Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu, hanya beberapa saat sebelum tenggat ultimatum Presiden AS Donald Trump berakhir. Kesepakatan ini membuka ruang diplomasi baru setelah Teheran mengusulkan proposal perdamaian 10 poin.
Gedung Putih menyatakan Israel turut menyetujui jarak bentrok tersebut. Trump menyebut proposal Iran sebagai "dasar nan dapat diterapkan untuk bernegosiasi", meski belum memberikan keputusan akhir.
Isi dan Poin Krusial Proposal
Mengutip media pemerintah Iran, rencana tersebut mencakup sejumlah tuntutan utama, mulai dari pencabutan seluruh hukuman ekonomi, penarikan militer AS dari Timur Tengah, hingga pembebasan aset Iran nan dibekukan.
Poin paling sensitif adalah tuntutan Iran untuk tetap mengontrol Selat Hormuz, ialah jalur vital perdagangan daya dunia. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan jalur pelayaran tetap dibuka dengan pengawasan militer Iran.
Dalam proposal itu, Iran dan Oman juga disebut bakal mengenakan biaya hingga US$2 juta per kapal alias sekitar Rp33.9 miliar, nan bakal digunakan untuk rekonstruksi. Namun, Iran membuka kemungkinan kembali menutup selat jika perundingan gagal.
Selain itu, dalam jenis bahasa Persia, Iran menyisipkan klausul "penerimaan pengayaan" uranium untuk program nuklirnya, meski tidak tercantum dalam jenis bahasa Inggris.
Peluang Disetujui AS
Sejumlah pihak di AS meragukan proposal tersebut dapat diterima sepenuhnya. Senator Demokrat Chris Murphy menilai kontrol Iran atas Selat Hormuz berisiko besar bagi stabilitas global.
"Siapa nan tahu apakah semua itu benar, tetapi jika perjanjian ini memberi Iran kewenangan untuk mengendalikan selat itu, maka itu bakal menjadi musibah bagi dunia," ujarnya, seperti dikutip Guardian, Rabu (8/4/2026).
Trump belum merinci sikapnya, namun menyatakan AS bakal "membantu mengatasi penumpukan lampau lintas di Selat Hormuz". Sejumlah analis menilai tuntutan maksimal Iran kemungkinan hanya bakal menjadi dasar negosiasi, bukan disetujui sepenuhnya.
Sementara itu, pemerintah Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendukung jarak serangan terhadap Iran, tetapi menegaskan bentrok di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan.
Langkah selanjutnya mengarah pada perundingan lanjutan nan dimediasi Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Islamabad. Teheran telah menyatakan siap hadir, sementara Gedung Putih tetap mempertimbangkan partisipasi.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·