Indonesia Perkuat Aliansi Negara Produsen Sawit

Sedang Trending 7 jam yang lalu
Indonesia Perkuat Aliansi Negara Produsen Sawit Ilustrasi industri produsen kelapa sawit.(Dok. MI)

INDONESIA mempunyai kepentingan strategis untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara produsen kelapa sawit guna meningkatkan posisi tawar, menjaga akses pasar, dan menghadapi beragam halangan perdagangan di pasar global.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan penguatan aliansi dengan negara-negara produsen sawit menjadi langkah strategis bagi Indonesia mengingat kelapa sawit merupakan salah satu komoditas utama penyumbang devisa nasional.

“Indonesia perlu membangun aliansi dengan negara produsen lain guna memperkuat posisi tawar, menjaga akses pasar, menghadapi halangan perdagangan, dan menjaga stabilitas pasar sawit global,” katanya di Jakarta, Rabu (26/8).

Ia mengusulkan agar Indonesia mengoptimalkan peran Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) alias Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit sebagai wadah untuk menyuarakan kepentingan berbareng sekaligus memperkuat posisi komoditas sawit dalam perdagangan global.

Ia berambisi penguatan peran CPOPC dapat menghasilkan langkah berbareng dalam beragam aspek mulai dari diplomasi perdagangan, penguatan prinsip keberlanjutan, promosi sawit, pengembangan pasar, hingga riset dan inovasi.

“Ini krusial lantaran ekspor sawit Indonesia berbobot lebih dari US$20 miliar per tahun dan mempunyai kontribusi signifikan terhadap devisa nasional,” ujarnya.

Saleh Husin memandang bahwa pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah cukup optimal dalam memperkuat kerja sama dengan negara-negara produsen sawit di tingkat global.

Meski demikian, dia mendorong BPDP untuk meningkatkan peran sebagai katalisator kerja sama internasional dengan mengoptimalkan sumber daya nan berasal dari sektor sawit untuk mendukung beragam agenda strategis.

“Dengan demikian, Indonesia bisa memperkuat posisi tawar dalam tata kelola sawit dunia dan mengamankan sumber devisa nasional dalam jangka panjang,” sebutnya.

Adapun, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) CPOPC, Musdhalifah Machmud, memastikan pihaknya terus memperkuat pembelaan sektor sawit di tingkat dunia sekaligus menyuarakan beragam rumor strategis nan berangkaian dengan kepentingan petani dan pelaku industri sawit.

Ia mengatakan CPOPC juga menargetkan terciptanya kepastian akses pasar nan stabil bagi negara-negara personil serta peningkatan persepsi positif masyarakat dunia terhadap komoditas sawit. Upaya tersebut dilakukan melalui beragam corak kerja sama dan forum obrolan tingkat tinggi nan melibatkan perwakilan pemerintah, institusi, serta organisasi dari beragam sektor.

“Selain itu, CPOPC terus mengadvokasikan terimplementasinya sistem keberlanjutan di taraf internasional baik untuk mendorong negara produsen sawit maupun meningkatkan keberterimaan negara konsumen terhadap standar keberlanjutan nan sudah diimplementasikan di negara-negara produsen sawit,” ujarnya.

Musdhalifah Machmud menambahkan, CPOPC juga terus melakukan edukasi dan memperluas penyebaran info mengenai faedah kelapa sawit nan berbasis pada sains, fakta, dan data.

Selain itu, CPOPC mendorong keterlibatan generasi muda khususnya nan mempunyai latar belakang sektor sawit untuk turut menyebarluaskan info positif mengenai kelapa sawit melalui program Young Elaeis Ambassadors. Sejak tahun 2023, CPOPC telah bekerja sama dengan 23 anak muda dari beragam negara produsen dan konsumen sawit sebagai bagian dari program tersebut.

“CPOPC menyadari bahwa anak muda saat ini mempunyai pengaruh kuat melalui media sosial. Anak muda juga mempunyai kesukaan tinggi mengenai isu-isu sosial dan progresif, termasuk dalam perihal lingkungan hidup,” pungkasnya. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia