Perusahaan antariksa Astrobotic resmi memamerkan lander Griffin-1 (Moon Base II). Wahana ini siap mengirim kargo komersial terbesar ke Kutub Selatan Bulan.(Astrobotic)
PERUSAHAAN antariksa swasta Astrobotic resmi memperkenalkan robot pendarat (lander) terbarunya, Griffin-1, nan diproyeksikan untuk mendukung misi pangkalan luar angkasa milik NASA. Dalam aktivitas peluncuran nan dihadiri pejabat pemerintah dan mitra industri, wahana ini secara resmi mendapatkan julukan "Moon Base II" dari NASA sebagai bagian dari fase awal pembangunan posko permanen manusia di Bulan.
Griffin-1 dijadwalkan meluncur pada kuartal keempat tahun 2026 menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX. Sebelum dikirim ke Florida untuk proses integrasi akhir dan peluncuran, robot pendarat ini bakal dikirim ke Laboratorium Propulsi Jet (JPL) di California untuk menjalani serangkaian pengetesan lingkungan.
Sebagai robot pendarat kelas infrastruktur, Griffin mempunyai dimensi bentuk nan jauh lebih besar dibanding pendahulunya, Peregrine. Meski sama-sama mempunyai tinggi sekitar 2 meter, diameter Griffin mencapai 4,5 meter alias nyaris dua kali lipat lebih lebar. Ukuran masif ini memungkinkannya mengangkut beban berat hingga 625 kilogram ke permukaan Bulan dengan tarif komersial sebesar Rp19,5 juta per kilogram (US$1,2 juta per kg).
Wahana ini bakal membawa muatan dari enam negara berbeda, mencakup total 10 manifes ilmiah dan budaya. Muatan utamanya adalah rover FLIP (Flex Lunar Innovation Platform) buatan perusahaan Astrolab nan berbasis di California. Rover berjantera empat seberat 450 kilogram ini nantinya bakal membawa empat instrumen sains milik NASA untuk mendeteksi es air dan karakter tanah di Kutub Selatan Bulan. Selain itu, Griffin-1 juga mengikutsertakan kamera presisi LandCam-X dari Badan Antariksa Eropa (ESA), miniatur perpustakaan digital "Galactic Library", kapsul memori MoonBox, serta CubeRover internal milik Astrobotic.
Misi ini menjadi pembuktian krusial bagi Astrobotic setelah pendarat Peregrine mereka kandas mencapai Bulan pada awal 2024 akibat kegagalan sistem propulsi. Melalui kendali langsung dari Mission Control Center di Pittsburgh, Griffin-1 diharapkan bisa menuntaskan perjalanan trans-lunar selama 10 hingga 25 hari dan mendarat mulus di kawah rugged Kutub Selatan Bulan. Suksesnya misi ini bakal menjadi tonggak krusial bagi komersialisasi logistik antariksa sekaligus fondasi utama kehadiran jangka panjang manusia di satelit bumi tersebut. (Space/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·