Indonesia Uji Misi 100 Hari Vaksin Antisipasi Pandemi Baru

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Indonesia Uji Misi 100 Hari Vaksin Antisipasi Pandemi Baru ilustrasi(Antara)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berbareng Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menggelar simulasi kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi baru di Jakarta pada Selasa (3/9). Melalui Tabletop Exercise (TTX) berjudul Misi 100 Hari, pemerintah menguji kecepatan respons nasional dalam pengembangan dan produksi vaksin dalam waktu 100 hari sejak patogen baru teridentifikasi.

Simulasi nan berjalan selama dua hari tersebut melibatkan lebih dari 120 master dari unsur kementerian/lembaga, akademisi, industri, lembaga penelitian, hingga otoritas regulasi. Para peserta membedah skenario fiktif pandemi "Nipah-X", sebuah patogen mutasi mematikan nan ditularkan dari hewan ternak ke manusia dan berpotensi menular antarmanusia secara cepat.

Investasi Kesehatan Setara Pertahanan Negara

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi pandemi kudu dipandang setara dengan investasi pertahanan negara. Ia merujuk pada sejarah di mana pandemi penyakit bisa melumpuhkan populasi dunia lebih parah dibandingkan bentrok bersenjata.

“Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II. Karena itu, kita kudu berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Budi, Jumat (4/9).

Misi 100 Hari merupakan sasaran ambisius dunia untuk memangkas waktu pengembangan vaksin agar respons awal dapat mencegah penyebaran penyakit lebih luas. Indonesia sekarang tengah mengintegrasikan ekosistem penemuan dini, mulai dari pengembangan perangkat uji sigap portabel (Point-of-Care Testing/POCT) di jasa primer hingga peningkatan kapabilitas sekuensing genom di beragam daerah.

Kemandirian Produksi dan Peran Strategis

Dari sisi manufaktur, pemerintah menggandeng produsen vaksin nasional seperti PT Bio Farma, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan PT Biotis Pharmaceuticals untuk memastikan kesiapan produksi massal saat pandemi terjadi.

Direktur Utama CEPI, Dr. Richard Hatchett, menilai Indonesia mempunyai peran vital dalam ketahanan kesehatan regional. Kemajuan riset, manufaktur, dan sistem izin di Indonesia dianggap mumpuni untuk mendukung sasaran dunia ini.

“Indonesia adalah mitra strategis CEPI. Latihan simulasi seperti ini membantu membangun hubungan dan kesiapan operasional, serta mengidentifikasi celah nan kudu ditutup agar respons terhadap pandemi berikutnya bisa jauh lebih cepat,” kata Hatchett.

Jaminan Keamanan dari BPOM

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menjamin bahwa percepatan penemuan vaksin darurat tidak bakal mengorbankan standar keselamatan pasien. BPOM saat ini tengah mematangkan skema persetujuan bersyarat guna melengkapi sistem Emergency Use Authorization (EUA).

“Percepatan penemuan tetap kudu melangkah seiring dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan khasiat. Percepatan tidak boleh berfaedah berdiskusi terhadap standar tersebut,” tegas Taruna.

Info Tambahan: Simulasi Misi 100 Hari ini menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga di bumi setelah Korea Selatan dan Rwanda nan menguji langsung rantai respons pandeminya secara menyeluruh berbareng CEPI, mencakup biosurveilans hingga pengedaran logistik medis.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia