Ramai di medsos seorang master gigi, Aprillya Sakila, mengungkap kasus pasien nan mengalami jangkitan setelah menggunakan bahan tambal gigi nan dibeli secara online dan dipasang sendiri di rumah. Kisah tersebut menjadi sorotan setelah ramai dibicarakan di media sosial, Threads.
Salah satu penduduk nan ikut berkomentar di unggahan Sakila turut membagikan pengalamannya menggunakan bahan tambal gigi serupa.
Kepada kumparan, penduduk berjulukan Nafilatul itu bercerita keputusannya menggunakan tambalan tersebut berasal dari trauma untuk pergi ke master gigi.
Nafilatul mengatakan trauma tersebut membuatnya mencari pengganti untuk mengatasi gigi berlubang nan semakin besar. Ia kemudian menemukan produk tambal gigi melalui mesin pencarian dan sebuah platform e-commerce.
“Saya ada trauma untuk pergi ke master gigi. Akhirnya saya mencari pengganti lain gimana menutup lubang di gigi saya lantaran semakin besar, semakin besar,” kata Nafilatul kepada kumparan, Selasa (1/9).
Ia mengaku semakin tertarik setelah memandang produk tersebut mempunyai banyak pembeli dan mendapat penilaian bagus. Ia juga menemukan info bahwa bahan tersebut disebut direkomendasikan oleh dokter.
“Jadi saya klik, saya lihat, saya cari-cari info dan katanya direkomendasikan master dan bintangnya bagus dan pembelinya banyak. Dan saya pun mulai tertarik,” ujarnya.
Menurut Nafilatul, dia memilih produk tersebut lantaran menganggap penggunaannya lebih sigap dan murah dibandingkan pergi ke master gigi. Ia juga memandang produk serupa digunakan oleh orang lain di media sosial.
“Mengapa akhirnya saya memutuskan menggunakan itu lantaran itu efektif, lebih cepat, dan menurut saya juga aman,” katanya.
Namun, setelah digunakan, Nafilatul kesulitan melepas bahan tersebut. Beberapa waktu kemudian, dia mengalami sakit dan kaku pada bagian leher hingga kesulitan menoleh dan menelan. Akhirnya dia memutuskan untuk ke UGD.
“Semakin hari kok leher saya semakin sakit, buat pusing, berat, leher juga rasanya kaku, tidak bisa menelan. Akhirnya saya ke UGD,” tuturnya.
Di UGD, Nafilatul sempat diduga mengalami meningitis alias radang otot. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan di puskesmas, dia dinyatakan mengalami radang otot.
Setelah kondisinya membaik, Nafilatul mendatangi poli gigi untuk melepas bahan tersebut. Prosesnya cukup susah lantaran bahan kudu dibor hingga akhirnya dapat dikeluarkan dan dibersihkan.
Ia kemudian menjalani enam kali kontrol gigi hingga lubang pada giginya dapat ditangani. Pengalaman tersebut membuatnya jera dan mulai berani memeriksakan gigi secara rutin.
“Saya sudah jera banget sama rasa sakitnya itu rasanya kayak leher ini rasanya panas, nyeri, sampai di kepala. Makanya saya ya udahlah daripada saya kesakitan terus di rumah, berkepanjangan saya mau berobat lagi,” katanya.
Respons Dokter Sakila soal Trauma ke Dokter Gigi
Sakila mengatakan trauma terhadap master gigi memang dapat membikin seseorang enggan menjalani perawatan. Namun, dia meminta pasien tidak menyerah ketika merasa tidak cocok dengan seorang dokter.
“Memang master itu kan cocok-cocokan ya. Kita mencari pengobatan itu juga cocok-cocokan, entah cocok-cocokan treatment plan-nya, cocok dengan dokternya alias tidak, komunikasinya cocok alias tidak,” kata Sakila.
Menurutnya, pasien nan mempunyai trauma dapat mencari master gigi lain nan dirasa lebih nyaman, baik dari sisi komunikasi maupun rencana perawatan.
“Jadi memang jangan begitu berjumpa satu master gigi dan Anda enggak cocok jangan berputus asa, coba cari lagi nan sekiranya memang komunikasinya dan treatment plan-nya bisa Anda terima,” ujarnya.
Sakila pun menegaskan masalah pada rongga mulut tetap sebaiknya ditangani oleh tenaga profesional.
“Jadi tetap apa pun masalah Anda nan ada di dalam rongga mulut jangan datang ke mana-mana selain master gigi,” katanya.
11 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·