Laju inflasi AS melonjak tajam menyusul bentrok dengan Iran. Di tengah tekanan ekonomi warga, Presiden Donald Trump justru melontarkan pernyataan mengejutkan.(White House)
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan mengaku dirinya "menyukai inflasi" nan saat ini sedang melanda negaranya. Pernyataan tersebut dilontarkan tepat setelah harga-harga peralatan pada bulan Mei mencatat lonjakan tercepat dalam tiga tahun terakhir.
Saat dimintai tanggapan mengenai info Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) nan menunjukkan indeks nilai konsumen naik sebesar 4,2% dari tahun sebelumnya, Trump justru menyebut info tersebut luar biasa. Lonjakan dari nomor 3,8% pada April ini sebagian besar didorong oleh meroketnya biaya daya akibat bentrok bersenjata antara AS-Israel dengan Iran.
"Saya menyukainya. Angka-angka itu bagus. Anda tahu apa nan sangat saya sukai? Saya menyukai inflasi," ujar Trump saat berbincang di Gedung Putih.
Trump menyatakan pasukan militer AS telah melancarkan operasi malam hari untuk menyita jutaan barel minyak dari Iran demi menekan nilai minyak mentah dunia. Kendati demikian, nilai minyak patokan global, Brent crude, terpantau tetap diperdagangkan jauh lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang.
Dampak Nyata Konflik Terhadap Harga Bensin
Berdasarkan info organisasi otomotif AAA, nilai rata-rata satu galon bensin reguler di AS sekarang menyentuh US$4,15. Angka ini naik tajam dari posisi US$2,98 pada 28 Februari, ketika serangan pertama ke Iran diluncurkan. Lonjakan ini dipicu tindakan Iran nan menutup jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, nan mengganggu pasokan seperlima minyak dan gas dunia.
Mei menjadi bulan ketiga berturut-turut bagi kenaikan Indeks Harga Konsumen (CPI) di AS. Kenaikan inflasi ini diprediksi bakal menyulitkan posisi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela (midterm) pada November mendatang. Apalagi, Trump sebelumnya sempat berjanji bakal menjadikan pemotongan inflasi sebagai agenda utamanya.
Meskipun begitu, Trump menegaskan prioritas utamanya saat ini adalah masalah keamanan global. "Kita tidak boleh membiarkan Iran mempunyai senjata nuklir, itu saja," tegas Trump mengenai biaya hidup penduduk Amerika di tengah situasi perang.
Ia juga berjanji bahwa inflasi bakal segera melorot tajam begitu bentrok bersenjata berakhir. "Ketika bentrok ini selesai... Anda bakal memandang minyak turun ke tingkat sebelumnya," tambah Trump di hadapan para jurnalis.
Tekanan Bagi Bank Sentral AS
Tingginya nomor inflasi nan berada jauh di atas sasaran jangka panjang Federal Reserve sebesar 2% ini menjadi tantangan berat bagi Gubernur baru The Fed, Kevin Warsh. Dewan gubernur bank sentral biasanya bakal meningkatkan suku kembang untuk meredam shopping publik dan mengendalikan nilai jika inflasi tak kunjung turun.
Saat ini, para ahli ekonomi memproyeksikan suku kembang referensi AS bakal memperkuat di level 3,5% hingga 3,75% untuk bulan depan. Namun, mereka memperingatkan bahwa info ekonomi terbaru ini bisa saja memaksa The Fed mengambil langkah garang dengan meningkatkan suku kembang jika inflasi terus membandel. (BBC/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·