ilustrasi(Antara)
Peneliti Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyoroti penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nan terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Meski mencatat rebound cukup signifikan, Yusuf menilai kenaikan tersebut lebih merefleksikan pemulihan teknikal setelah koreksi tajam nan terjadi sebelumnya.
“Rebound nan terjadi memang sangat kuat setelah muncul wacana buyback saham BUMN dan sejumlah kebijakan stabilisasi pasar. Namun perlu diingat bahwa kenaikan tersebut terjadi setelah koreksi nan sangat dalam. Dengan kata lain, sebagian besar penguatan tetap dapat dibaca sebagai pemulihan teknikal dari kondisi oversold, bukan sebagai awal tren kenaikan jangka panjang nan sepenuhnya ditopang fundamental,” katanya saat dihubungi, Rabu (17/6).
Lebih lanjut, dia menilai kebijakan buyback saham mempunyai keterbatasan dalam menopang pasar modal dalam jangka panjang. Menurutnya, parameter nan perlu dicermati justru arus modal asing nan hingga sekarang tetap menunjukkan kecenderungan keluar dari pasar domestik.
“Hingga pertengahan 2026, penanammodal asing tetap mencatat net sell nan besar, sehingga penguatan IHSG lebih banyak ditopang oleh penanammodal domestik dan rotasi likuiditas pada saham-saham berkapitalisasi besar. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan penanammodal dunia belum sepenuhnya pulih,” ungkap Yusuf.
Meski demikian, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap memberikan akibat positif terhadap perekonomian Indonesia. Harapan tercapainya kesepakatan tenteram antara AS dan Iran menurunkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan daya dunia sehingga mendorong koreksi nilai minyak dunia.
“Bagi Indonesia nan tetap menjadi importir daya bersih, nilai minyak nan lebih rendah membantu mengurangi tekanan inflasi dan memperbaiki prospek neraca eksternal. Namun aspek ini tetap berada di luar kendali domestik dan sewaktu-waktu dapat berubah andaikan situasi geopolitik kembali memburuk,” pungkasnya. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·