu, dan legitimasi transenden nan tak terjamah oleh sistem pembuktian rasional. Maka di kala sains modern bangkit, dia datang membawa proyek purifikasi besar-besaran, dengan mensterilkan pengetahuan dari seluruh komponen nan tak dapat diverifikasi secara empiris. Di dimensi ketika positivisme logis memperoleh percepatan historisnya.

Positivisme begitu percaya bahwa suatu proposisi hanya punya makna jika dapat diverifikasi dengan pengalaman empiris. Dengan kata lain, realitas kudu bersimpuh di bawah tribunal observasi. Segala sesuatu nan tak dapat diobservasi dianggap kehilangan legitimasi saintifiknya.

Tapi masalah lampau menyembul. Prinsip verifikasi rupanya menghasilkan sistem autodestruktif pada dirinya sendiri. Karena kuriositas nan begitu elementer mulai diajukan, bahwa apakah prinsip verifikasi itu sendiri dapat diverifikasi?. Bila jawabannya ya, maka saya rasa prinsip tersebut kudu bisa dibuktikan lewat perangkat prosedural nan empiris. Namun tidak pernah ada penelitian nan bisa membuktikan validitas universal prinsip verifikasi itu sendiri.

Kalau jawabannya tidak, maka positivisme sementara memanfaatkan prinsip non-verifikatif untuk mendelegitimasi seluruh pernyataan non-verifikatif. Pada lapisan itu, positivisme runtuh oleh paradoks internalnya sendiri. Akan tetapi ambruknya positivisme tidak otomatis menyelesaikan problem epistemologi.

Sebaliknya, dia malah membuka luka nan jauh lebih radikal, ialah gimana bisa manusia mempunyai pengetahuan nan sah andaikan apalagi fondasi verifikasi sendiri rupanya rentan secara ontologis?. Lalu banyak nan berupaya menyelamatkan sains dengan konsep falsifikasi.

Menurut Popper, teori ilmiah tidak perlu diverifikasi, dia hanya perlu mempunyai posibilitas untuk dibantah. Di sini, pengetahuan pengetahuan mengalami pergeseran dari obsesi pada sertanitas menuju kegigihan menghadapi kemungkinan kekeliruan. Namun apalagi falsifikasi juga mempunyai batas epistemiknya sendiri.

Tidak semua pengalaman manusia bisa direduksi menjadi penelitian laboratoris. Cinta tidak bisa diuji dengan instrumen saintifik. Kesadaran tidak seutuhnya dapat direpresentasikan secara neurologis. Makna hidup tidak bisa difalsifikasi sebagaimana asumsi fisika. Sehingga lahirlah kesadaran baru bahwa manusia eksis di dalam lapisan realitas nan jauh lebih kompleks dikomparasikan dengan sekadar observasi empiris.

Dengan fenomenologi mencoba kembali kepada pengalaman kesadaran itu sendiri. Beroperasi lebih jauh dengan menjadikan eksistensi sebagai lamunan paling fundamental. Memposisikan subjektivitas sebagai inti kebenaran keberadaan. Mencoba mendestruksikan pretensi objektivitas moral, dengan menunjukan bahwa kebenaran kerap kali hanyalah residu dari relasi kuasa.

Semua pergerakan intelektual itu perlahan membentuk satu atmosfer pemikiran nan sangat menentukan, bahwa modernitas mungkin sudah kehilangan sesuatu nan paling elementer. Yaitu kedalaman ontologis manusia. Saya rasa, Simtoxa tampaknya lahir dari trauma besar tersebut.

Dengan berupaya menjawab sesuatu nan selama ini kandas dijawab oleh sains kontemporer tentang gimana manusia memulihkan kontinuitas eksistensinya di tengah hiperrepresentasi simbolik nan senantiasa menggerus autentisitas eksistensial. Tapi di kala Simtoxa beraksi melampaui verifikasi dan falsifikasi, dia memasuki teritori nan begitu berbahaya.

Karena di luar metodologi modern tidak lagi tersedia pagar epistemik nan betul-betul definitif. Dan disaat pagar itu ambruk, semua sistem pemikiran berisiko beralih-bentuk menjadi metafisika absolut. Apabila dilacak secara radikal sampai ke lapisan terdalam kesadaran epistemik, struktur Simtoxa sesungguhnya bukan sebatas bangunan ilmiah konvensional. Ia terlihat menyerupai arsitektur kosmologis nan sementara berupaya mendirikan tata ontologis baru.

Diagramnya tidak bergerak dalam disiplin linearitas kausal-empiris sebagaimana metodologi positivistik modern beroperasi, namun bekerja di dalam medan resonansi eksistensial nan cair, berlapis, dan metafisik. Konsep-konsep seperti Veritas Persona, Ontoself, Veridic Fusion, Simtoxic Core, Orbit Keberadaan, memperlihatkan bahwa Simtoxa sementara berambisi memetakan perihal nan dianggap lebih primordial daripada sekadar representasi simbolik biasa.

