Banyak orang tua merasa cemas ketika bayinya sering gumoh setelah menyusu. Tidak sedikit nan langsung mengira kondisi tersebut merupakan tanda penyakit masam lambung alias GERD. Padahal, gumoh pada bayi belum tentu menandakan adanya masalah kesehatan nan serius.
Menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, Dr Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp.G.H(K), krusial bagi orang tua untuk memahami terlebih dulu perbedaan antara refluks, gumoh, muntah, dan GERD pada bayi.
Apa Itu Refluks, Gumoh, dan GERD?
-Refluks adalah kondisi ketika isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan alias esofagus tanpa adanya upaya dari bayi untuk mengeluarkannya. Ketika cairan tersebut naik hingga ke mulut dan keluar melalui mulut, kondisi ini disebut gumoh alias regurgitasi.
-Gumoh berbeda dengan muntah. Gumoh terjadi secara pasif, sedangkan muntah merupakan proses aktif ketika tubuh berupaya mengeluarkan isi lambung melalui mulut.
-Sementara itu, GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi ketika refluks menimbulkan indikasi nan mengganggu alias menyebabkan komplikasi. Jadi, tidak semua bayi nan gumoh mengalami GERD.
“Sedangkan jika muntah, muntah itu ada upaya aktif dari tubuh untuk mengeluarkan isi lambung tersebut melalui mulut,” ucap dr. Sri dalam aktivitas webinar berbareng IDAI, Selasa (23/6).
Mengapa Bayi Mudah Gumoh?
Menurut dr.Sri, sebagian besar kasus gumoh pada bayi merupakan kondisi nan normal alias fisiologis. Ada beberapa argumen kenapa bayi lebih mudah mengalami gumoh:
1. Katup antara Lambung dan Kerongkongan Belum Matang
Di antara lambung dan kerongkongan terdapat katup nan berfaedah mencegah isi lambung naik kembali. Pada bayi, kegunaan katup ini belum bekerja secara sempurna sehingga cairan dari lambung lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan.
2. Makanan Bayi Berupa Cairan
ASI maupun susu formula berbentuk cair sehingga lebih mudah naik kembali dari lambung ke kerongkongan dibandingkan makanan padat.
3. Lambung dan Kerongkongan Masih Kecil
Kapasitas lambung dan kerongkongan bayi tetap terbatas. Akibatnya, cairan nan naik ke kerongkongan lebih mudah mencapai mulut dan keluar sebagai gumoh.
“Ketika cairan tadi masuk ke dalam esofagus bayi mempunyai kapabilitas kerongkongan nan tetap terbatas. Sehingga ketika ada aliran kembali dari lambung ke esofagus, itu mudah untuk dikeluarkan ke mulut lantaran kapabilitas dari kerongkongan tadi nan tetap terbatas pada bayi,” ucapnya.
4. Bayi Lebih Sering Berbaring
Posisi berebahan nan sering dijalani bayi juga mempermudah terjadinya aliran kembali isi lambung ke kerongkongan.
Ketika cairan tadi masuk ke dalam esofagus bayi mempunyai kapabilitas kerongkongan nan tetap terbatas sehingga ketika ada aliran kembali dari lambung ke esofagus itu mudah untuk dikeluarkan ke mulut lantaran kapabilitas dari kerongkongan tadi nan tetap terbatas pada bayi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·