Jakarta -
Market Overview
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (14/9) berhujung dengan IHSG turun tipis 0,10% ke level 6.534,69.
Sejumlah saham menjadi penopang pergerakan indeks. BBRI naik 3,98%, BBCA menguat 2,77%, dan AMMN bertambah 4,94%. Sebaliknya, BYAN terkoreksi 10,12%, EMAS turun 12,00%, sedangkan SRAJ melemah 10,26%.
Aktivitas penanammodal asing tetap mencatatkan net sell. Di pasar reguler, nilai jual bersih asing mencapai Rp330,69 miliar, sedangkan jika dihitung di seluruh pasar mencapai Rp337,44 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari 11 sektor nan diperdagangkan, sebanyak 9 sektor berhujung melemah. Sektor Health menjadi nan mengalami koreksi paling dalam, ialah 2,95%. Sementara sektor Finance menjadi satu-satunya sektor dengan penguatan tertinggi sebesar 0,55%.
Pergerakan serupa juga terlihat di bursa saham Amerika Serikat. Dow Jones turun 0,29% ke 52.424, S&P 500 melemah 0,48% ke 7.619, dan Nasdaq terkoreksi 0,56% ke 26.186.
Di dalam negeri, perubahan konstituen GDX turut menjadi perhatian. AMMN tercatat masuk sebagai konstituen GDX dan sahamnya naik 4,94%, dengan potensi aliran biaya asing sekitar Rp717 miliar. BRMS juga masuk dalam GDX dan GDXJ, kemudian bergerak naik 8,15% dengan potensi foreign inflow sekitar Rp521 miliar. Sementara EMAS turun 12,00% seiring potensi outflow sekitar Rp277 miliar.
Pada perdagangan nan sama, ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing mencatat kenaikan 1,33% dan 2,80%.
Berita Emiten
Sinergi Inti Andalan Prima (INET)
INET mencatat perubahan keahlian nan signifikan pada semester I 2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp926,45 miliar, melonjak 1.958,68% dibandingkan Rp45 miliar pada periode nan sama tahun lalu.
Kinerja tersebut juga tercermin pada untung bruto nan naik 627,53% secara tahunan menjadi Rp122,11 miliar. Sementara untung bersih tercatat Rp33,67 miliar, meningkat 340,01% YoY dari Rp7,65 miliar pada 1H25.
Peningkatan pendapatan terutama berasal dari konsolidasi perusahaan hasil akuisisi. Salah satunya Personel Alih Daya (PADA), nan mulai dikonsolidasikan sejak 31 Januari 2026 dan memberikan kontribusi Rp782,87 miliar alias sekitar 84,5% terhadap total pendapatan INET.
Selain upaya alih daya, INET juga melakukan ekspansi di sektor jasa internet melalui akuisisi penyedia internet, termasuk THC nan beraksi di Kalimantan.
Namun, perubahan komposisi upaya tersebut turut memengaruhi margin bruto perseroan. Masuknya jasa padat karya dengan margin nan lebih rendah membikin margin bruto INET turun dari 37,3% pada periode sebelumnya menjadi 13,2%.
Untuk mendukung ekspansi, INET sebelumnya menghimpun biaya melalui rights issue senilai Rp3,20 triliun serta publikasi Obligasi dan Sukuk dengan nilai hingga Rp1 triliun.
Sejalan dengan ekspansi dan tindakan korporasi tersebut, total aset INET pada 1H26 mencapai Rp6,11 triliun, dibandingkan Rp760,37 miliar pada FY25. Kas dan setara kas meningkat menjadi Rp4,34 triliun dari Rp404,44 miliar.
Pada periode nan sama, liabilitas tercatat Rp2,30 triliun, naik dari Rp331,16 miliar pada FY25. Ekuitas juga bertambah menjadi Rp3,81 triliun dari Rp429,21 miliar.
Indika Energy (INDY)
INDY terus mengembangkan lini kendaraan listrik sebagai bagian dari diversifikasi upaya di luar batu bara. Pengembangan tersebut dilakukan melalui tiga entitas dengan konsentrasi nan berbeda.
ALVA menangani segmen motor listrik. Sementara Ilectra Motor Group/Invi menggarap pengedaran bus dan truk listrik untuk kebutuhan sektor industri serta pertambangan. Adapun KALISTA bergerak di kendaraan komersial melalui model fleet as a service.
Hingga September 2026, ALVA telah mendistribusikan 20.000 unit motor listrik. Jumlah tersebut sudah dua kali lipat dibandingkan pengedaran sepanjang FY25 nan mencapai 10.000 unit.
Di segmen kendaraan komersial, KALISTA saat ini mengelola 101 unit bus listrik dan telah mengoperasikan 225 charging station di 120 lokasi.
INDY selanjutnya mengarahkan pengembangan kendaraan listrik ke penggunaan komersial, termasuk sektor pertambangan. Perseroan juga membuka kesempatan pengembangan pendapatan berulang melalui beragam jasa pendukung kendaraan listrik.
Dari laporan finansial 1H26, INDY membukukan pendapatan US$1,15 miliar. Angka ini meningkat 19,87% dibandingkan US$956,82 juta pada 1H25.
Laba bersih perseroan juga naik 354,30% secara tahunan menjadi US$10,20 juta dari US$2,24 juta.
Trimegah Karya Pratama (UVCR)
UVCR mengakhiri program pembelian kembali saham alias buyback 2026 setelah realisasi pembelian mencapai sasaran nan telah ditetapkan. Informasi tersebut tercatat dengan tanggal kejadian 11 September.
Dalam penyelenggaraan program tersebut, UVCR telah membeli kembali 9,60 juta saham alias sekitar 0,48% dari seluruh saham perseroan nan tercatat di BEI.
Dana nan digunakan untuk tindakan tersebut mencapai Rp1,50 miliar dengan nilai perolehan rata-rata Rp156 per saham.
Pembelian dilakukan selama dua hari perdagangan. Pada 10 September, UVCR membeli 3,84 juta saham dengan nilai rata-rata Rp159 per saham. Kemudian pada 11 September, perseroan kembali membeli 5,76 juta saham dengan nilai rata-rata Rp153 per saham.
Rekomendasi Saham Hari Ini
TLKM - Buy 2670-2690 | TP 2720-2770 | SL 2540
BRMS - Buy 715-725 | TP 740-755 | SL 680
PGAS - Buy 1540-1550 | TP 1570-1580 | SL 1480
COCO - Buy 138-140 | TP 143-146 | SL 131
SOFA - Buy 364-370 | TP 376-382 | SL 346
Disclaimer: Ingat, bahwa segala kajian dan rekomendasi saham dalam tulisan ini berkarakter informatif sekaligus bukan merupakan rayuan untuk membeli alias menjual saham tertentu.
(ang/ang)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·