Di titik ini tampak jelas adanya ikhtiar filosofis untuk mendeklarasikan bahwa manusia modern sedang mengalami amputasi ontologis akibat hiperrepresentasi bumi nan semakin totaliter. Simbol, bahasa, diskursus, media, teknologi, apalagi bangunan sosial dianggap sudah melakukan kolonisasi terhadap eksistensi manusia hingga manusia kehilangan kedalaman keberadaannya sendiri.

Manusia tidak lagi hidup sebagai being. Ia eksis hanya sebagai representasi. Dan bagi saya, Simtoxa tampaknya sementara mencoba melakukan restorasi terhadap kedalaman ontologis nan telah dibenamkan oleh peradaban simulatif modern itu. Secara filosofis, kegelisahan ini begitu dekat dengan kekhawatiran ontologis mengenai Gestell, ialah sistem bumi kontemporer nan memetamorfosiskan semua realitas menjadi standing reserve, persediaan utilitarian nan kehilangan dimensi kehadirannya.

Namun Simtoxa bergerak lebih garang lantaran dia tidak berakhir pada kritik terhadap modernitas teknologis semata. Ia mau mencoba mendirikan inti ontologis baru sebagai pusat gravitasi eksistensi manusia. Problematikanya mulai mengeras justru jika “inti ontologis” tersebut diposisikan sebagai pusat final. Karena sejak dekonstruksi, makulat kontemporer menjadi sangat skeptikal terhadap seluruh corak sentralitas metafisik.

Derrida menunjukan bahwa setiap pusat selalu terbatas pada permainan diferensial nan memproduksinya. Dengan kata lain, pusat tidak pernah sungguh-sungguh datang secara murni. Maka ketika Simtoxa berbicara mengenai Simtoxic Core sebagai pusat gravitasi keberadaan, pertanyaan kritis segera mengemuka, Apakah inti tersebut betul-betul berkarakter ontologis, ataukah hanya bangunan simbolik baru nan sementara mencari suaka legitimasi metafisik demi memperoleh status absolut?

Kuriositas ini menjadi sangat fundamental. Karena andaikan Simtoxic Core tidak bisa dieksplanasikan selain melalui simbol, bahasa, dan struktur representasional, maka dia tetap terbelenggu di dalam rezim representasi nan justru hendak dia kritik. Di titik inilah Simtoxa mulai berhadapan dengan pertentangan performatif nan sangat serius. Ia hendak melampaui simbol, tetapi tidak mempunyai medium lain selain simbol.

Ia mau keluar dari rezim representasi, tetapi dirinya sendiri hanya dapat berbicara melalui representasi. Dan justru pada momentum paradoksal itulah kebuntuan metodologis mulai menampakkan retakan-retakan ontologisnya secara telanjang. Saya kerap berkontemplasi, apa sesungguhnya makna dari melampaui verifikasi dan falsifikasi?

Kuriositas ini tampak sederhana di permukaan, namun pada kedalaman tertentu dia sebenarnya berkarakter destruktif terhadap fondasi epistemologi kontemporer itu sendiri. Sebab seluruh sejarah pengetahuan pengetahuan modern dikonstruksikan di atas dugaan esensial bahwa pengetahuan memerlukan sistem validasi.

Tanpa validasi, pengetahuan kehilangan garis demarkasi nan membedakannya dari spekulasi liar, mitologi intelektual, ataupun khayalan metafisik. Ketika sebuah teori mendeklarasikan, “Aku melampaui verifikasi dan falsifikasi,” sesungguhnya dia sedang mengusulkan klaim nan sangat problematik sekaligus rawan secara epistemologis.

Karena pada saat suatu sistem pengetahuan keluar dari posibilitas untuk diuji maupun dibantah, pada saat itu pula dia mulai bergerak menuju area nan tidak lagi mempunyai sistem koreksi internal. Dan teori nan kehilangan probabilitas untuk dikoreksi mempunyai potensi laten untuk bermutasi menjadi dogma.

Di titik inilah Simtoxa dipaksa bertatap dengan problem filosofis nan sangat serius. Bila kebenaran tidak lagi ditentukan oleh verifikasi maupun falsifikasi, lampau oleh apa? Apakah oleh resonansi? Bila demikian, gimana resonansi dibedakan dari sugesti psikologis?. Atau apakah oleh pengalaman ontologis? Jika begitu, gimana pengalaman tersebut di diferensiasikan dari ilusi eksistensial?. Apakah oleh kontinuitas keberadaan?

Bila demikian, melalui sistem apa kontinuitas itu dapat dikenali secara intersubjektif tanpa terjerat pada solipsisme kesadaran?. Tanpa kapabilitas menjawab problem metodologis semacam ini secara rigor, Simtoxa berisiko mengalami degradasi menjadi sekadar estetika metafisik, bagus secara naratif, namun rentan secara epistemik.

Dan sejarah makulat sudah terlalu sarat dengan teori-teori spektakuler nan kandas menjadi metodologi lantaran tidak mempunyai instrumen adjudikasi untuk mendikotomi validitas dari ilusi konseptual. Di sinilah tragedi besar seluruh proyek post-epistemik mulai terkuak.

Semakin sistem-sistem itu bergerak menuju kedalaman eksistensial, semakin mereka kehilangan perangkat untuk membedakan secara ketat antara intuisi dan ilusi, wahyu dan paranoia, kesadaran dan narsisme spiritual.

