Indonesia Lobi AS untuk Bebaskan Bea Masuk Ekspor Minyak Sawit

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Indonesia melobi AS untuk mengecualikan minyak sawit dari tarif tambahan.

, JAKARTA, – Pemerintah Indonesia meningkatkan upaya diplomasi untuk membebaskan ekspor minyak sawit dari pengenaan bea masuk tambahan oleh Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil di tengah proses finalisasi kebijakan perdagangan AS nan lebih luas, menyusul investigasi mengenai praktik ketenagakerjaan dan kapabilitas industri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa Indonesia telah secara resmi mengusulkan permintaan pengecualian tarif impor tambahan dari AS. Hal itu disampaikannya di kantornya di Jakarta pada Senin (27/7).

"Kami meminta agar minyak sawit dikecualikan," kata Airlangga, seraya menambahkan bahwa Jakarta sekarang menunggu peninjauan berjenjang oleh otoritas perdagangan AS.

Respons Atas Investigasi Ketenagakerjaan AS

Dorongan ini muncul setelah Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) memberlakukan tarif sebesar 10 persen pada sejumlah peralatan Indonesia. Kebijakan ini merupakan hasil dari investigasi Section 301 nan menyoroti rumor kerja paksa dalam rantai pasok global.

Menurut Airlangga, Indonesia termasuk di antara 17 negara dan teritori—termasuk India, Malaysia, Meksiko, dan Inggris—yang dikenai tarif sebesar 10 persen. Negara-negara nan dinilai kurang alim terhadap standar anti-kerja paksa bakal menghadapi tarif lebih tinggi, ialah 12,5 persen.

Airlangga menekankan bahwa temuan AS menunjukkan Indonesia "relatif patuh" dibandingkan dengan banyak dari 60 negara nan dievaluasi. Sementara investigasi mengenai kerja paksa telah berjalan, penyelidikan USTR terpisah mengenai kelebihan kapabilitas industri tetap belum tuntas.

Menanti Hasil Akhir Investigasi Kelebihan Kapasitas

"Isu kelebihan kapabilitas tetap dalam penyelidikan, dan kami telah menjawab semua pertanyaan mengenai perihal itu," ujar Airlangga. Para pejabat Indonesia menyatakan telah menyerahkan tanggapan komplit atas pertanyaan-pertanyaan Washington dan sekarang menunggu keputusan.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengatakan bahwa pemerintah AS diharapkan segera mengumumkan hasil investigasi kelebihan kapabilitas tersebut. Indonesia tetap berambisi penentuan akhir bakal menghasilkan persyaratan perdagangan nan menguntungkan bagi perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini, terutama untuk ekspor pertanian utamanya.

Konten ini diolah dengan support AI.

sumber : antara

Selengkapnya
Sumber Republika Nasional
Republika Nasional