(ANTARA)
IBADAH haji merupakan rukun Islam kelima nan wajib ditunaikan setiap muslim nan bisa secara fisik, mental, dan finansial. Namun, dimensi ibadah haji melampaui sekadar ritual individual. Ibadah haji adalah manifestasi agung persatuan umat Islam dari seluruh penjuru dunia, berkumpul di Tanah Suci Mekah dengan satu tujuan: memenuhi panggilan Allah SWT. Di sinilah letak keistimewaan haji sebagai sarana penguatan ukhuwah islamiyah dan persaudaraan universal.
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, lantaran itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar Anda mendapat rahmat." (QS Al-Hujurat [49]: 10). Ayat itu menjadi fondasi utama bahwa ikatan keagamaan lebih kuat daripada ikatan genealogis. Persaudaraan seiman (ukhuwah islamiyah) mewujud dalam identitas kolektif nan melampaui batas suku, bangsa, dan warna kulit.
Allah juga berfirman: "Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah kepercayaan Anda semua; kepercayaan nan satu dan Aku adalah Tuhanmu maka beribadahlah kepada-Ku." (QS Al-Anbiya' [21]: 92). Ayat itu mengukuhkan bahwa seluruh umat Islam adalah satu kesatuan (ummatan wahidah) nan terikat dalam iktikad dan ketundukan kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda: "Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya ibaratkan gedung nan saling menguatkan satu sama lain." (HR Bukhari dan Muslim). Hadis itu menggunakan afinitas bangunan nan kukuh, dengan setiap komponen mempunyai peran menguatkan komponen lainnya. Itu mengajarkan bahwa solidaritas dan kerja sama antarmuslim adalah keharusan, bukan sekadar pilihan.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan mereka, kasih-mengasihi, dan tolong-menolong mereka seperti satu jasad. Apabila satu personil tubuh sakit, seluruh tubuh bakal ikut tidak bisa tidur dan merasakan demam." (HR Muslim).
Metafora jasad itu sangat kuat menggambarkan interdependensi antarmuslim. Tidak ada satu pun organ nan dapat hidup sendiri; semua saling memerlukan dan merasakan apa nan dirasakan bagian lain.
Rasulullah SAW juga dalam khutbah haji wada' (haji perpisahan) menyeru: "Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, dan ayah kalian (Adam) satu. Orang Arab tidak lebih mulia daripada non-Arab, non-Arab tidak lebih mulia daripada Arab, nan kulit merah tidak lebih mulia daripada nan kulit hitam, dan nan kulit hitam tidak lebih mulia daripada nan kulit merah, selain dengan takwa." (HR Ahmad). Seruan itu menghapus sekat-sekat primordial nan selama ini menjadi sumber konflik.
HAJI SEBAGAI AKTUALISASI UKHUWAH
Ibadah haji menghadirkan pemandangan luar biasa: jutaan manusia dari beragam bangsa, warna kulit, status sosial, dan bahasa, semuanya mengenakan busana ihram nan sama, dua lembar kain putih tanpa jahitan bagi laki-laki, dan busana sederhana bagi perempuan.
Tidak ada beda antara raja/presiden dan rakyat, antara kaya dan miskin, antara Timur dan Barat. Mereka semua berdiri setara di hadapan Allah SWT. Dengan demikian, haji adalah momentum tepat untuk merajut persaudaraan universal. Jemaah berinteraksi, berganti informasi, tolong-menolong, salat berjemaah, makan bersama, dengan tujuan nan sama: memenuhi panggilan Allah.
Puncak haji adalah wukuf di Padang Arafah (al-haju Arafah), tempat jemaah 'berhenti sejenak' merenung dan bermunajat. Wukuf adalah miniatur padang mahsyar, hari ketika seluruh manusia dikumpulkan tanpa pembedaan. Wukuf mengajarkan persaudaraan nan melampaui sekat-sekat primordialisme: kultural, warna kulit, bahasa, serta kewarganegaraan.
Dengan demikian wukuf di Arafah mengajarkan kita pentingnya membangun dan memperkukuh ukhuwah islamiyah
dan persauadaraan universal.
Selama berihram, jemaah dilarang melakukan tiga hal: rafats (perkataan keji), fusuq (perbuatan maksiat alias saling mencela), dan jidl (pertengkaran alias perselisihan). Larangan itu mengandung pesan mendalam: bahwa selama melaksanakan ibadah haji umat Islam dilarang berselisih. Oleh lantaran itu, gimana pesan suci itu bisa terinternalisasi dan terefleksi dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Untuk itu, dibutuhkan keahlian menahan diri dari perilaku nan memecah belah persaudaraan.
Persaudaraan dalam Islam bukanlah ikatan keturunan semata, melainkan lebih pada ikatan ketaatan dan kepercayaan dalam universalitas bangsa-bangsa dunia. Persaudaraan itu juga tidak eksklusif internal satu aliran alias mazhab. Perbedaan ajaran boleh terjadi dan tidak dapat dihindari, tetapi nan terpenting adalah perbedaan itu tidak membikin berpecah belah melainkan menjadi rahmat.
Di era digital, umat Islam justru menghadapi tantangan baru: polarisasi akibat media sosial, ujaran kebencian, dan hoaks. Dalam konteks itu krusial bagi kita untuk bijak dalam menggunakan media sosial. Semangat haji juga mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh berujung pada permusuhan. Ibadah haji mengingatkan kita pada hadis: "Tidak boleh seorang muslim memutuskan silaturahim dengan saudaranya lebih dari tiga malam, saling membuang muka ketika bertemu, dan nan terbaik adalah nan memulai salam."
Demikian pula bentrok bersenjata, musibah alam, dan krisis ekonomi adalah ujian kemanusiaan nan tidak mengenal pemisah negara. Solidaritas universal nan diajarkan haji menjadi sangat relevan: tidak seorang pun selamat jika saudaranya di bagian bumi lain menderita. Sebagaimana sabda Nabi: "Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya" (HR Muslim).
PENUTUP
Ibadah haji adalah bukti nyata bahwa Islam adalah kepercayaan persatuan, bukan perpecahan. Melalui keseragaman ihram, wukuf, dan kebersamaan di Arafah, serta dan larangan perilaku destruktif, haji mengajarkan prinsip ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan universal.
Di tengah bumi nan semakin terfragmentasi, pesan haji menjadi terapi pencerahan. Kita diajak untuk merenungkan kembali bahwa perbedaan adalah rahmat, persaudaraan adalah kekuatan, dan kemanusiaan adalah tanggung jawab bersama.
Semoga setiap muslim nan menunaikan haji dapat meraih haji mabrur, nan tidak hanya membawa pulang gelar, tetapi juga semangat ukhuwah nan diterjemahkan dalam tindakan nyata membangun perdamaian dan kesejahteraan bersama. Wallahu a'lam bish-shawab
.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·