Foto: Shutterstock.com
- Hidup jadi penderita hipertensi itu tidak menyenangkan. Bener, deh.
Setiap pagi selalu dibuka dengan tanggungjawab konsumsi obat secara tepat waktu, disusul sarapan tawar demi membatasi asupan natrium. Rasa pusing alias pegal di area leher belakang nan kerap datang jadi sinyal peringatan saat tekanan darah melonjak. Di kembali kondisi bentuk tersebut, tembok pembuluh darah nan terus menahan tekanan tinggi bekerja keras seumpama pipa nan kian rapuh.
Mau kulineran juga kudu pikir-pikir. Masakan lezat harian seperti semur ayam, soto ayam, cimol, alias bakso kudu dijaga ketat asupan garamnya. Alhasill, mau jalan-jalan sembari kulineran nggak bisa sembarangan. Salah dikit, hipertensi menghantui dari belakang.
Foto: Shutterstock.com
Jika dibiarkan tanpa kontrol ketat, akibat besar seperti stroke, kandas jantung, kerusakan ginjal, hingga gangguan penglihatan bisa mengintai. Konsumsi garam berlebihan memang menjadi pemicu utama meningkatnya akibat hipertensi. Saat kadar natrium berlebih di dalam darah, tubuh menahan cairan ekstra nan memperberat kerja pembuluh darah dan organ jantung.
Menurut Kementerian Kesehatan RI dan WHO, pemisah kondusif konsumsi garam harian orang dewasa berada di nomor 2.000 mg natrium, alias setara satu sendok teh (lima gram) garam dapur. Angka ini sudah mencakup seluruh asupan natrium dari makanan kemasan, camilan, hingga saus olahan. Tekanan hipertensi sendiri dipengaruhi aspek kompleks seperti pola makan tinggi lemak jenuh dan gula, kurang aktivitas fisik, riwayat genetik, usia, stres, serta kebiasaan merokok.
Cara Mengurangi Garam dalam Makanan untuk Penderita Darah Tinggi
Menjaga keseimbangan tekanan darah sebenarnya tidak kudu menyiksa indra pengecap dengan sajian nan hambar. Penyesuaian rasa dapat dimulai dengan mengurangi takaran garam secara berkala sebesar 10–20% agar indra pengecap beradaptasi secara alami.
Eksplorasi ramuan alami seperti bawang putih, bawang merah, ketumbar, hingga merica sangat efektif memperkuat aroma original bahan makanan tanpa mengandalkan garam dapur. Penambahan sensasi masam segar dari perasan jeruk nipis, lemon, alias cuka juga bisa menyamarkan rasa asin nan berkurang.
Foto: Shutterstock.com
Selain itu, penggunaan MSG secukupnya dapat menjadi pengganti cerdas. Kandungan natrium dalam MSG rupanya jauh lebih sedikit dibandingkan garam dapur biasa. Rasa lezat dari MSG secara medis merangsang produksi cairan pencernaan di lambung, sehingga nutrisi makanan terserap optimal.
MSG seperti produk Sasa terbuat dari fermentasi tetes tebu alami nan menghasilkan protein glutamat secara alami dan diproses higienis menjadi kristal putih tidak berbau. Keamanan MSG pun telah teruji oleh lembaga internasional seperti WHO, FDA-USA, Komunitas Eropa, hingga MD-BPOM, Kemenkes RI, dan Sertifikat HALAL MUI. Untuk dewasa, batas konsumsi micin 4 hingga 6 gram per hari alias setara 1 sendok teh.
Makanan nan Sebaiknya Dibatasi Penderita Darah Tinggi
Agar kestabilan pembuluh darah tetap terjaga, ada beberapa kategori santapan nan wajib dibatasi. Makanan tinggi garam dan natrium berada di urutan utama, seperti ikan asin, telur asin, keripik asin, serta jenis produk nan diawetkan menggunakan garam. Produk olahan daging seperti sosis, kornet, nugget, dan daging asap juga masuk dalam daftar pembatasan lantaran mengandung pengawet serta kadar natrium tinggi.
Makanan sigap saji seperti burger, ayam goreng tepung instan, dan kentang goreng pun berpotensi memperburuk keadaan akibat kombinasi garam dan lemak. Tidak berakhir di situ, sajian tinggi lemak jenuh seperti gorengan, jeroan, santan kental, serta bagian daging berlemak perlu dihindari. Hidangan tinggi gula seperti minuman bungkusan manis, kue, hingga hidangan penutup juga patut dibatasi lantaran bisa memicu kenaikan berat badan dan memperberat kerja sistem pembuluh darah.
Tips Memasak untuk Penderita Darah Tinggi
Proses mengolah hidangan sehat di dapur sebetulnya sangat mudah dipraktikkan. Kuncinya ada pada pemangkasan porsi garam secara berjenjang dalam masakan sehari-hari. Pemfungsian ramuan aromatik alami seperti serai, daun salam, lengkuas, dan jahe perlu diprioritaskan untuk mendongkrak aroma masakan.
Foto: Shutterstock.com
Cobalah berkarya di dapur dengan mencoba jenis masakan. Misalnya, resep nasi uduk nan sehat dengan tambahan lauk ayam suwir rebus dan bukan gorengan. Atau, bisa mencoba resep opor ayam tanpa santan. Sekalinya berkarya di dapur, pasti kelak bakal ketagihan deh mencoba jenis kuliner unik Indonesia nan lezat.
Mengombinasikan sedikit MSG dengan takaran garam nan sudah dikurangi merupakan trik tepat untuk memberikan rasa umami tanpa berlebihan. Pemilihan bahan makanan segar seperti sayuran, buah, daging, dan ikan segar jauh lebih disarankan daripada bahan makanan olahan alias pembekuan berpembuat pengawet. Pembatasan penggunaan saus alias ramuan instan seperti kecap asin, saus tiram, dan kecap manis.
(brl/lak)
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·