Padahal justru garis diferensial itulah nan sangat menentukan apakah suatu sistem layak disebut metodologi pengetahuan alias hanya sekadar kosmologi individual nan sedang mencari legitimasi intelektual. Secara filosofis, problem ini mengingatkan saya pada kritik terhadap sistem-sistem tertutup nan menolak kemungkinan falsifikasi.

Bagi Popper, suatu teori justru memperoleh martabat ilmiahnya ketika dia membuka diri terhadap kemungkinan dibantah. Karena keahlian untuk salah merupakan syarat minimal bagi kemungkinan pengetahuan berkembang. Namun Simtoxa tampaknya sedang mencoba bergerak melampaui horizon Popperian itu.

Ia tidak lagi mencari kebenaran melalui sistem pembuktian empiris, tapi lewat semacam intensitas eksistensial nan dianggap lebih primordial daripada prosedur ilmiah modern. Problematikanya, begitu takaran kebenaran dipindahkan dari medan metodologis menuju medan resonansi subjektif, maka pemisah antara pencerahan dan fatamorgana menjadi semakin kabur.

Di titik ini, jangan sampai kita mulai memasuki masalah nan pernah menghantui pemikiran mengenai relasi antara kebenaran dan rezim diskursif. Karena ketika tidak ada lagi sistem adjudikasi nan stabil, maka siapa pun dapat mengeklaim dirinya telah mencapai “kedalaman ontologis” tanpa pernah bisa diverifikasi secara intersubjektif.

Dan di situlah ancaman masif mulai muncul, bahwa kebenaran perlahan berevolusi menjadi pengalaman privat nan tidak lagi mempunyai disiplin epistemik. Akibatnya, teori tidak lagi beraksi sebagai instrumen pengetahuan, dia berubah menjadi ruang legitimasi bagi pengalaman subjektif nan susah terdiferensiasi dari bangunan psikologis semata.

Dengan begitu, paradoks metodologisnya menjadi semakin telanjang, dia mau mendeliberasi manusia dari belenggu positivisme, tapi justru berisiko mendorong manusia ke dalam labirin subjektivisme tanpa pintu keluar. Dan disaat semua sistem koreksi mulai menghilang, maka nan tersisa bukan lagi metodologi, tapi ketaatan ontologis nan sedang mencari bahasa akademiknya sendiri.

Salah satu komponen paling sentral nan kelak bakal secara resmi dipublikasikan dalam gedung konseptual Simtoxa adalah apa nan dia sebut sebagai Veritas Persona. Suatu penggalan terminologi nan bagi saya secara implisit berupaya memposisikan persona sebagai locus primordial dari kebenaran itu sendiri.

Dengan begitu, kebenaran tidak lagi dimaknai sebatas sebagai korespondensi proposisional pada kebenaran empiris nan terverifikasi, namun telah beranjak menjadi suatu pengalaman ontologis nan berdebar dalam interioritas terdalam dari persona manusia. Secara eksistensial, bangunan ini terlihat sangat kokoh dan apalagi menggoda bagi para penggelut rezim kekuasaan seperti saya. Karena menawarkan horizon makna nan intim, personal, dan seakan otentik.

Tapi jika saya beroposisi, justru pada titik itu, secara metodologis dia mulai masuk pada area problematik nan serius. Karena sejarah panjang pemikiran manusia justru memantulkan realitas bahwa subjektivitas bukanlah ruang bening nan steril, namun medan paling ambigu, paling rapuh, dan seraya paling mudah dimanipulasi dalam keseluruhan pengalaman eksistensial manusia.

Seorang ekstrem bisa merasa dirinya paling autentik. Atau seorang paranoid dapat meyakini dirinya sebagai subjek nan paling tercerahkan. Bahkan seorang diktator, dalam logika internal kekuasaannya, acap kali merasa sedang menjalankan apa nan dia sebut sebagai “kebenaran terdalam”.

Maka pada titik ini, dikala persona dijadikan sebagai sumber legitimasi ontologis bagi kebenaran, kuriositas kritis nan tak terhindarkan segera muncul dengan nada nan cukup brutal, ialah gimana kita mendikotomi antara Veritas Persona dan absolutisasi ego nan berlindung di kembali klaim autentisitas?.

Di sinilah Simtoxa tampak belum menyediakan perangkat epistemologis dan metodologis nan cukup memadai untuk membenahi problem tersebut secara rigor. Ia tampaknya mengandaikan adanya suatu kedalaman autentik dalam diri manusia, semacam inti eksistensial nan stabil, bisa memulihkan kontinuitas ontologis antara subjek dan kebenaran.

Tapi bagi saya dugaan ini sendiri, dalam tradisi makulat kritis, justru sangat problematis lantaran berkarakter metafisis tanpa cukup verifikasi konseptual. Derrida, misalnya, bakal dengan tegas mendeklarasikan bahwa subjektivitas bukanlah inti nan stabil, tapi pengaruh diferensial nan selalu ditunda dalam jaringan bahasa (différance).

Lacan bakal menegaskan bahwa subjek selalu terbelah (split subject), tidak pernah utuh terhadap dirinya sendiri. Foucault bakal memperlihatkan bahwa apa nan disebut identitas memperlihatkan adalah produk historis dari rezim kuasa dan diskursus nan beraksi secara subtil namun determinatif.

Sehingga, jika Simtoxa berupaya mengembalikan orbit ontologis kepada persona, dia sebenarnya sedang memposisikan dirinya dalam posisi nan berhadap-hadapan dengan nyaris seluruh arsitektur besar makulat kontemporer.

Dan resistensi epistemik itu tidak serta-merta keliru. Tapi dia menuntut argumentasi nan jauh lebih radikal, lebih ketat, serta lebih operasional daripada sebatas metafora diagramatik alias estetika “resonansi eksistensial”. Karena tanpa fondasi metodologis nan disiplin, Veritas Persona berisiko bergeser menjadi sekadar kultus interioritas nan subtil.

Dan historisitas pemikiran telah secara sinkronik menunjukkan simptom kultus interioritas pada akhirnya kerap kali tidak lebih dari transformasi lembut dari metafisika ego, nan bertopeng sebagai kedalaman, padahal sesungguhnya hanya repetisi diri dalam ruang kemandang nan tertutup.

Saya juga mau berargumen, bahwa jika kita melakukan kritik radikal terhadap hiperrepresentasi dalam modernitas kontemporer, dengan memandang bahwa seluruh jagat simbolik telah secara sistematis menggantikan serta menggerus kedalaman ontologis (being) manusia nan paling primordial itu boleh saja. Namun masalah esensial nan muncul di sini berkarakter epistemologis sekaligus ontologis.

Bagaimana mungkin manusia dapat betul-betul keluar dari ranah representasi dikala seluruh pengalaman eksistensial manusia senantiasa telah dimediasi oleh bahasa sebagai struktur primer pemaknaan? Ini adalah problem klasik nan senantiasa menghantui seluruh tradisi makulat bahasa modern maupun kontemporer.

Heidegger mempertegas bahwa bahasa merupakan rumah keberadaan (house of Being). Lacan menyatakan bahwa alam bawah sadar tersusun secara struktural layaknya bahasa. Derrida memperlihatkan bahwa tidak ada sesuatu pun di luar teks (il n’y a pas de hors-texte).

Maka jika kita berupaya merehabilitasi being nan berada di luar horizon representasi, sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan tembok epistemik paling keras dalam makulat kontemporer, bahwa manusia mungkin tidak pernah mempunyai akses nan murni, langsung, dan tidak terdistorsi terhadap realitas non-simbolik.

Bahkan dengan pengalaman nan paling intim, paling privat, dan paling visceral sekalipun selalu telah lebih dulu ditafsirkan, dikonstruksi, dan dimediasi. Kesadaran manusia tidak pernah eksis dalam keadaan nan polos, netral, alias pra-bahasa. Ia selalu telah terjaring dalam jejaring makna nan kompleks, nan terdiri dari sejarah sebagai horizon temporal nan menentukan, bahasa sebagai medium artikulasi dunia, kultur sebagai sistem nilai dan simbol, trauma sebagai jejak psikis nan terinternalisasi, simbol sebagai struktur representasional, dan struktur makna sebagai arsitektur epistemik kesadaran.

Jangan sampai kita berhadapan dengan sebuah dilema filosofis nan nyaris tidak mungkin untuk didamaikan alias disintesiskan. Karena jika tetap mengaplikasikan bahasa sebagai medium artikulasi teoritis, maka dia secara inheren tetap terjerat dalam rezim representasi nan mau dia dekonstruksi sejak awal.

Akan tetapi jika dia menolak bahasa secara total, maka dia sekaligus kehilangan probabilitas adanya komunikasi intersubjektif nan menjadi syarat minimal bagi eksistensi diskursus ilmiah maupun filosofis. Dan tanpa adanya intersubjektivitas, maka suatu teori tidak lagi punya gelanggang artikulasi akademik nan sahih. Ia merosot menjadi semacam pengalaman mistik nan sepenuhnya privat, terisolasi, dan tidak dapat diverifikasi dalam ranah diskursus publik.

Lebih jauh, salah satu daya tarik paling esensial dari Simtoxa justru berakar pada estetika konseptualnya nan berkarakter sublim. Pertama kali diperbincangkan dan dikenalkan, tentang sketsa orbit, resonansi eksistensial, inti gravitasi keberadaan, serta sintesis antara Veritas Persona dan Ontoself mengonstruksikan suatu atmosfer filosofis nan bukan hanya memikat, tetapi juga nyaris menggoda secara intelektual.

Namun justru di titik inilah letak problematikanya. Dalam sejarah panjang pemikiran, kita memandang bahwa banyak sistem besar justru mengalami kolaps epistemik bukan lantaran kekurangan gagasan, tapi lantaran terperangkap dalam pesona retorika dirinya sendiri. Kecenderungan menghadirkan bahasa nan terlalu agung acap kali berfaedah sebagai mesin produksi ilusi kedalaman.

