Ini Penyebab IHSG Anjlok 1,33 Persen ke Level 6.589,34

Sedang Trending 22 jam yang lalu
Warga mengawasi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk pada perdagangan Kamis (10/9). IHSG melemah 88,86 poin alias 1,33 persen ke level 6.589,338.

Tekanan juga terjadi pada indeks saham unggulan. Indeks LQ45 tercatat turun 1,24 persen ke level 655,98.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan IHSG terutama dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan tindakan keuntungan taking pada saham-saham berkapitalisasi besar alias big caps.

“Kalau memandang pergerakan pasar hari ini, koreksi IHSG nan cukup dalam tersebut menurut saya terutama merupakan kombinasi sentimen eksternal dan tindakan keuntungan taking di saham-saham big caps,” kata Nafan kepada kumparan, Kamis (10/9).

Dari sisi global, kenaikan nilai minyak mentah hingga di atas USD 100 per barel akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah jadi salah satu sentimen nan menekan pasar.

Selain itu, yield US Treasury 10 tahun kembali meningkat. Kata Nafan, kondisi ini membikin penanammodal jadi lebih berhati-hati lantaran kenaikan imbal hasil obligasi AS meningkatkan tingkat diskonto terhadap valuasi saham.

Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pelemahan IHSG lebih mencerminkan penyesuaian valuasi terhadap kondisi finansial dunia dibandingkan perubahan esensial ekonomi domestik secara tiba-tiba.

“Menurut saya penurunan IHSG sekitar 1,3 persen hari ini lebih banyak mencerminkan repricing terhadap dunia financial conditions daripada perubahan esensial domestik secara tiba-tiba,” kata Fakhrul kepada kumparan.

Pengunjung memotret layar nan menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Menurut dia, tekanan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga meluas ke sejumlah pasar saham Asia.Fakhrul menyebut ada tiga sentimen utama nan perlu diperhatikan investor.

Pertama, eskalasi geopolitik di Timur Tengah nan mendorong nilai minyak menembus USD 100 per barel. Kedua, kenaikan yield dunia nan meningkatkan discount rate terhadap valuasi saham. Ketiga, potensi shock daya nan mendorong inflasi dan membatasi ruang pelonggaran moneter global.

“Pasar Asia memang melemah hari ini setelah Brent memperkuat di atas USD 100 per barel, sementara yield US Treasury 10 tahun berada sekitar 4,84%, dekat level tertingginya sejak 2023,” ungkap dia.

Meski demikian, katanya, saham-saham komoditas berpotensi relatif lebih bisa memperkuat di tengah tekanan indeks hari ini.

“Karena itu kita bisa memandang divergence. Sebagian saham komoditas mungkin relatif resilient, tetapi pada level indeks, kenaikan minyak, yield dunia dan risk premium tetap membikin penanammodal lebih defensif,” kata Fakhrul.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan