IHSG Melemah ke 5.874 Akibat Tensi AS-Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
IHSG Melemah ke 5.874 Akibat Tensi AS-Iran dan Penutupan Selat Hormuz IHSG terkoreksi 0,47% ke level 5.874,38 pada 11 Juni 2026.(Dok. Antara)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (11/6). Sentimen negatif dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nan mendorong penanammodal melakukan tindakan risk-off alias menghindari aset berisiko.

Berdasarkan info perdagangan BEI pukul 15.00 WIB, IHSG hari ini terkoreksi sebesar 27,98 poin alias 0,47% ke posisi 5.874,38. Aktivitas pasar tercatat cukup tinggi dengan gelombang perdagangan mencapai 2.006.826 kali transaksi dan nilai transaksi menembus nomor Rp17,37 triliun dalam Mata Uang Rupiah.

Ringkasan Perdagangan IHSG (11 Juni 2026)

Posisi Terakhir 5.874,38
Perubahan -27,98 Poin (-0,47%)
Nilai Transaksi Rp17,37 Triliun
Volume Saham 27,84 Miliar Lembar
Statistik Saham 231 Naik, 446 Turun, 137 Stagnan

Faktor Eksternal: Eskalasi Militer di Selat Hormuz

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menjelaskan bahwa aspek eksternal menjadi penekan utama indeks. Komando militer tertinggi Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Kamis (11/6), mencakup kapal tanker minyak dan kapal komersial. Langkah ini merupakan respons atas petunjuk Presiden AS Donald Trump nan memerintahkan gelombang serangan baru terhadap Iran melalui CENTCOM.

“Pasar mencermati bentrok geopolitik nan kembali memanas sehingga memicu sikap risk-off. Investor condong mengamankan modalnya dari pasar negara berkembang (emerging markets) di tengah ketidakpastian dunia ini,” ujar Elandry.

Sentimen Domestik dan Agenda Global

Dari dalam negeri, kehati-hatian penanammodal juga dipicu oleh rumor rencana tindakan demonstrasi besar serta tekanan terhadap nilai tukar Mata Uang Rupiah. Pelaku pasar menilai langkah otoritas dalam menjaga stabilitas mata duit tetap perlu diuji lebih lanjut untuk mengembalikan kepercayaan pasar secara penuh.

Selain bentrok Timur Tengah, penanammodal sekarang dalam posisi wait and see terhadap sejumlah agenda krusial dalam dua pekan ke depan, antara lain:

  • 17 Juni 2026: Rapat FOMC The Fed mengenai arah suku kembang global.
  • 18-19 Juni 2026: Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia untuk penetapan BI Rate.
  • 18 & 23 Juni 2026: MSCI Accessibility Review dan Market Classification Review nan menentukan status pasar modal Indonesia di mata penanammodal asing.

Elandry memproyeksikan volatilitas IHSG bakal tetap tinggi dalam jangka pendek. Namun, selama indeks bisa memperkuat di atas area support psikologis 6.000, koreksi saat ini tetap dianggap sebagai konsolidasi wajar. Sebaliknya, jika tekanan berlanjut, penanammodal disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi pelemahan lebih dalam. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia