Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengapresiasi peran Global Green Growth Institute (GGGI) dalam mendorong ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan. Dia menilai perihal ini sejalan dengan Indonesia nan juga mendukung pertumbuhan ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan.
Edhie Baskoro juga mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari GGGI, sembari menyampaikan sungguh istimewanya bagi dirinya berada di instansi pusat GGGI di Seoul. Menurutnya, kunjungan tersebut mengingatkan dirinya kepada sang ayah presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nan pernah memimpin GGGI sebagai Chair (President) dari perkumpulan filantropis tersebut.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ibas saat kunjungan diplomasi kebangsaan ke instansi pusat Global Green Growth Institute (GGGI) di Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. Kunjungan ini turut dihadiri oleh sejumlah personil MPR/DPR RI.
"Terima kasih, saya merasa seperti di rumah, seperti berjumpa dengan ayah saya (Pak SBY) nan dulu memimpin GGGI sembari disambut penuh senyum dan tawa hangat oleh semua. Saya sangat menghargai komitmen dan pemikiran mendalam nan diberikan oleh GGGI untuk masa depan dunia," ujar Ibas dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).
Dia juga menegaskan bahwa mengatasi perubahan suasana dan menjaga lingkungan bukan hanya tentang menanam banyak pohon, meskipun perihal tersebut sangat penting.
"Namun, nan lebih krusial adalah menciptakan izin dan kebijakan nan ramah lingkungan dan berkepanjangan nan memberikan dasar nan kuat untuk masa depan nan lebih hijau dan sehat," tuturnya.
Edhie Baskoro menyampaikan apresiasi besar terhadap peran GGGI sebagai penerang angan dalam menghadapi krisis suasana global. Menurutnya, GGGI menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan perlindungan lingkungan.
"GGGI ini seperti lentera di tengah kegelapan, nan menerangi jalan menuju masa depan nan berkelanjutan," ujarnya.
Ibas juga mencermati krisis suasana nan terjadi di seluruh bumi dengan menyoroti akibat musibah alam nan mengkhawatirkan di Indonesia dan Korea Selatan.
"Indonesia telah dilanda beragam musibah alam, dan kami sangat bersungkawa atas kehilangan jiwa nan terjadi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatera Utara," katanya,
"Kami juga mengetahui bahwa Korea Selatan menghadapi cuaca ekstrem serupa, dengan musim dingin nan sangat dingin hingga -30°C dan musim panas nan lebih panas dibandingkan Jakarta," sambungnya.
Ibas turut mengenang visi Presiden RI Ke-6 SBY nan telah meletakkan dasar-dasar kesungguhan Indonesia terhadap keberlanjutan lingkungan.
"Presiden Yudhoyono menekankan pentingnya kepemimpinan nan tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi juga dari Korea Selatan dan seluruh dunia. Saatnya para pemimpin berasosiasi dalam kebijaksanaan dan visi untuk mengatasi perubahan iklim," tuturnya.
Dia juga menyerukan untuk terus bekerja sama di tingkat internasional dan menekankan pentingnya peran GGGI dalam membangun masa depan nan berkelanjutan.
"Strategi empat jalur pro-pertumbuhan berkeadilan, pro-lapangan kerja, pro-pengentasan kemiskinan, dan pro-lingkungan hidup tetap menjadi bagian krusial dari agenda pembangunan Indonesia. Kita kudu terus melindungi lingkungan sembari mendorong pertumbuhan ekonomi untuk generasi mendatang," ungkapnya.
Dia pun turut menggarisbawahi inisiatif Indonesia di bawah manajemen Presiden Prabowo nan baru-baru ini diluncurkan, termasuk kebijakan perdagangan karbon, program daya terbarukan, dan investasi prasarana hijau nan krusial untuk mencapai tujuan keberlanjutan jangka panjang.
"Kami mendorong sektor swasta untuk berinvestasi dalam proyek-proyek hijau, biru dan kebijakan nan tidak hanya menanam pohon. Tetapi juga menciptakan lingkungan nan berkepanjangan untuk generasi mendatang," tambahnya.
Selain itu, Ibas menekankan pentingnya kerja sama dunia dalam mempercepat inisiatif daya bersih, terutama dengan meningkatnya nilai minyak dunia dan meningkatnya momentum transisi menuju kendaraan listrik (EV).
"Waktunya bertindak adalah sekarang," ujarnya.
Ibas pun mendukung misi GGGI dalam mempercepat pertumbuhan hijau di seluruh dunia. Menurutnya, perihal itu perlu diimbangi dengan kemitraan bilateral, multilateral, dan tanggung jawab berbareng untuk melindungi planet ini demi generasi masa depan.
"Ini bukan hanya tentang gimana kita hidup hari ini, tetapi gimana kita memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi bumi nan berkelanjutan," jelasnya.
Tantangan Global dan Kebersamaan dalam Aksi
Ibas turut menekankan pentingnya tindakan berbareng dari para pemimpin bumi untuk menghadapi perubahan iklim.
"Kita memerlukan tindakan dunia nan bersatu, dan kebijaksanaan dari para pemimpin bumi untuk mengatasi tantangan nan ada. Kepemimpinan bersama, dengan visi dan komitmen nan jelas, sangat diperlukan untuk mewujudkan bumi nan lebih hijau dan lebih sejahtera," ujarnya.
"Dunia hijau memberikan kesempatan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat dunia. Sebaliknya, bumi nan semakin panas akibat perubahan suasana dan bentrok bakal merugikan semua pihak," tambahnya.
Ibas turut memaparkan beberapa inisiatif Indonesia dalam menangani isu-isu lingkungan, salah satunya adalah program 'waste-to-energy' nan sedang digalakkan di Indonesia. Dia mengatakan program itu sebagai salah satu solusi untuk mengurangi sampah dan mengubahnya menjadi daya nan berguna.
"Program waste-to-energy di Indonesia merupakan langkah konkret untuk menjaga keramahan lingkungan dan mengurangi akibat negatif sampah terhadap alam," jelasnya.
Dia pun mengingatkan pentingnya melibatkan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan planet ini juga menjadi sorotan dalam pidato tersebut.
"Kami perlu mempersiapkan generasi muda dengan pemahaman dan pendidikan nan tepat mengenai masa depan dunia. Mereka bukan hanya penerus, tetapi juga bagian dari solusi. Aksi nyata dari generasi muda sangat diperlukan untuk menjawab tantangan era ini," ujar Ibas.
"Kami mengucapkan terima kasih nan sebesar-besarnya kepada GGGI atas komitmen dan pemikiran mendalam mereka dalam memberikan pengaruh positif terhadap isu-isu lingkungan dan generasi masa depan. GGGI adalah lembaga nan tak hanya memberikan ide, tetapi juga mendorong perubahan nyata di seluruh dunia," sambungnya
Sementara itu, Executive Director GGGI Sanghyup Kim menegaskan bahwa pertumbuhan hijau bukan hanya tentang tindakan iklim, tetapi juga kesempatan ekonomi baru nan bisa menciptakan lapangan kerja dan industri berkelanjutan. Dia menyampaikan bahwa investasi dunia di sektor daya hijau telah mencapai triliunan dolar dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Sementara itu, Malle Fofana menyoroti peran GGGI sebagai mitra strategis bagi negara anggota, termasuk Indonesia dalam mendorong kebijakan dan diplomasi suasana nan terintegrasi dengan sektor swasta. Dia juga menegaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu program terbesar GGGI nan apalagi menjadi rujukan bagi negara lain.
Senada dengan itu, Director Partnerships and Governance Hakseok Ryu menjelaskan bahwa GGGI telah menjangkau nyaris separuh wilayah Indonesia melalui beragam program strategis. Hal itu mencakup sektor daya terbarukan, kota hijau, rehabilitasi lingkungan pesisir serta mangrove, hingga pembiayaan suasana dan investasi berkelanjutan.
Kolaborasi ini dinilai sebagai contoh nyata gimana kemitraan internasional dapat memberikan akibat langsung bagi pembangunan nasional sekaligus menjadi model global.
Sementara itu, Perwakilan Global Green Growth Institute di Indonesia Rowan Fraser menegaskan bahwa konsentrasi kerja GGGI mencakup empat sektor utama ialah daya (termasuk daya terbarukan, efisiensi energi, hidrogen, dan bioenergi), pengembangan kota dan industri hijau, pengelolaan darat dan laut seperti rehabilitasi mangrove dan ekonomi pesisir, serta pembiayaan dan investasi hijau termasuk pasar karbon dan pembiayaan iklim.
"Seluruh upaya ini diselaraskan dengan rencana pembangunan nasional Indonesia. Dalam beberapa tahun ke depan GGGI menargetkan mobilisasi pendanaan sebesar US$ 2 miliar untuk mendukung transisi hijau melalui kerjasama erat dengan pemerintah dan sektor swasta guna memastikan aliran investasi berkepanjangan ke dalam negeri," tutupnya.
Turut mendampingi Ibas dalam kunjungan ini sejumlah personil Fraksi Partai Demokrat dari beragam komisi di DPR RI, ialah Anton Sukartono Suratto (Komisi I), Rinto Subekti (Komisi XIII), Dina Lorenza (Komisi VII), Lucy Kurniasari (Komisi IX), Bramantyo Suwondo (Komisi X), Rizki Aulia Rahman Natakusumah (Komisi I), Wastam, (Komisi V), Muhammad Lokot Nasution (Komisi V), dan Sartono (Komisi XII).
Sementara itu, dari pihak GGGI, pertemuan dihadiri oleh Executive Director Sanghyup Kim, Deputy Executive Director and Asia Regional Malle Fofana, Director Partnerships and Governance Hakseok Ryu, Deputy Regional Director, Asia Jason Lee, Country Representative, Asia Rowan Fraser, dan Deputy Country Representative, Indonesia Vidya Fauzianti. (akn/ega)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·