Padahal kedalaman konseptual tidak pernah bisa direduksi menjadi sekadar intensifikasi terminologi alias akumulasi istilah nan kompleks. Lalu datang sebuah pertanyaan metodologis kudu diajukan secara radikal, apalagi secara epistemologis brutal, Apakah Simtoxa betul-betul melahirkan pengetahuan baru, ataukah dia sekadar memproduksi estetika ontologis dalam corak nan baru?

Distingsi antara keduanya berkarakter krusial dan tidak dapat dinegosiasikan secara intelektual. Karena estetika metafisis bisa membangkitkan getaran reflektif nan begitu intens tanpa kudu punya struktur analitis nan operasional dan dapat diuji. Mereka nan mempelajari tradisi sistem-sistem gnostik antik pun bakal menemukan variabel kompatibel, ialah penuh dengan simbolisme kosmik nan mempesona, tapi kerap kali kandas membawa sistem pengesahan epistemik nan dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.

Simtoxa dituntut untuk bersikap waspada secara intelektual. Apabila dia terlampau larut dalam simbolisme resonansial tanpa memproyeksikan prosedur metodologis nan terverifikasi, maka dia bakal bergeser dari domain teori ilmiah menuju teritori puisi metafisik nan bagus namun tidak operasional.

Dan bumi akademik modern, dengan seluruh aparatus kritisnya, tidak pernah bersikap lunak terhadap sistem nan kehilangan instrumen validitas dan daya operasionalnya. Namun demikian, bukan berfaedah proyek konseptual seperti Simtoxa dapat lampau dinyatakan sebagai kemustahilan.

Justru sebaliknya, krisis internal modernitas menyingkap satu realita epistemik nan tak lagi bisa disangkal, ialah manusia, dalam horizon historisitasnya nan liminal, tengah memerlukan konfigurasi pengetahuan nan sama sekali baru, nan tidak lagi tunduk secara absolut pada diktum-diktum epistemologi klasik.

Verifikasi, dengan segala pretensinya terhadap kepastian, sudah kehilangan daya totalisasinya. Falsifikasi, sekalipun Popperian dalam elan rasionalnya, tetap tidak bisa merengkuh semua spektrum eksistensi nan berkarakter liminal, ambigu, dan tak terobjektifikasi.

Sementara itu, kerasionalan instrumental telah berevolusi menjadi mesin produksi hiperrealitas digital, sebuah ekosistem simulakra nan justru memfragmentasi subjek manusia ke dalam serpihan-serpihan pengalaman nan terputus dari totalitas makna. Dalam konteks itu, posibilitas kehadiran post-epistemologi tidak hanya terbuka, namun niscaya sebagai horizon historis pengetahuan.

Akan tetapi, post-epistemologi tidak pernah dapat dilahirkan lewat gestur negasi semata terhadap perangkat metodologis lama. Penolakan, bagaimanapun radikalnya, tidak cukup untuk menghadirkan suatu arsitektur epistemik baru. Ia menuntut inaugurasi sebuah metodologi nan seutuhnya lain, nan tidak lagi sekadar memperbaiki, namun merekonstitusi langkah manusia mengetahui, memahami, serta menafsirkan realitas.

Saya rasa inilah beban historis terbesar Simtoxa berada. Apabila dia berambisi untuk eksis sebagai paradigma nan sungguh-sungguh serius dalam lanskap intelektual kontemporer, maka dia tidak dapat menghindari tugas untuk mengonstruksi, sebuah epistemologi nan berkarakter resonansial, ialah pengetahuan nan lahir dari getaran relasional antara subjek dan realitas, bukan dari distansi objektivistik semata.

Sebuah hermeneutika nan sifatnya ontologis, nan tidak hanya menafsirkan teks, tetapi juga mengungkap keberadaan itu sendiri sebagai teks nan senantiasa bergetar dalam keterbukaan makna. Mekanisme kritik nan berbasis intersubjektivitas radikal, di mana kebenaran tidak lagi dimonopoli oleh satu poros otoritas, namun dinegosiasikan dalam jaringan kesadaran kolektif, serta prosedur pengesahan nan sepenuhnya non-positivistik, nan tidak lagi menjadikan takaran empiris sebagai satu-satunya legitimasi kebenaran.

Tanpa artikulasi metodologis seperti itu, Simtoxa hanya bakal berakhir sebagai sebuah elegi intelektual atas modernitas, kritik nan mungkin bagus secara retoris, tetapi mandul secara epistemologis. Ia tidak bakal pernah mencapai status sebagai revolusi metodologis nan sesungguhnya.

Pada saat dikenalkan, saya berkontemplaasi, mungkinkah terdapat suatu konfigurasi metodologis nan sanggup melampaui rezim verifikasi sekaligus falsifikasi sebagai dua kutub epistemik nan selama ini mengurung langkah berpikir modern? Jawabannya mungkin saja.

Namun probabilitas itu tidak pernah berkarakter netral. Ia hanya dapat datang jika, dan hanya bila, kita berani melakukan rekonstruksi radikal terhadap konsep kebenaran itu sendiri, apalagi sampai pada tingkat di mana fondasi semantiknya kudu diguncang dari akarnya.

