ilustrasi inflasi.(MI)
DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memperkirakan inflasi Indonesia pada September 2026 berada pada kisaran 0,1–0,2% secara bulanan, relatif serupa dengan Agustus.
“Kalau inflasi di September saya pikir tetap kurang lebih sama dengan Agustus. September itu mungkin antara 0,1 sampai 0,2%,” kata Faisal kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (2/9).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,19% secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara tahun kalender, inflasi hingga Agustus tercatat 1,86%.
Menurut Faisal, sumber tekanan inflasi pada September diperkirakan relatif serupa dengan bulan sebelumnya dengan pangan menjadi aspek utama nan perlu diperhatikan.
Ia menilai kondisi cuaca kering akibat El Nino berpotensi mengganggu produksi sejumlah komoditas pangan dan pada akhirnya memengaruhi pasokan. “Sejumlah bahan pangan sepertinya di bulan September lantaran kita mengalami El Nino ini, jadi kemungkinan juga bakal ada constraints dalam perihal produksi lantaran musim panas nan kering dan mempengaruhi sejumlah komoditas pangan,” ujarnya.
Bank Indonesia (BI) mencatat golongan pangan bergolak (volatile food) mengalami inflasi 0,88% secara bulanan pada Agustus 2026, berbalik dari deflasi 1,68% pada Juli. Inflasi terutama disumbang daging ayam ras, cabe rawit, dan beras.
Secara tahunan, inflasi golongan pangan bergolak pada Agustus mencapai 4,06%, meningkat dari 2,52% pada bulan sebelumnya. Selain pangan, Faisal memperhitungkan akibat penyesuaian nilai sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamina nan bertindak mulai awal September.
PT Pertamina Patra Niaga meningkatkan nilai Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mulai 1 September 2026. Namun, Faisal memperkirakan pengaruh penyesuaian tersebut terhadap inflasi September relatif mini lantaran jenis BBM nan mengalami kenaikan mempunyai porsi pengguna nan lebih terbatas.
“Tapi jika berbincang dampaknya terhadap inflasi tetap ada, walaupun relatif kecil,” ungkapnya.
Dengan proyeksi inflasi 0,1–0,2%, Faisal menilai tekanan nilai pada September tetap berada di bawah periode nan secara musiman condong mencatat inflasi lebih tinggi, ialah Lebaran serta Natal dan Tahun Baru.
Ia mengatakan inflasi pada Agustus, September, dan Oktober secara historis condong relatif rendah, meskipun perkembangan inflasi pada bulan-bulan tersebut tahun ini dinilai lebih tinggi dibandingkan pola beberapa tahun sebelumnya.
Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Faisal menilai pemerintah perlu memprioritaskan penanganan gangguan pada produksi pangan sekaligus memastikan rantai pasok melangkah lancar.
“Ke depannya nan perlu diperhatikan tetap adalah masalah inflasi di pangan lantaran gangguan dari sisi produksi, ada aspek cuaca juga,” ucap Faisal.
Menurutnya, konsentrasi pemerintah perlu diarahkan pada pencegahan disrupsi produksi dan rantai pasok agar tekanan pada pasokan tidak berkembang menjadi kenaikan nilai nan lebih luas.
Dari sisi kebijakan, BI memprakirakan inflasi pangan bergolak tetap terkendali dengan support sinergi berbareng pemerintah pusat dan wilayah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) serta Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Adapun sasaran inflasi 2026 nan ditetapkan pemerintah sebesar 2,5% dengan deviasi 1%. Dengan inflasi tahunan Agustus sebesar 3,19%, inflasi Indonesia tetap berada dalam rentang sasaran tersebut. (Ant/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·