Inflasi Myanmar melonjak hingga 25 persen lantaran guncangan perang di Timur Tengah akibat perang AS-Iran memperparah akibat perang kerabat di sana. Hal ini disampaikan Bank Dunia pada Selasa (16/6).
Dikutip dari Bloomberg, Bank Dunia juga memangkas perkiraan pertumbuhan Myanmar untuk tahun fiskal nan dimulai pada April 2026.
"Dengan argumen lingkungan eksternal nan kurang menguntungkan," kata Bank Dunia dalam pernyataannya.
Myanmar telah terperangkap dalam perang kerabat sejak militer merebut kekuasaan dalam kudeta pada 2021, menjerumuskannya ke dalam separuh dasawarsa ketidakstabilan dan kemunduran menuju kemiskinan bagi lebih dari 50 juta warganya.
Menurut nomor resmi, Myanmar juga mengimpor 90 persen bahan bakarnya, sehingga sangat rentan terhadap penutupan Selat Hormuz sejak perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Menurut laporan dua tahunan Bank Dunia tentang Pemantau Ekonomi Myanmar, kondisi tersebut menyebabkan inflasi mencapai 24,6 persen secara tahunan pada April. Para pejabat juga memangkas prospek pertumbuhan ekonomi 2026-2027 menjadi dua persen, dari tiga persen nan diperkirakan sebelumnya.
"Ekonomi Myanmar stabil pada tingkat rendah, tapi guncangan bahan bakar nan baru memperbesar kelemahan struktural dan membikin prospek nan sangat rentan terhadap gangguan lebih lanjut," kata Bank Dunia.
"Guncangan (harga) bahan bakar telah memicu kembali tekanan inflasi," kata ahli ekonomi senior, Kemoh Mansaray, kepada wartawan.
"Ini berfaedah daya beli rumah tangga telah menurun, dan rumah tangga telah menghadapi persediaan nan sangat tipis dengan tingkat kemiskinan nan tinggi," lanjutnya.
Inflasi selama 12 bulan hingga akhir Maret mencapai 21,1 persen. Bank Dunia juga melaporkan tingkat kemiskinan pada 2025 mencapai 29,9 persen, tetap jauh di atas tren pada 2021.
"Karena kami kesulitan hanya untuk membeli makanan, ada anak-anak nan tidak dapat kami sekolahkan," kata seorang ayah berumur 28 tahun di Yangon, nan namanya tidak mau disebutkan.
"Kami mempunyai tiga anak usia sekolah di rumah," tuturnya.
Seorang pemilik toko di Yangon juga mengeluh bahwa kenaikan nilai telah melumpuhkan upaya dan keluarganya.
"Pendapatan dan pengeluaran kami tidak seimbang. Kami hanya memperkuat hidup dari hari ke hari," katanya.
"Harga hanya naik, tidak pernah turun. Sekarang berapa pun penghasilan kami, jumlahnya tetap tidak cukup," katanya lagi.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Selat Hormuz bakal sepenuhnya dibuka setelah Washington dan Teheran sepakat untuk mengakhiri perang. Trump mengeklaim Selat Hormuz bakal sepenuhnya dibuka pada Jumat (19/6).
Namun, analis memperingatkan pemulihan ekonomi dari perang AS-Iran bakal jadi proses nan panjang.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·