Ini yang Bikin IHSG & Rupiah Kompak Tancap Gas

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026). Keduanya menguat menyusul perjanjian perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nan rencananya ditandatangani dalam waktu dekat hingga akumulasi kebijakan pemerintah.

Berdasarkan info RTI Business, IHSG diketahui menguat 4,12% ke level 6.254,96 pada penutupan perdagangan Senin. Sejalan dengan perihal tersebut, papan perdagangan utama LQ45 juga mencatat penguatan 4,56% ke level 624.682 dengan 603 saham menguat, 125 saham melemah, dan 90 saham stagnan.

Kemudian berasas info Bloomberg, rupiah sukses menguat terhadap dolar AS sebesar 0,85% ke level Rp 17.708 hingga penutupan perdagangan hari ini. Sebelum penutupan perdagangan, rupiah juga sempat menekan dolar AS ke level Rp 17.673,5 alias menguat 1,04% sekitar pukul 11.26 WIB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemicu Penguatan IHSG

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG kuat didorong oleh sentimen global. Sentimen ini utamanya terjadi menyusul kesepakatan tenteram untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran.

Kemudian bursa saham Asia seperti Nikkei 225 Index (N225) juga menguat 4,96% ke level 69.295,39, Hang Seng Index (HSI) juga menguat 0,58% ke level 24.857,22, Shanghai Composite Index (SSEC) juga menguat 0,94% ke level 4.069,21, dan Straits Time Index (STI) menguat 1,07% ke level 5.079,37.

"Penguatan IHSG memang sejatinya dipengaruhi oleh aspek global, sebenarnya lebih dominan dunia ya, lantaran kita lihat di regional pun juga terapresiasi dengan baik," ungkap Nafan kepada detikcom, Senin (15/6/2026).

Nafan mengatakan, perjanjian tenteram ini bakal membuka kembali Selat Hormuz. Menyusul kesepakatan tersebut, dia menyebut nilai minyak bumi terpantau turun apalagi lebih dari 4%. Menurutnya, perihal ini mendorong turunnya kekhawatiran penanammodal mengenai inflasi dunia akibat tekanan dari nilai minyak dunia.

Sementara pada sentimen domestik, Nafan menyebut pasar menyambut baik mengenai pembatalan skema perjanjian bagi hasil (gross split) dan relaksasi RKAB di sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba). Selain itu, pasar juga disebut tengah menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan ini.

"Ini sebelumnya juga sempat memberikan nafas lega bagi market ya sejak pekan nan lalu," imbuhnya.

Sementara itu, indeks saham Garuda sendiri disebut telah berada di bawah nilai wajar alias oversold pada saat menembus level 5.400 beberapa waktu lalu. Kemudian saat ini, IHSG mulai kembali pada fase penguatan nan diketahui telah menguat 18,11% sepanjang perdagangan lima hari terakhir.

"IHSG sendiri memang sudah oversold disaat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound," ungkap Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana.

Meski begitu, Wawan mengingatkan IHSG tetap dibayangi tindakan ambil untuk penanammodal alias keuntungan taking jika terdapat sentimen negatif. Sentimen tersebut dapat berasal dari meningkatnya kembali eskalasi AS-Iran hingga FOMC pekan ini.

Wawan juga tak menampik kenaikan IHSG ditopang oleh kesepakatan tenteram kedua negara tersebut. Kesepakatan itu membuka angan dibuka kembalinya Selat Hormuz dan menurunkan nilai minyak bumi nan dapat menurunkan tekanan subsidi dan fiskal bagi Indonesia.

"Tentu saja dengan kenaikan nan signifikan dalam 1 minggu, sangat mungkin bakal terjadi keuntungan taking jika katalis negatif datang," pungkasnya.

Rupiah Bangkit

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan dua sentimen utama nan mendorong posisi rupiah saat ini. Pertama, respons positif atas perjanjian tenteram antara AS dan Iran nan mendorong turunnya nilai minyak mentah dunia.

Sutopo mengatakan, turunnya nilai minyak mentah bumi menjadi katalis positif krusial bagi Indonesia nan berstatus sebagai net importir. Selain itu, anjloknya nilai minyak juga menurunkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan prospek neraca perdagangan Indonesia.

"Pengumuman dibukanya kembali Selat Hormuz ini secara instan meruntuhkan permintaan Dolar AS sebagai aset safe-haven dan menyeret Indeks Dolar (DXY) turun ke area 99.5," ungkap Sutopo kepada detikcom.

Kedua, sentimen domestik dari langkah Bank Indonesia (BI) nan memutuskan mengerek suku kembang referensi (BI-Rate) sebesar 75 pedoman poin sejak bulan Mei. Kebijakan ini disebut efektif dalam menjaga daya tarik imbal hasil (yield) aset dalam negeri.

Sutopo mengatakan, kenaikan suku kembang referensi ini menjadi fondasi kuat untuk menjaga rupiah. Tanpa kebijakan garang tersebut, rupiah disebut tidak bakal cukup kuat memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar AS.

"Tanpa adanya 'benteng' kenaikan suku kembang nan mendahului kurva (ahead of the curve) ini, Rupiah tidak bakal mempunyai injakan nan cukup kuat untuk memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS secara maksimal seperti nan kita lihat sejak pembukaan pagi tadi," terangnya.

Selain itu, kejelasan izin ekspor juga menjadi sentimen nan menopang penguatan rupiah. Menurutnya, kepastian sentralisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) tidak bakal mengganggu perjanjian komoditas melangkah sukses memulihkan kepercayaan penanammodal asing.

"Alhasil, kombinasi antara meredanya tekanan eksternal dan kuatnya esensial di dalam negeri menciptakan ruang likuiditas nan besar bagi Rupiah untuk mengalami penguatan signifikan hari ini," imbuhnya.

Dihubungi terpisah, Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ruang penguatan rupiah ke level Rp 17.500 terbuka pekan ini. Ruang ini didukung oleh kembalinya penanammodal asing dan kuatnya esensial ekonomi Indonesia.

Keputusan meningkatkan suku kembang referensi juga menjadi momentum bagi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk masuk di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Adapun saat ini yield SBN tenor 10 tahun berada di posisi 7,4%.

"Sangat terbuka sekali (Rp 17.500), lantaran hari ini pun juga kita lihat penguatan sudah 181 point kan. Artinya apa? Bahwa penguatan cukup tajam, kemudian dolar pun terjadi gap down, kemudian nilai minyak pun juga gap down," ungkap Ibrahim.

Di sisi lain, turunnya nilai minyak bumi dan pelemahan indeks dolar AS mendorong penanammodal kembali beranjak ke aset safe haven seperti logam mulia. Ibrahim mengatakan, nilai emas bumi juga mengalami kenaikan seiring turunnya nilai minyak dunia.

Ibrahim mengatakan, pelemahan dolar AS hari ini terjadi nyaris pada seluruh mata duit bumi menyusul kesepakatan tenteram AS dan Iran. Perjanjian tenteram tersebut rencananya bakal dilakukan pada pekan depan.

"Ya, kemungkinan besar ini bakal terus reli, ya kemungkinan besar bakal menuju di level Rp 17.500," pungkasnya.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance