Persidangan Ke-19 Sekretariat Bersama (Sekber) KK/JKK Sosek Malindo Tahun 2026(Kemendagri)
Kawasan perbatasan tidak hanya menjadi penanda pemisah wilayah negara, tetapi juga ruang hidup bagi jutaan masyarakat nan menggantungkan aktivitas sosial dan ekonomi sehari-hari pada hubungan lintas batas. Karena itu, penguatan kerja sama antara Indonesia dan Malaysia terus menjadi kebutuhan krusial untuk memastikan pembangunan di wilayah perbatasan melangkah lebih inklusif dan memberi faedah nyata bagi warga.
Semangat tersebut menjadi landasan penyelenggaraan Persidangan Ke-19 Sekretariat Bersama (Sekber) KK/JKK Sosek Malindo Tahun 2026 nan digelar Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat Kawasan, Perkotaan, dan Batas Negara (Waskoban) di Bandung, Rabu (10/6).
Sosek Malindo merupakan forum kerja sama sosial ekonomi Indonesia dan Malaysia nan telah berjalan selama puluhan tahun. Forum ini menjadi wadah strategis bagi kedua negara untuk membangun sinergi pembangunan area perbatasan sekaligus mempererat hubungan masyarakat nan selama ini mempunyai kedekatan historis, budaya, dan ekonomi.
Persidangan dipimpin Direktur Kawasan, Perkotaan dan Batas Negara Ditjen Bina Adwil Kemendagri, Amran, selaku Ketua Sekretariat KK Sosek Indonesia. Sementara delegasi Malaysia dipimpin Mohamad Badrie Bin Abdul Rahim, Pengarah Bahagian Pengurusan Sempadan Darat Majlis Keselamatan Negara Malaysia sekaligus Ketua Sekretariat JKK Sosek Malaysia.
Menurut Amran, forum Sekber mempunyai peran krusial dalam mengidentifikasi beragam persoalan dan kesempatan pembangunan area perbatasan nan nantinya bakal dibahas lebih lanjut pada tingkat teknis maupun forum kerja sama tingkat pusat.
“Persidangan Sekretariat Bersama ini mempunyai peran krusial bagi kedua negara dalam membahas isu-isu strategis sosial ekonomi di area perbatasan nan nantinya bakal dibahas lebih mendalam pada pertemuan Tim Teknik di tingkat Provinsi-Negeri dan dalam rangka mempersiapkan Sosek Malindo tingkat pusat,” ujarnya.
Selain membahas beragam agenda kerja sama, pertemuan tahun ini juga menjadi momentum transisi kepemimpinan di pihak Malaysia. Mohamad Badrie Bin Abdul Rahim secara resmi mengemban tugas sebagai Ketua Sekretariat JKK Sosek Malaysia nan baru menggantikan Azizah Binti Mohamed Said. Pemerintah Indonesia turut menyampaikan apresiasi atas kontribusi Azizah dalam memperkuat kerja sama sosial ekonomi area perbatasan selama masa kepemimpinannya.
Persidangan berjalan dalam momentum nan strategis setelah kedua negara sukses menggelar Pertemuan Ke-17 Joint Commission on Bilateral Cooperation (JCBC) Indonesia-Malaysia pada 3 Juni 2026 di Jakarta. Pertemuan tersebut diharapkan semakin memperkuat arah kerja sama bilateral nan lebih komprehensif, termasuk pada sektor pembangunan area perbatasan.
Sejumlah rumor strategis menjadi konsentrasi pembahasan dalam persidangan kali ini. Salah satunya adalah rencana operasionalisasi Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk di Kalimantan Barat nan dalam waktu dekat bakal memasuki tahap soft launching. Kehadiran pos lintas pemisah tersebut diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi lintas negara secara lebih tertata.
Selain itu, kedua negara juga membahas revisi Terms of Reference (TOR) KK/JKK SOSEK MALINDO sebagai tindak lanjut pengarahan Pertemuan Ke-18 High Level Committee (HLC) Malindo tahun 2025. Pembaruan kerangka kerja tersebut dinilai krusial agar program-program kerja sama nan dijalankan dapat memberikan akibat nan lebih terukur dan langsung dirasakan masyarakat perbatasan.
“Kami berambisi persidangan ini dapat menghasilkan beragam rekomendasi nan konstruktif, termasuk mengenai revisi TOR KK/JKK Sosek Malindo, guna meningkatkan kemajuan kerja sama perbatasan Indonesia dan Malaysia,” kata Amran.
Kemendagri menilai hasil Persidangan Ke-19 Sekber bakal menjadi injakan krusial untuk menindaklanjuti beragam kesepakatan nan telah dihasilkan pada Persidangan Ke-40 KK/JKK Sosek Malindo Tahun 2025. Berbagai rekomendasi nan lahir dari forum ini diharapkan dapat memperkuat kesinambungan kerja sama kedua negara sekaligus mempercepat pembangunan area perbatasan nan lebih maju, terhubung, dan sejahtera.
Pada akhirnya, kerja sama Indonesia dan Malaysia di area perbatasan tidak hanya berbincang soal manajemen negara, tetapi juga tentang gimana kedua negara bersama-sama menghadirkan kesempatan ekonomi, jasa publik, dan kualitas hidup nan lebih baik bagi masyarakat nan tinggal di garis depan hubungan bilateral. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·