Impor Minyak Rusia, Bahlil: Kita Tidak Boleh Diintervensi Siapa Pun!

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kebijakan mengimpor minyak mentah dari Rusia merupakan kebijakan pemerintah dan disetujui melalui skema perjanjian antarpemerintah.

Dia menegaskan, impor minyak dari Rusia ini demi kepentingan rakyat dan kedaulatan bangsa, sehingga tidak boleh diintervensi siapa pun.

"Saya mengatakan sekali lagi ya, bahwa pembelian crude dari Rusia itu merupakan bagian daripada perjanjian G to G nan kemudian diakhiri dengan G to B," ungkapnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

"Kita sekarang ini kan lagi kondisi dunia kayak begini, kita mencari skala prioritas mana nan duluan bisa mendatangkan crude kita. Selama tidak menabrak patokan dan secara ekonomis masuk. Bayangkan orang bumi lagi susah, kita tetap pilih-pilih. Saya lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan lain, apalagi kedaulatan bangsa kita tidak boleh diintervensi oleh siapa pun. Karena kita menganut ajaran politik bebas aktif," tuturnya.

Dia pun menegaskan, impor minyak dari Rusia ini sudah terealisasi.

"Sudah, sudah, sudah mulai jalan, ya," ujarnya.

Seperti diketahui, pemerintah sudah menetapkan bahwa impor minyak Rusia ini dilakukan melalui Badan Layanan Umum (BLU) Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) dan bukan merupakan tindakan korporasi dari PT Pertamina (Persero).

Ketentuan mengenai Lemigas menjadi salah satu Badan Layanan Umum (BLU) nan dapat melakukan pengadaan, termasuk impor minyak mentah dan BBM ini diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026.

Total Impor Minyak dari Rusia

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo sebelumnya menyebut bahwa Indonesia mendapatkan 150 juta minyak mentah dari Rusia dengan nilai khusus.‎ ‎

Hashim mengatakan, pasokan minyak nan didapatkan dengan nilai unik itu adalah hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, pada Senin (13/4/2026).

‎"Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi," ucap Hashim saat memberikan aktivitas Economic Briefing 2026 di Menara Patra Jasa, Jakarta pada Kamis (23/4/2026).

‎Awalnya dalam pertemuan dengan Putin, jelas Hashim, awalnya Rusia menyetujui mengirim 100 juta barel dengan nilai khusus. Akan tetapi, jumlah itu bakal ditambah Rusia sebesar 50 juta barel untuk Indonesia dalam menghadapi gejolak dunia.

‎"Dia (Prabowo Subianto) ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu bakal segera dikirim ke Indonesia. 100 juta barel dengan nilai khusus. Dan andaikan Indonesia perlu lagi tambahan, sudah ditambah 50 juta," tutur Hashim.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News