Ikut Prabowo ke Rusia, Bahlil Diplomasi Energi Amankan Pasokan di Tengah Gejolak

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Senin, 13 April 2026 |13:40 WIB

Ikut Prabowo ke Rusia, Bahlil Diplomasi Energi Amankan Pasokan di Tengah Gejolak

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam lawatan ke Rusia. (Foto: Okezone.com/Setpres)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam lawatan ke Rusia. Indonesia mengusung diplomasi daya di tengah keterbatasan pasokan minyak dan gas akibat tensi geopolitik nan memanas di area Timur Tengah.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan kehadiran Bahlil dalam kunjungan tersebut menegaskan peran krusial sektor daya dalam mendukung kepentingan nasional di tengah dinamika global. Ia menilai momentum pertemuan ini juga membuka kesempatan kerjasama nan lebih konkret ke depan.

“Kunjungan kerja ini merupakan lanjutan kemitraan antara kedua negara. Bagi Indonesia, perihal ini krusial untuk memperkuat ketahanan daya nasional dalam jangka panjang,” ujar Dwi Anggia dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Adapun Bahlil mendampingi Prabowo dalam kunjungan kerja ke Moskow, Federasi Rusia, pada Minggu (12/4/2026) malam. Kunjungan ini merupakan bagian dari penguatan kemitraan strategis Indonesia-Rusia, dengan salah satu agenda prioritasnya adalah diplomasi daya untuk memperluas kerja sama bilateral nan saling menguntungkan.

Diplomasi daya ke Rusia tidak terlepas dari hambatan nan dihadapi kapal tanker minyak dan gas milik Pertamina nan belum dapat melintasi Selat Hormuz akibat ketegangan militer di area Timur Tengah. Dalam konteks ini, hubungan diplomatik Rusia dengan negara-negara di area dinilai dapat membuka pengganti jalur pasokan daya bagi Indonesia.

Berdasarkan info Worldometer, Rusia mempunyai persediaan minyak terbukti sekitar 80 miliar barel per 2025, menempatkannya di ranking kesembilan bumi dan menyumbang sekitar 4,53 persen dari total persediaan global. Cadangan tersebut diproyeksikan bisa memenuhi kebutuhan domestik hingga 58–62 tahun ke depan pada tingkat produksi saat ini.

Sejauh ini, Kementerian ESDM juga mengupayakan penerapan program mandatori biodiesel 50 persen (B50) sebagai langkah untuk mengatasi keterbatasan energi. Program ini dilakukan melalui pencampuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menciptakan surplus stok gasoil di dalam negeri.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com