Para intelektual telah mengungkap jaringan jamur tersembunyi nan sangat besar di bawah permukaan Bumi nan secara diam-diam mendukung ekosistem dan membantu mengatur suasana planet ini. (Peta dunia kepadatan hifa jamur AM.)(Truth & Beauty / Moritz Stefaner Justin Stewart - SPUN)
DI bawah permukaan tanah nan kita pijak, terdapat sebuah jaringan raksasa tersembunyi nan menyokong sebagian besar kehidupan di Bumi. Untuk pertama kalinya, para intelektual sukses memetakan "jalan tol" bawah tanah nan dibentuk oleh jamur mikoriza arbuskular (AM).
Dalam studi nan diterbitkan di jurnal Science, jaringan ini diperkirakan membentang sepanjang 110 kuadriliun kilometer, sebuah jarak dahsyat nan setara dengan nyaris satu miliar kali jarak dari Bumi ke Matahari. Jaringan berupa benang-benang lembut berjulukan hifa ini mengunci sekitar 300 megaton karbon, alias setara dengan 4 hingga 6 kali lipat total massa seluruh manusia nan hidup saat ini.
"Sangat susah untuk melebih-lebihkan pentingnya dan besarnya ukuran jamur-jamur ini," kata Dr. Justin Stewart, penulis utama studi dari Society for the Protection of Underground Networks (SPUN). "Bisa terdapat hingga 10 meter jaringan mikoriza hanya dalam satu sendok teh tanah."
Untuk menyusun peta dunia ini, para peneliti mengompilasi pengukuran dari 16.000 sampel inti tanah di seluruh dunia, lampau menganalisisnya menggunakan model machine-learning. Mereka menemukan bahwa padang rumput menyimpan sekitar 40% dari prasarana jamur ini, dengan kepadatan tertinggi diprediksi berada di lahan basah Sudan Selatan, Everglades di Florida, dan Dataran Tinggi Tibet.
Secara ekologis, jaringan jamur ini berfaedah layaknya sistem peredaran darah Bumi. Mereka memindahkan sekitar 4 miliar ton karbon dioksida ke dalam tanah setiap tahunnya, nan setara dengan 11% dari total emisi karbon akibat aktivitas manusia. Jaringan ini juga memperluas area jangkauan akar tanaman hingga 100 kali lipat demi menyuplai air dan nutrisi.
"Dengan munculnya teknologi baru dalam pencitraan resolusi tinggi, machine-learning, dan robotika, kita mulai mengungkap apa nan selama ini tersembunyi di bawah kaki kita," ujar Dr. Corentin Bisot, salah satu penulis utama dan biofisikawan dari AMOLF.
Namun, laporan ini juga membawa berita buruk. Kepadatan jaringan jamur di lahan pertanian diperkirakan 50% lebih rendah dibandingkan ekosistem liar. Para peneliti memperingatkan bahwa penurunan kepadatan ini dapat merusak keahlian tanah untuk menyimpan karbon dan menahan stres lingkungan. Lebih memprihatinkan lagi, 95% wilayah keanekaragaman hayati jamur ini berada di luar area nan dilindungi.
Dr. Toby Kiers, Direktur Eksekutif SPUN, menegaskan perlunya tindakan nyata. "Jamur telah diabaikan dalam suasana dan konservasi terlalu lama. Sekarang adalah waktunya untuk mengubah arah tersebut."
Sementara itu, Merlin Sheldrake, seorang mahir biologi nan terlibat dalam studi ini, menilai peta ini sebagai langkah awal nan menarik. Menurutnya, pemahaman atas sistem transportasi planet ini dapat membantu manusia menghadapi beragam tantangan dunia masa depan, mulai dari ketahanan pangan hingga perubahan iklim. (Science Daily/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·