Feby Novalius
, Jurnalis-Minggu, 02 Agustus 2026 |11:05 WIB

Fenomena nan dikenal sebagai Lipstick Effect dinilai mendorong pertumbuhan di sejumlah sektor bisnis. (Foto: Okezone.com/Freepik)
JAKARTA – Tekanan biaya hidup tidak selalu menurunkan konsumsi masyarakat. Justru, kejadian nan dikenal sebagai Lipstick Effect dinilai mendorong pertumbuhan di sejumlah sektor bisnis, terutama pada produk dan jasa dengan nilai nan lebih terjangkau.
Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, mengatakan bahwa di tengah tekanan biaya hidup, masyarakat condong menunda pembelian peralatan berbobot besar, seperti rumah, kendaraan, maupun liburan ke luar negeri. Sebagai gantinya, mereka mengalihkan pengeluaran ke kebutuhan alias intermezo nan lebih terjangkau.
"Jadi, mereka sekarang mencari hal-hal nan lebih terjangkau, seperti pergi ke kafe alias membeli makanan premium. Hal ini mendorong pertumbuhan sektor makanan dan minuman (FnB). Kalau disadari juga, pusat perbelanjaan tetap ramai meskipun sempat terjadi kenaikan nilai BBM. Jadi, memang ada sektor nan terdampak, tetapi ada juga nan justru tumbuh positif. Ke depan, tren Lipstick Effect ini tetap berpotensi meningkat," ujarnya.
Menurut Hosianna, kejadian tersebut juga berakibat pada sektor manufaktur. Produsen tetap bisa meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen lantaran permintaan tetap ada. Kondisi itu terlihat dari beragam program promosi dan potongan nilai nan dilakukan pelaku ritel maupun sektor perbankan.
"Artinya, tetap ada nan membeli. Kalau konsumsi meningkat, manufaktur juga bakal berekspansi. Dalam jangka pendek, ekonomi tetap bergerak lantaran masyarakat tetap bekerja dan mempunyai daya beli," katanya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·