Ilustrasi--Petugas medis memeriksa kesehatan seorang lansia pada program cek kesehatan cuma-cuma di Denpasar, Bali, Jumat (29/5/2026).(ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo)
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah dalam melaksanakan skrining hepatitis melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Meski demikian, IDAI memberikan catatan kritis agar penemuan awal tersebut tidak berakhir pada tahap pemeriksaan semata, melainkan kudu diikuti dengan penanganan medis nan jelas dan berkelanjutan.
Ketua Umum PP IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menegaskan bahwa efektivitas skrining sangat berjuntai pada sistem tindak lanjut (follow-up). Tanpa pengobatan dan pemantauan pasien nan terukur, faedah dari penemuan awal bakal berkurang secara signifikan.
"Skrining itu bagus, tapi kudu ada follow-up-nya. Jangan sampai hanya jadi gimik. Begitu ditemukan anak nan positif, tindak lanjutnya kudu jelas," ujar Piprim dalam aktivitas puncak HUT ke-72 IDAI di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, dikutip Selasa (16/6).
Target Skrining Nasional
Program CKG merupakan inisiatif Kementerian Kesehatan untuk mempercepat penemuan beragam penyakit, khususnya gangguan hati akibat hepatitis B dan C. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah telah menetapkan sasaran ambisius untuk menjangkau masyarakat luas guna memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
| Target Peserta 2025 | 70 Juta Orang |
| Target Peserta 2026 | 136 Juta Orang |
| Fokus Penyakit | Hepatitis B, Hepatitis C, dan Gangguan Hati |
| Tujuan Utama | Deteksi Dini & Memenuhi Target WHO |
Pencegahan Melalui Imunisasi
Selain menyoroti aspek skrining, Piprim mengingatkan bahwa tembok pertahanan utama terhadap hepatitis adalah pencegahan melalui imunisasi. Ia menjelaskan bahwa Hepatitis A dan B merupakan penyakit nan dapat dicegah sepenuhnya dengan vaksinasi, sehingga cakupan imunisasi nasional kudu terus ditingkatkan.
Pemberian vaksin Hepatitis B segera setelah bayi lahir menjadi krusial. Langkah ini dianggap sebagai investasi kesehatan jangka panjang untuk mencegah jangkitan kronis nan berisiko menimbulkan komplikasi serius saat anak beranjak dewasa.
"Sangat krusial memberikan vaksin Hepatitis B segera setelah anak lahir untuk mencegah masalah kesehatan saat dia dewasa nanti," tambahnya.
IDAI menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan pemerintah dalam mengawal penyelenggaraan program ini, mulai dari proses skrining hingga pendampingan medis bagi anak-anak nan terdiagnosis, guna menekan beban penyakit hepatitis di Indonesia secara menyeluruh. (Ant/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·