Pusat Peradaban Islam (Center for Islamic Civilization/CIC) nan didirikan di Tashkent, ibu kota Uzbekistan.(Center for Islamic Civilization)
Pemerintah Indonesia mendorong ekspansi kerja sama dengan Uzbekistan, terutama di bagian keagamaan, pendidikan, dan wisata religi. Kedekatan sejarah serta tradisi keilmuan Islam dinilai menjadi modal krusial untuk mempererat hubungan kedua negara.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochammad Irfan Yusuf menyampaikan perihal tersebut saat berjumpa Wakil Gubernur Bukhara Botirjon Shahriyorov di Bukhara, Uzbekistan, Senin (7/9). Menurut Irfan, Bukhara dan Samarkand mempunyai kedudukan unik bagi masyarakat Indonesia. Kedua kota tersebut dikenal sebagai pusat perkembangan peradaban dan pengetahuan pengetahuan Islam nan melahirkan banyak ustadz dengan pemikiran serta karya nan berpengaruh hingga ke Tanah Air.
"Bukhara dan Samarkand mempunyai tempat tersendiri di masyarakat Indonesia. Banyak tokoh nan datang dari wilayah ini nan dikenal di Indonesia," kata Menhaj.
Irfan menilai hubungan historis tersebut dapat dikembangkan menjadi kerja sama nan lebih konkret. Kolaborasi tidak hanya dapat dilakukan di tingkat pemerintahan, tetapi juga melalui pertukaran pengetahuan, hubungan antarlembaga keagamaan, hingga pengembangan lokasi wisata nan mengangkat sejarah peradaban Islam.
Peluang tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Uzbekistan. Wakil Gubernur Bukhara, Botirjon Shahriyorov menyatakan pihaknya mengapresiasi hubungan nan telah terjalin dengan Indonesia dan berambisi kerja sama kedua negara semakin erat.
"Kami sangat senang hubungan antara Indonesia dan Uzbekistan telah terjalin dengan baik. Kami berambisi hubungan ini terus bersambung dan semakin kuat," ujar Botirjon.
Botirjon juga menyoroti potensi Bukhara sebagai salah satu wilayah nan mempunyai kekayaan sejarah dan tradisi pendidikan Islam. Kota tersebut sejak dulu dikenal sebagai pusat keilmuan dengan keberadaan madrasah nan menjadi tempat belajar ustadz dari beragam daerah, termasuk dari luar Uzbekistan.
Dalam pertemuan itu, Imam Besar Bukhara turut menjelaskan kekayaan sejarah kota tersebut. Menurutnya, peninggalan arsitektur nan telah berumur lebih dari seribu tahun serta tradisi keilmuan menjadi bagian krusial dari identitas Bukhara.
"Bukhara mempunyai seni arsitektur nan berumur lebih dari 1.000 tahun. Selain itu, kebanggaan Bukhara ada pada tradisi keilmuan. Madrasah-madrasah di Bukhara banyak mendidik ustadz lokal dan mancanegara," ucapnya.
Ia juga mengapresiasi perhatian masyarakat Indonesia terhadap Uzbekistan, khususnya terhadap warisan intelektual dan sejarah Islam nan berkembang di Bukhara. Wisata religi antara Indonesia dan Uzbekistan dinilai tidak sebatas perjalanan spiritual, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan sejarah, pengetahuan pengetahuan, dan warisan peradaban Islam.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari langkah Kementerian Haji dan Umrah dalam memperluas jejaring kerja sama internasional. Hubungan Indonesia dan Uzbekistan diharapkan dapat berkembang dari hubungan diplomatik menjadi kerjasama nan memberikan faedah langsung bagi masyarakat kedua negara. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·