Liputan6.com, Jakarta - Suara lengking peluit kereta melengking memecah hiruk-pikuk Stasiun Tanah Abang. Saban hari, khususnya di jam-jam sibuk pagi dan sore, peron-peron di rute nan sekarang dikenal sebagai Green Line itu bergemuruh oleh ribuan pasang kaki. Manusia berjejal, berdempetan memburu pintu gerbong, berebut ruang bernapas dalam dorongan mobilitas penduduk nan tak pernah lesu.
Rangkasbitung hingga Tanah Abang bukan sekadar rute penyambung pundi-pundi rupiah kaum komuter, dia menjadi nadi kehidupan nan berdebar cepat, dan riuh oleh capek serta asa masyarakat urban.
Namun, jika roda waktu ditarik ke belakang, jauh sebelum riuh klakson KRL dan sesaknya jam kerja memadati udara, jalur rel era kolonial ini pernah menyimpan satu laman roman paling mendebarkan dalam sejarah Indonesia. Di atas perlintasan rel Rangkasbitung–Tanah Abang ini, langkah kaki seorang wanita muda berayun pasrah menuntun takdirnya, menemui sang tambatan hati nan kelak menjadi Proklamator bangsa, Sukarno.
Telegram Rahasia dan Pernikahan Jarak Jauh
Semua bermulai dari selembar kertas telegraf berkata Jepang. Di Bengkulu, jemari Fatmawati gemetar saat membaca pesan singkat nan padat dari seorang laki-laki nan sedang diasingkan takdir di Batavia. Pria itu tak lain adalah Sukarno.
Bukan surat cinta mendayu-dayu nan dikirimkan Bung Besar, melainkan sebuah petunjuk lamaran tegas nan menentukan arah hidupnya. "Fatmawati, nikah dengan wakil; ialah Saudara opseter Sarjono, tanggal 1 Juni 1943 berangkat ke Jakarta."
Kabar itu tentu memantik kepanikan lembut di keluarga. Ayah Fatmawati sempat ragu mendalam, gimana mungkin seorang putri kesayangan dinikahkan tanpa kehadiran sang mempelai laki-laki di sampingnya, terpisah lautan luas? Namun tekad dan takdir mengalahkan keraguan.
Izin pun akhirnya luluh. Basarudin, datuk Fatmawati, bertindak sebagai wali nikah, sementara Opseter Sarjono berdiri tegak mewakili kehadiran Sukarno.
Menyeberang Selat, Merawat Rindu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4415470/original/037518200_1683199930-20230504-Revitalisasi-Stasiun-Tanah-Abang-Tallo-2.jpg)
Perbesar
Resmi berstatus sebagai istri Bung Karno melalui pernikahan jarak jauh, Fatmawati kudu mengemas kenangan. Bersama keluarganya, dia meninggalkan tanah kelahirannya, Bengkulu. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan menuju Pulau Jawa pun dimulai—sebuah pengembaraan nan menjadi saksi bisu sungguh besarnya cinta dan kepatuhan Fatmawati pada Sang Bung Besar.
Perjalanan diawali menumpangi kereta api menuju Lubuk Linggau, dilanjutkan perjalanan darat hingga menyeberang Selat Sunda melalui Pelabuhan Teluk Betung. Di atas gelombang laut nan mengayun kapal, Fatmawati tak sanggup menahan keharuan. Jemarinya menggoreskan tinta dalam kitab Catatan Kecil Bersama Bung Karno, merekam keharuan hatinya:
“Kapan saya bakal kembali mengunjungi Bengkulu, wilayah kelahiranku, di mana Datukku kutinggalkan?”
Setibanya di Pelabuhan Merak, rombongan Fatmawati disambut dan dijemput menggunakan mobil menuju Rangkasbitung. Di kota mini ini, mereka menumpang menginap di kediaman salah satu camat nan mengenali Sukarno.
Malam itu, keraguan menggelayut di meja makan. Tuan rumah dan keluarganya susah percaya bahwa gadis muda nan anggun di hadapan mereka adalah istri sah dari sang tokoh pergerakan nasional. Berita nan mereka baca di koran-koran menyebut Sukarno sedang sibuk menggelar safari politik di Jawa Timur. Dengan tutur kata nan santun, Fatmawati menceritakan pernikahan wali nan baru saja dilangsungkan. Takjub dan haru seketika menyeruak di ruang makan sederhana itu.
Keesokan harinya, tepat pukul 11.00 siang, family camat mengantarkan Fatmawati ke Stasiun Rangkasbitung. Suara derak roda besi mulai terdengar saat kereta perlahan bergerak menuju Tanah Abang. Di kembali jendela kereta, Fatmawati menatap hamparan sawah dan pepohonan nan berganti rupa. Jalur Rangkasbitung–Tanah Abang itulah nan menjadi saksi bisu detik-detik berdebar menuju pelukan sang suami.
Becak Senja di Jalan Pegangsaan
Perbesar
Dua jam perjalanan melintasi rel membawa Fatmawati tiba di Stasiun Tanah Abang. Di peron nan riuh, beberapa tokoh krusial pergerakan telah menunggunya atas perintah Sukarno melalui telegram lanjutan. Di antara mereka tampak Mr. Sartono, Nyonya Prawoto, dan Ir. Sakirman.
Tanpa buang waktu, Fatmawati dan family diantarkan menuju kediaman pejabat Hoofdbestuur Muhammadiyah, Kiai Mas Mansyur, di Jalan Waringin.
Seminggu lamanya Fatmawati menanti dengan sabar hingga Bung Karno menyelesaikan tugas politiknya di Jawa Timur. Pukul 17.00 WIB, saat langit Jakarta bersemburat jingga, Bung Karno akhirnya melangkah masuk ke rumah Kiai Mas Mansyur.
Pertemuan itu hangat dan bersahaja. Tanpa mobil mewah, Bung Besar membujuk istri mudanya menyusuri sudut-sudut kota Jakarta menumpangi sebuah becak menuju kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Tiga hari berselang, Fatmawati diperkenalkan kepada mertua, family besar, serta kawan-kawan perjuangan Bung Karno. Sejak hari itu, resmilah mereka hidup satu genting membina rumah tangga.
Kisah cinta ini sebenarnya telah mengakar jauh sebelum perjalanan kereta Rangkasbitung–Tanah Abang itu terjadi. Sebagaimana dicatat oleh Mohammad Hatta dalam kitab Memoir, benih-benih cinta itu bersemi saat Sukarno menjalani masa pengasingan oleh kolonial Belanda di Bengkulu.
Pesona, keteguhan, dan keanggunan Fatmawati sukses menaklukkan hati Bung Besar.
Namun, jalan menuju pelaminan itu bertabur kerikil tajam. Saat nuraninya terpikat pada Fatmawati, Bung Karno tetap terikat pernikahan dengan Inggit Garnasih, wanita setia nan menemani masa-masa terberat perjuangannya.
Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·