Ilmuwan Temukan Kehidupan Misterius di Laut Jepang Kedalaman 10 Kilometer

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Seekor Bassozetus sp., sejenis belut cusk, terlihat oleh tim di kedalaman laut Jepang. Foto: Jamieson et al., 2026, Minderoo-UWA Deep-Sea Research Centre, Inkfish and Caladan Oceanic

Sebuah studi terbaru mengungkap gambaran menakjubkan tentang kehidupan di kedalaman nyaris 10 kilometer di bawah permukaan laut lepas pantai Jepang.

Dalam ekspedisi selama dua bulan, tim peneliti internasional sukses mengidentifikasi sekitar 108 golongan organisme berbeda, termasuk ikan terdalam nan pernah tercatat, serta satu makhluk misterius nan belum pernah dikenal sebelumnya.

Di wilayah Samudra Pasifik barat, tak jauh dari Jepang, terdapat dua palung laut dalam, itu adalah Ryukyu Trench dan Izu-Ogasawara Trench. Meski bukan nan terdalam di dunia—rekor itu dipegang Challenger Deep dan Tonga Trench— kedua palung ini tetap mempunyai kedalaman ekstrem, masing-masing sekitar 7.500-7.900 meter dan 9.700-9.800 meter.

Meneliti kehidupan di kedalaman tersebut bukan perihal mudah. Pada 2022, peneliti dari University of Western Australia dan Tokyo University of Marine Science and Technology melakukan ekspedisi besar dengan support Caladan Oceanic dan Inkfish.

Mereka menggunakan kapal penelitian DSSV Pressure Drop serta kapal selam berawak Limiting Factor untuk menjelajah dasar laut.

video youtube embed

Berbeda dari metode konvensional nan mengandalkan penangkapan sampel, tim ini menggunakan pendekatan visual langsung. Mereka mengawasi organisme di kediaman aslinya melalui jalur penelitian (transect) serta menggunakan perangkat lander berumpan untuk menarik hewan seperti ikan dan krustasea.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti mendapatkan gambaran paling komplit sejauh ini tentang kehidupan di area abisal (3.000-6.000 meter) dan area hadal (lebih dari 6.000 meter).

Salah satu temuan paling mengejutkan adalah makhluk asing nan belum dapat diklasifikasikan secara ilmiah, nan sementara diberi label Animalia incerta sedis.

Makhluk ini terekam dua kali melayang di kedalaman sekitar 9.137 meter. Meski telah dibicarakan dengan mahir taksonomi global, belum ada nan bisa menentukan golongan biologinya. Secara sekilas, bentuknya menyerupai siput laut alias teripang, namun identitas pastinya tetap menjadi misteri.

Selain itu, peneliti juga menemukan populasi padat organisme laut dalam nan hidup di dasar laut. Di titik pengetahuan bumi langka berjulukan Boso Triple Junction pada kedalaman sekitar 9.737 meter, mereka memandang padang krinoid, hamparan hewan laut nan menyerupai kembang lili laut.

Di Palung Izu–Ogasawara, tim juga menemukan spons karnivora dari family Cladorhizidae di kedalaman lebih dari 9.500 meter, rekor terdalam untuk pengamatan langsung jenis tersebut.

Makhluk asing nan ditemukan selama ekspedisi nan dilakukan di lepas pantai laut Jepang. Foto: Biodiversity Data Journal

Sementara itu, kamera sukses merekam ikan siput (snailfish) dari genus Pseudoliparis nan sedang makan di kedalaman 8.336 meter, menjadi rekor baru pengamatan ikan terdalam di kediaman alaminya.

Perangkat lander juga mengungkap keberadaan Alicella gigantea, krustasea raksasa nan tampaknya hidup di seluruh palung nan diteliti. Meski terlihat seperti wilayah nan belum tersentuh, peneliti menemukan jejak sampah buatan manusia di dasar laut, kemungkinan terbawa arus dari wilayah nan lebih tinggi.

Temuan ini menegaskan bahwa apalagi bagian terdalam laut pun tidak sepenuhnya bebas dari akibat aktivitas manusia. Tim peneliti menekankan bahwa metode visual non-destruktif sangat krusial untuk masa depan penelitian laut dalam.

“Selama ini, pemahaman kita tentang ekosistem laut dalam sangat berjuntai pada pengambilan sampel fisik, nan sering merusak organisme rentan dan tidak bisa menangkap perilaku alami,” papar peneliti.

Dengan hasil penelitian ini, tim berambisi dapat menyusun pedoman visual komprehensif untuk mendukung survei keanekaragaman hayati di masa depan.

“Lebih dari sekadar observasi, studi ini menjadi fondasi krusial untuk penelitian lanjutan di kedalaman ekstrem,” kata tim peneliti. “Zona hadal tetap menjadi salah satu wilayah paling misterius dan belum terjelajahi di Bumi.”

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan