Hujan Guyur Kalbar dan Kalteng, OMC Diperpanjang hingga 14 September

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta -

Hujan hasil operasi modifikasi cuaca (OMC) membasahi wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Hujan buatan ini diharapkan membasahi lahan gambut serta memadamkan titik kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di sejumlah titik rawan.

Intervensi teknologi atmosfer ini langsung memicu hujan di beragam titik termasuk wilayah Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, hingga Kota Pontianak pada Jumat (4/10). Guyuran hujan sukses meningkatkan kelembapan tanah gambut, mendinginkan area terdampak, menipiskan kabut asap dan menekan kemunculan titik api baru.

Dalam OMC ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengoptimalkan support kajian cuaca dan pemantauan dinamika atmosfer. BMKG berkoordinasi intensif berbareng Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), BNPB, TNI Angkatan Udara, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim BMKG memantau pergerakan massa awan, arah angin, serta tingkat kelembapan udara secara real-time guna memastikan sasaran penyemaian awan tepat sasaran dan berkekuatan guna tinggi.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa keakuratan pasokan info cuaca menjadi syarat absolut keberhasilan misi pencegahan musibah ekologis ini. BMKG mengoptimalkan setiap potensi awan nan memungkinkan tim untuk menyemai garam demi mendukung percepatan pengendalian karhutla.

"Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut nan terdeteksi hotspot untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap," ujar Seto dalam keterangan, Sabtu (5/9/2026).

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengatakan info dari radar cuaca BMKG menjadi bekal utama armada udara campuran untuk menerbangkan misi penyemaian awan nan dikendalikan dari Posko OMC di Pangkalan Udara Supadio, Kubu Raya. OMC di Kalbar dengan pembiayaan KLH/BPLH berjalan sejak 22 Agustus hingga 4 September 2026.

"Dalam operasi ini, petugas menerbangkan 27 sorti dengan total bahan semai 24.600 kilogram garam murni (Natrium Klorida/NaCl) pada ketinggian 6.000 hingga 10.000 kaki untuk menembus awan hujan potensial," ujar Budi.

OMC di Kalbar-Kalteng Diperpanjang

Secara paralel, pemerintah juga menggelar OMC di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026 nan telah mencatatkan 10 sortie penerbangan dengan total 8.000 kg NaCl. Hasilnya menunjukkan adanya kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan.

Melihat efektivitas hasil dan kebutuhan lapangan, pemerintah memperpanjang penyelenggaraan OMC di Kalbar dan Kalteng pada 5 hingga 14 September 2026 dengan support pembiayaan dari Kementerian Kehutanan dan BNPB.

Seto menegaskan, integrasi teknologi kajian cuaca BMKG dalam OMC menandai pergeseran paradigma tata kelola musibah ekologis di Indonesia. Pemerintah tidak lagi sekadar melakukan pemadaman reaktif saat api membesar, melainkan memprioritaskan tindakan pencegahan awal nan terukur.

Melalui kerjasama lintas sektoral ini, BMKG berkomitmen terus menyediakan kajian meteorologi terbaik guna menjaga kualitas udara, membasahi ekosistem gambut, dan melindungi masyarakat dari ancaman bahaya kabut asap.

(jbr/mei)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News