Indonesia Jadi Pemain Penting di Industri Baterai, Ini PR Besarnya

Sedang Trending 41 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pesatnya agenda elektrifikasi mengubah peta persaingan dunia terutama pada ekosistem baterai. Perebutan sekarang bukan lagi sekadar pasar mobil listrik, melainkan penguasaan rantai pasok baterai dari tambang hingga pabrik sel.

Ketua ID Battery sekaligus Direktur Pengembangan Bisnis Indonesia Battery Corporation (IBC) Niko Chandra mengungkapkan saat ini akomodasi baterai telah berkembang di Indonesia baik itu berupa baterai packers maupun nan memang produksi dari cell. Dengan kata lain, industri baterai mengalami pertumbuhan.

Melalui modal tersebut, kata dia, Indonesia tinggal mengembangkan ekosistem baterai dari hulu hingga hilir. Ini berfaedah mencakup rantai pasok hingga demand. Apalagi Indonesia mempunyai persediaan nikel sebagai bahan baku pembuatan baterai.

"Yang dibutuhkan sebetulnya jika bagi pelaku industri nan paling utama sebetulnya adalah visibility dari sisi demand. Maksudnya tumbuhnya demand baterai sejauh mana," ungkap Niko kepada CNBC Indonesia, di sela Gelaran Indonesia Energy and Engineering (IEE) Series 2026, Kamis (3/9/2026).

Niko memaparkan dalam mengembangkan ekosistem baterai aspek safety alias keamanan sangat diperlukan, terutama untuk kebutuhan mobil listrik. Untuk itu, krusial dalam membangun kepercayaan di masyarakat mengenai penggunaan baterai.

"Kami juga sorong di dalam asosiasi bahwa mengenai baterai testing dan sebagainya kan sebetulnya kita sudah ada infrastruktur, SNI, dan sebagainya. Tinggal gimana ini bisa didorong nan semula mungkin voluntary harapannya ke depan memang bisa satu perihal nan bisa mandatory," terang Niko.

Selain aspek keamanan, pihaknya juga mendorong aspek sustainability alias keberlanjutan. Dalam perihal ini Indonesia perlu menyiapkan proses recycling alias penerapan second line application. Termasuk support regulasi.

"Artinya ini nan perlu dilengkapi lantaran agar ekosistemnya memang komplit dan rasanya memang sekarang izin di bagian recycle belum ada sepenuhnya," jelas Niko.

Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa baterai tak hanya dibutuhkan bagi kendaraan listrik dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Data center pun tak luput menjadi pasar terbesar baterai.

"Pengembangan info center Indonesia sudah menjadi salah satu hub apalagi termasuk negara nan dilirik untuk pengembangan info center dan ke depan jika kita lihat lebih jauh lagi teknologi kan semakin advanced nih adanya robotika, adanya AI," ujar Niko.

Dalam pengembangan ekosistem baterai listrik diperlukan kerjasama pentahelix nan meliputi Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, apalagi Kementerian Perhubungan. Sementara itu, kerjasama dengan akademisi dan periset diperlukan untuk pengembangan masa depan teknologi baterai nan berkelanjutan.

"Artinya sebenarnya sebuah satu ekosistem nan perlu kerja bareng," tambah dia.

Untuk diketahui IBC turut berperan-serta dalam Energy Week nan merupakan bagian dari gelaran IEE Series 2026. Ajang pertemuan industri B2B terbesar di Asia Tenggara ini mengusung tema "Sustainability for Industrial Transformation" sebagaimana tema tahun lalu.

Dia berambisi Energy Week menjadi arena nan mempertemukan investor, pelaku industri, pemerintah, dan akademisi dan menjadi wadah memberikan kontribusi dan langkah-langkah konkret.

"Artinya gimana juga event-event di dalamnya bisa memberikan policy-policy, rekomendasi buat penyempurnaan, utamanya untuk kebijakan dan investasi di Indonesia agar semakin kondusif," pungkas Niko.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News