Ilustrasi--Seorang penduduk berinteraksi dengan buaya muara piaraan dengan didampingi pecinta reptil pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Solo, Jawa Tengah Minggu (26/1/2025).(ANTARA/Maulana Surya)
BAGI sebagian besar masyarakat, buaya sering kali dipandang sebagai predator galak nan mengerikan. Namun, di kembali reputasi tersebut, setiap jenis buaya mempunyai karakter unik nan membedakannya satu sama lain. Di Indonesia, dua jenis nan paling terkenal adalah buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya air tawar alias buaya siam (Crocodylus siamensis).
Bertepatan dengan momentum Hari Buaya Sedunia nan diperingati setiap 17 Juni, Pakar dari IPB University, Prof Burhanuddin Masyud, memaparkan perbedaan mendasar antara kedua jenis reptil besar tersebut. Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap perbedaan ini sangat krusial untuk mendukung upaya konservasi.
"Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman jenis buaya nan tinggi. Setidaknya terdapat lima jenis buaya nan telah teridentifikasi, meskipun sejumlah master menyebut jumlahnya bisa lebih banyak," ujar Prof Burhanuddin.
Beda Habitat, Beda Karakter
Perbedaan paling mencolok antara buaya muara dan buaya air tawar terletak pada kediaman dan perilaku alaminya. Buaya muara dikenal sebagai penguasa wilayah pesisir dan perairan payau. Spesies ini mempunyai sifat teritorial nan sangat kuat dan agresif, terutama pada jantan dewasa.
Sebaliknya, buaya air tawar alias buaya siam condong mempunyai sifat nan lebih "pemalu". Mereka lebih banyak menghuni ekosistem rawa dan waduk nan jauh dari pengaruh air laut. Satwa ini biasanya menghindari kontak dengan manusia dan hanya bakal menyerang jika merasa terdesak alias terancam.
Berikut adalah komparasi mendalam antara buaya muara dan buaya air tawar berasas penjelasan Prof Burhanuddin Masyud:
| Habitat Utama | Sungai, muara, pesisir pantai, perairan payau. | Rawa, sungai pedalaman, waduk air tawar. |
| Ukuran Tubuh | Besar (5–7 meter), berat bisa >1 ton. | Kecil (1,5–2,5 meter). |
| Bentuk Moncong | Lebar dan sangat kuat. | Ramping, berbentuk huruf "V". |
| Perilaku | Agresif, dominan, sangat teritorial. | Tenang, pemalu, menghindari manusia. |
| Status IUCN | Least Concern (Risiko Rendah). | Critically Endangered (Kritis). |
Urgensi Konservasi dan Peran Penangkaran
Meskipun keduanya berstatus sebagai satwa dilindungi di Indonesia, tingkat keterancaman mereka di alam liar berbeda secara signifikan. Buaya air tawar saat ini berada dalam kondisi kritis (critically endangered) menurut daftar merah IUCN, nan berfaedah akibat kepunahannya sangat tinggi jika tidak ada intervensi serius.
Prof Burhanuddin menekankan bahwa lembaga konservasi, kebun binatang, dan pusat penangkaran memegang peranan vital dalam menjaga keberlangsungan hidup predator purba ini. Penangkaran bukan sekadar tempat pemeliharaan, melainkan tembok pertahanan plasma nutfah.
"Keberhasilan penangkaran dapat menjadi sistem pendukung krusial bagi konservasi buaya di kediaman alaminya. Selain mengurangi tekanan perburuan liar, penangkaran juga mendukung program pelepasliaran serta pemanfaatan nan berkelanjutan," pungkasnya. (Z-1)
Hari Buaya Sedunia diperingati setiap tanggal 17 Juni untuk meningkatkan kesadaran dunia tentang pentingnya menjaga ekosistem buaya dan aligator di seluruh dunia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·