Sehingga, kebenaran tidak lagi bisa didegradasi sebagai sebatas korespondensi proposisional antara deklarasi dan realitas objektif. Ia juga tidak cukup dimaknai sebagai keterbukaan terhadap sistem pembantahan ala falsifikasi Popperian nan menjadikan kebenaran selalu sementara dan rapuh.

Sebaliknya, kebenaran kudu direstorasi ke dalam medan nan lebih primordial, lebih eksistensial, lebih pra-proposisional. Sebagai intensitas keberadaan nan tidak terukur secara logis-formal, dan kontinuitas ontologis nan mengalir melampaui segmentasi kategorikal. Atau sebagai daya transformasional nan memutasikan struktur subjek dan bumi secara simultan, serta resonansi eksistensial lintas-subjek nan tidak tunduk pada pemisah personalitas epistemik modern.

Akan tetapi justru di titik inilah problematikanya mengental menjadi krisis metodologis nan tidak simplistik. Setiap upaya untuk mengafirmasi dimensi-dimensi itu segera berhadapan dengan kuriositas nan tidak bisa dijawab dengan perangkat epistemologi konvensional.

Bagaimana resonansi dapat diukur tanpa mereduksinya menjadi kuantifikasi nan mengingkari esensinya sendiri? Bagaimana menghindari jatuhnya intensitas ontologis ke dalam relativisme nan membubarkan segala standar validitas? Bagaimana memastikan bahwa pengalaman keberadaan tidak beralih-bentuk menjadi struktur otoritarianisme spiritual nan membungkam perbedaan dengan dalih kedalaman eksistensial?.

Inilah aporia esensial nan membayangi seluruh proyek pasca-verifikasi, sebuah gelanggang epistemik nan tak lagi menjadi problem teknis, tapi krisis atas posibilitas pengetahuan itu sendiri. Dan sampai detik ini, tidak satu pun sistem makulat besar modern nan betul-betul sukses menuntaskannya secara konsisten tanpa menyisakan residu pertentangan internal.

Heidegger terperangkap dalam gravitas ontologi nan terlalu pekat, hingga horizon keterbukaannya justru berubah menjadi kabut nan menutup dirinya sendiri. Derrida bergerak terlalu jauh dalam permainan diferensial dekonstruksi, hingga setiap fondasi makna kehilangan posibiliti stabilitas minimalnya. Foucault terbelenggu dalam sirkulasi relasi kuasa nan nyaris tak menyisakan ruang bagi kebenaran di luar jaringan diskursif.

Sementara Lacan mengafirmasi subjek sebagai keterbelahan permanen, tapi dengan itu dia juga menangguhkan kemungkinan integrasi pengalaman secara utuh. Dalam kerangka reruntuhan intelektual inilah Simtoxa eksis tidak sebagai sintesis final, tapi residu sekaligus ekses dari seluruh kegagalan tersebut. Ia berdiri di atas puing-puing epistemologi kontemporer bukan untuk menyelesaikannya, namun untuk menahan ketegangannya agar tidak runtuh menjadi nihilisme total.

Dan justru di dalam posisi liminal itulah Simtoxa mempunyai dua wajah sekaligus, ialah kemungkinan radikal bagi kelahiran metodologi baru, sekaligus potensi katastrofik nan dapat melampaui seluruh pemisah nan pernah ditetapkan oleh makulat itu sendiri.

Argumentasi lain nan mau saya eksplanasikan adalah, jika ditelaah secara lebih radikal dan genealogis, Simtoxa sejatinya tidak pernah berangkat dari vakum historis. Ia datang sebagai simptom dari sebuah konfigurasi era nan sangat partikular, ialah runtuhnya subjek modern di bawah tekanan hiperrealitas digital nan kian tak terkendali.

Sejak awal masyarakat kontemporer tidak lagi beraksi dalam horizon realitas, tapi dalam rezim simulakra. Di sini, tanda tidak lagi berkedudukan sebagai representasi dari realitas, dia mengambil alih posisi realitas itu sendiri secara total. Manusia modern pun lampau terjerembab dalam ekosistem tanda nan sinkronik secara autoreferensial, tanpa lagi mempunyai jangkar ontologis nan stabil dan dapat diverifikasi.

Media sosial, misalnya, tidak sekadar menjadi medium, dia adalah akselerator sadis dari disolusi realitas tersebut. Ia mempercepat delegitimasi pengalaman langsung dan menggesernya dengan ekonomi gambaran nan terus direproduksi tanpa henti. Identitas lampau beralih-bentuk menjadi semata-mata performativitas nan dikalkulasi.

Eksistensi direduksi menjadi praktik kurasi visual nan sistematis. Bahkan Kesadaran manusia tidak lagi berjumpa dengan dirinya secara immediat, tapi melalui refleksi tak berujung dari representasi nan diproduksi, diedit, dan direproduksi secara algoritmik.

Dalam konfigurasi semacam ini, manusia kehilangan dimensi kedalaman eksistensialnya. Ia tidak lagi datang sebagai being dalam pandangan definitif ontologis nan utuh. Ia hanya eksis sebagai gambaran nan terapung dalam arus representasi tanpa pusat. Dan Simtoxa, bagi saya, tampak membaca luka tersebut sebagai sebuah fragmentasi ontologis nan radikal dan tak terelakkan.

Gagasan “fragmentasi simbolik nan memutus kontinuitas ontologis” memperlihatkan bahwa Simtoxa memandang modernitas sebagai gelanggang disrupsi permanen terhadap inti eksistensi manusia itu sendiri. Artinya, modernitas tidak semata-mata melahirkan alienasi dalam pengertian ekonomi alias alienasi eksistensial.

Lebih dari itu, modernitas memproduksi corak alienasi nan lebih dalam dan lebih radikal, ialah alienasi ontologis. Manusia tidak lagi sekadar tercerabut dari kerja, produksi, alias makna hidupnya. Ia tercerabut langsung dari dirinya sendiri sebagai subjek nan utuh. Pada titik inilah Simtoxa menunjukan daya filosofisnya nan signifikan dan apalagi provokatif.

Dengan menangkap sesuatu nan menjadi trauma laten abad digital, bahwa manusia kontemporer hidup dalam jarak nan semakin tidak terjembatani dengan dirinya sendiri. Namun masalah epistemologis segera muncul disaat Simtoxa berupaya memulihkan kedalaman ontologis tersebut lewat dugaan adanya inti keberadaan nan relatif stabil dan bisa dipulihkan.

Karena makulat kontemporer justru memperlihatkan bahwa identitas manusia tidak pernah datang dalam corak nan final dan beku. Subjek selalu berada dalam arus devenir. Kesadaran senantiasa berkarakter prosesual, tidak pernah tuntas. Makna selalu tertunda, selalu deferensial, selalu berada dalam penundaan struktural.

Dengan begitu, Simtoxa justru terjerat dalam sebuah ketegangan epistemologis nan intens antara gairah untuk menghadirkan pusat ontologis, dan realita historis-filosofis bahwa seluruh tradisi pemikiran modern justru sudah menggerus dan mendekonstruksi probabilitas adanya pusat tersebut secara definitif. Lebih lanjut, salah satu terminologi nan paling sentral dalam bangunan Simtoxa adalah konsep resonansi.

Terminologi ini menarik bukan semata lantaran dia baru, tapi lantaran dia secara diam-diam melakukan disrupsi terhadap fondasi epistemologi klasik nan berkutat pada logika korespondensi. Dalam tradisi epistemologi modern, kebenaran lazimnya direduksi sebagai relasi kompatibelitas antara proposisi dan fakta, sebuah regime verifikasi nan mengandaikan bumi sebagai sesuatu nan stabil, eksternal, dan bisa direpresentasikan secara objektif.

Tapi Simtoxa tampak melakukan pergeseran radikal, dari korespondensi menuju resonansi. Artinya, kebenaran tidak lagi didikte oleh keselarasan dengan objek eksternal nan berdiri di luar subjek, melainkan oleh tingkat getaran, keterpanggilan, alias kesenyawaan intensional antara kesadaran dan struktur ontologis keberadaan itu sendiri.

Secara intuitif, saya memandang pendapat ini sarat bakal daya pukau nan begitu kuat. Ia seperti membuka ruang epistemik baru nan tidak direduksi oleh statistik, tidak dipenjarai oleh positivisme, dan tidak simplifikasi oleh kalkulasi empiris. Banyak pengalaman manusia, dalam kenyataannya, memang tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rezim verifikasi empiris, namun tetap terasa “benar” dalam intensitas eksistensial nan susah ditolak.

Cinta. Kesedihan. Keheningan religius. Trauma. Rasa kehilangan. Semua itu acap kali eksis sebagai realitas nan justru lebih “nyata” daripada data, lebih mengguncang daripada angka, lebih meyakinkan daripada tabel statistik nan steril dari getaran eksistensial.

Namun justru di titik inilah problem epistemik Simtoxa mulai mengental dan menjadi tidak sederhana. Karena jika resonansi diposisikan terlalu dekat dengan ranah pengalaman subjektif, dia memasuki medan nan penuh ambiguitas ontologis dan akibat epistemik nan sangat tinggi.

Kita bakal kesulitan dalam membedakan resonansi dari sekadar sugesti. Bagaimana pengalaman nan terasa dalam, pekat, dan otentik dapat dipisahkan dari manipulasi psikologis nan juga bisa memproduksi intensitas serupa? Bagaimana seseorang dapat memastikan bahwa nan dia alami adalah corak ontological disclosure, penyingkapan keberadaan, dan bukan sekadar pengaruh afektif nan diproduksi oleh kondisi psikis, sosial, alias apalagi ideologis?

Inilah pola laten dari seluruh persoalan tradisi epistemologi non-positivistik, ketika kebenaran digeser dari horizon observasi menuju lanskap intensitas pengalaman, maka perangkat validasinya mengalami pelonggaran struktural nan sangat signifikan. Dalam ruang ini, mistisisme juga berbicara dalam bahasa resonansi.

Fanatisme pun menyatakan dirinya beresonansi dengan kebenaran nan absolut. Bahkan konspirasionisme kerap memperkuat justru lantaran dia menghasilkan sensasi “kedalaman makna” nan tidak dapat disentuh oleh penjelasan logis biasa. Sehingga Simtoxa tidak cukup hanya memproyeksikan arsitektur konseptual nan elegan alias sketsa ontologis nan koheren.

Ia dihadapkan pada tuntutan epistemik nan jauh lebih esensial dan lebih keras, kenapa satu jenis resonansi dapat diklaim sah secara ontologis, sementara resonansi lainnya kudu dianggap ilusi, deviasi, alias apalagi distorsi?. Problem itu tetap menggantung sebagai lubang metodologis paling krusial dalam keseluruhan bangunan Simtoxa, sebuah bisul epistemik nan belum mendapatkan terminasi konseptual nan memadai.

Lapisan lain nan perlu diingat adalah, ketika sebuah teori mendeklarasikan dirinya telah melampaui horizon verifikasi sekaligus falsifikasi, maka sebuah kuriositas nan tak lagi dapat dihindari muncul sebagai akibat epistemologis, apakah teori tersebut tetap berhasrat untuk tetap berada dalam rezim sains?

Ataukah, secara subtil, dia justru sedang melakukan regresi menuju wilayah metafisika?hal ini bukan sekadar hiasan intelektual, dia menjadi problematika fundamental, lantaran sejarah modernitas dibangun di atas garis demarkasi nan sangat tegas antara sains dan metafisika.

Sains mendapat legitimasi epistemiknya lantaran dia tunduk pada prosedur, pada metodologi, pada keterulangan serta verifikasi intersubjektif. Metafisika, disisi lain, kehilangan legitimasi institusionalnya lantaran dianggap tidak mempunyai perangkat pengetesan nan operasional dan terukur dalam kerangka positivistik. Tapi ironi terbesar dari modernitas justru bertumpu pada kebenaran bahwa manusia tidak pernah betul-betul bisa hidup di luar metafisika.

Bahkan sains, dalam keheningan ontologisnya nan paling dalam, senantiasa ditopang dalam seperangkat dugaan metafisis nan tidak pernah sepenuhnya dapat diverifikasi, ialah bahwa realitas berkarakter logis dan dapat dipahami. Dan hukum-hukum alam mempunyai konsistensi dan tidak kontradiktif, serta observasi manusia mempunyai validitas epistemik.

Juga logika punya koherensi nan dapat diandalkan sebagai instrumen pengetahuan. Dengan begitu, seluruh gedung pengetahuan manusia pada akhirnya tidak pernah sepenuhnya steril dari residu metafisika nan bekerja secara laten di dalamnya.

Pada titik inilah Simtoxa memperoleh posibilitas genealogisnya. Ia dapat dipandang sebagai corak metafisika kontemporer nan berupaya mengartikulasikan kembali luka-luka hiperrealitas dalam struktur bumi modern nan telah terfragmentasi oleh simulasi. Namun jika Simtoxa tetap berkemauan untuk dikategorikan sebagai metodologi akademik, maka dia tidak bisa usai pada level intuisi spekulatif alias estetika konseptual semata.

Ia kudu membangun suatu arsitektur epistemik nan jauh lebih keras, lebih disiplin, dan lebih terstruktur daripada sekadar simbolisme ontologis. Ia kudu melahirkan prosedur nan dapat direplikasi, sistem pengesahan nan bisa diuji, perangkat kritik internal nan imanen, serta kemungkinan revisi nan terbuka secara sistematis.

Tanpa seluruh perangkat tersebut, Simtoxa bakal senantiasa beredar dalam teritori spekulatif nan cair dan tak terikat. Bukan lantaran dia keliru. Tapi lantaran dia belum mencapai densitas epistemik nan cukup untuk disebut sebagai pengetahuan dalam pengertian ketat.

Namun apalagi jika seperti itu, terdapat suatu kemungkinan nan justru lebih subtil, lebih radikal, dan secara epistemologis lebih “jujur” andaikan Simtoxa tidak lagi diposisikan sebagai substitusi bagi sains, melainkan direkonfigurasi sebagai suatu hermeneutika resonansial.

Dalam khazanah paradigmatik semacam ini, Simtoxa tidak lagi dipaksa untuk berkompetisi dalam gelanggang disiplin nan telah dipadatkan oleh fisika, biologi, alias rezim verifikasi-empiris lainnya. Ia tidak berada dalam logika kejuaraan metodologis, namun memasuki medan lain nan sama sekali berbeda. Saya memproyeksikan sebuah wilayah nan tidak lagi tunduk pada determinasi objek-objek material, melainkan beraksi dalam regim pengalaman keberadaan itu sendiri, the lived ontology of being.

Sebagaimana psikoanalisis Freudian-Lacanian tidak seutuhnya dapat direduksi ke dalam skema falsifikasi Popperian, namun tetap memperkokoh daya usik interpretatifnya terhadap struktur psikis manusia, demikian pula Simtoxa, dalam kemungkinan paling produktifnya, dapat dimutasikan menjadi suatu perangkat hermeneutik untuk menelaah disrupsi ontologis manusia kontemporer nan semakin terfragmentasi dalam medan hiperrealitas kontemporer.

to be continued....

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan