Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.(MI/Usman Iskandar)
BERTEPATAN dengan hari ulang tahun Presiden Prabowo Subianto nan ke-75 pada 17 Oktober 2026, Indonesia juga menandai dua tahun perjalanan masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Momen berhistoris ini menjadi arena refleksi atas beragam langkah strategis bangsa, di mana program hilirisasi, industrialisasi, dan kemandirian daya terus didorong sebagai agenda utama untuk memajukan perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Salah satu corak refleksi dua tahun Pemerintahan Presiden Prabowo nan bertepatan dengan hari lahir Presiden menurut Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu adalah dengan menyampaikan capaian signifikan program strategis nasional, dalam perihal ini hilirisasi beserta dua agenda lanjutannya, ialah kemandirian daya dan industrialisasi.
"Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program hilirisasi menunjukkan peningkatan signifikan dan semakin memperbesar kontribusinya terhadap investasi nasional." Ujar Todotua dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (17/10).
Di bawah kepemimpinan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM nan dipimpin oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, sektor investasi nasional mencatatkan keahlian positif dan berkesinambungan. Menteri Rosan beserta Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar peningkatan nilai tambah ekonomi, melainkan instrumen krusial dalam mewujudkan petunjuk Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Kinerja investasi di bawah nakhoda Menteri Rosan Roeslani menunjukkan tren pertumbuhan nan solid. Pada semester I 2026, realisasi investasi Indonesia sukses mencapai Rp1.010,6 triliun—tumbuh 7,2% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya—serta menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.
Dampak nyata kebijakan hilirisasi nan dikawal Kementerian Investasi ini terlihat jelas di Maluku Utara, nan sekarang berkembang pesat menjadi salah satu pusat industri pengolahan nasional. Produk ekspor wilayah tersebut semakin beragam, mulai dari feronikel, nickel matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), nickel sulfate, hingga kobalt, melanjutkan transformasi sukses nan sebelumnya melangkah di Morowali, Sulawesi Tengah.
Menurut Todotua Pasaribu, sejalan dengan pengarahan Menteri Rosan Roeslani dan pengarahan Presiden Prabowo Subianto, keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya nilai investasi dan kapabilitas produksi. Program ini kudu bisa memberikan multiplier effect: memperkuat tenaga kerja lokal, memberikan ruang bagi pelaku upaya daerah, serta memastikan keberlanjutan lingkungan hidup.
Todotua juga menyoroti relevansi pemikiran ekonomi Soemitro Djojohadikusumo tentang industrialisasi serta penguatan sistem finansial nasional nan dirintis Margono Djojohadikusumo. Semangat membangun industri nasional dan memperkuat investasi domestik tersebut dinilai tetap sangat relevan dalam mengakselerasi transformasi ekonomi Indonesia di era pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini.
*Hilirisasi dan Transisi Energi Saling Menguatkan*
Di samping industrialisasi, kesiapan daya nan andal dan kompetitif menjadi fondasi vital bagi keberlanjutan industri pengolahan. Oleh lantaran itu, percepatan hilirisasi terus diselaraskan dengan penguatan ketahanan daya dan transisi menuju daya bersih.
Salah satu terobosan besar dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran adalah peluncuran program biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo pada Juli 2026 lalu, nan menjadi bukti nyata pemanfaatan sumber daya domestik demi kemandirian daya nasional.
Di bawah koordinasi Kementerian Investasi nan dipimpin Rosan Roeslani, Indonesia secara aktif mengundang penanammodal dunia dan domestik untuk mengembangkan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT)—seperti tenaga surya, hidro, dan panas bumi—serta mengoptimalkan potensi mineral kritis pendukung teknologi hijau.
Todotua menegaskan bahwa kepastian hukum, kemudahan regulasi, pembangunan infrastruktur, dan sinergi erat dengan sektor swasta menjadi kunci utama dalam menarik investasi EBT. Langkah strategis ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi industri, membuka jutaan lapangan kerja baru, dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Memasuki usia ke-75 tahun Presiden Prabowo Subianto serta dua tahun masa hormat pemerintahan Prabowo-Gibran, seluruh jejeran Kementerian Investasi dan Hilirisasi berkomitmen menjadikan hilirisasi dan transisi daya sebagai motor penggerak pembangunan nasional.
“Transisi daya tidak semestinya menjadi beban pembangunan. Sebaliknya, transisi daya kudu menjadi jendela menuju ketahanan energi, peningkatan daya saing industri, dan kemakmuran nasional,” pungkas Todotua. (Cah)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·