Hipdut, Bakal Jadi Pengganti Dangdut?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Musisi hipdut Tenxi tampil pada AntiNRML Tour 2026 Jakarta di Bengkel Space SCBD, Minggu (26/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Musik hipdut belakangan semakin mudah ditemukan di beragam platform digital. Perpaduan hiphop dan dangdut ini ikut mencuri perhatian anak muda, terutama lewat lagu-lagu nan viral di media sosial.

Popularitasnya pun memunculkan pertanyaan, apakah hipdut hanya menjadi tren sesaat alias justru bakal menggantikan posisi dangdut sebagai musik nan dekat dengan generasi muda?

Pengamat musik Aldo Sianturi menilai hipdut sebaiknya tidak dilihat sebagai pengganti dangdut. Menurutnya, hipdut justru menjadi salah satu corak perkembangan dari dangdut nan sejak dulu dikenal sebagai musik nan mudah beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Hipdut itu salah satu perkembangan dangdut, bukan pengganti dangdut,” ujar Aldo Sianturi kepada kumparan.

Pengamat musik Aldo Sianturi. Foto: Dok. Istimewa

Menurut Aldo, dangdut sendiri mempunyai sejarah panjang dalam menyerap beragam pengaruh musik. Oleh lantaran itu, pertemuan dangdut dengan hiphop dan trap nan terjadi saat ini sebenarnya tetap menjadi bagian dari perjalanan musik tersebut.

“Dangdut itu dari dulu memang aliran nan sangat adaptif. Secara sejarah, dangdut sendiri lahir dari campuran Melayu, India, Arab, hingga pengaruh modern lain,” katanya.

Hipdut Dekat dengan Selera Gen Z

Meski bukan pengganti dangdut, kemunculan hipdut menunjukkan adanya perubahan dalam langkah anak muda menikmati musik. Generasi sekarang dinilai tidak terlalu terikat dengan batas-batas genre.

Aldo mengatakan anak muda saat ini lebih memilih musik berasas vibe, emosi, dan identitas nan mereka rasakan. Mereka bisa menikmati beragam aliran dalam waktu berbarengan tanpa merasa kudu memilih satu jenis musik.

“Generasi sekarang lebih cair. Mereka bisa mendengarkan Hindia pagi hari, lampau malamnya joget hipdut tanpa merasa kontradiktif. Playlist anak muda hari ini sangat campur,” tuturnya.

Musisi hipdut Tenxi tampil pada AntiNRML Tour 2026 Jakarta di Bengkel Space SCBD, Minggu (26/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menurut Aldo, hipdut menjadi menarik lantaran menawarkan perpaduan antara komponen lokal dan modern. Beat hiphop alias trap nan sudah berkawan dengan Gen Z berjumpa dengan kendang, belengkok dangdut, hingga lirik nan dekat dengan keseharian.

Hal tersebut membikin hipdut terdengar familiar sekaligus baru. Lagu seperti “Garam & Madu” milik Tenxi, Naykilla, dan Jemsii, dinilai menjadi salah satu contoh gimana dangdut dapat dikemas lebih urban dan relevan dengan pendengar muda.

“Hipdut muncul lantaran ada pertemuan antara beat hip-hop/trap dengan rasa dangdut nan memang sejak dulu sangat dekat dengan DNA musikal masyarakat Indonesia. Jadi sebenarnya ini bukan sesuatu nan asing, hanya dikemas dengan bahasa generasi baru. Lagu seperti “Garam & Madu” misalnya, sukses memperlihatkan bahwa dangdut bisa terdengar urban, playful, dan relevan buat Gen Z,” jelas Aldo.

Musisi hipdut Naykilla tampil pada AntiNRML Tour 2026 Jakarta di Bengkel Space SCBD, Minggu (26/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Selain itu, hipdut juga dinilai sukses membikin dangdut terasa lebih diterima oleh anak muda. Jika dulu dangdut kerap dianggap mempunyai stigma tertentu, maka sekarang musik tersebut justru bisa muncul dalam beragam konten dan menjadi bagian dari style hidup digital.

Aldo memandang kondisi ini sebagai tanda bahwa pemisah antara aliran musik semakin mencair. Dangdut dengan trap, koplo dengan EDM, hingga lirik Jawa dengan flow hip-hop sekarang dapat diterima secara lebih natural.

Bisa Jadi Arus Utama, Asal Tak Cuma Kejar Viral

Meski peluangnya besar, Aldo mengingatkan bahwa hipdut tetap menghadapi tantangan. Tren musik nan terlalu mengandalkan formula viral berpotensi membikin pendengar sigap jenuh jika musisi hanya mengulang pola nan sama.

Menurutnya, viral semestinya menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir. Musisi hipdut tetap perlu membangun karakter, katalog lagu, organisasi pendengar, hingga penampilan live nan kuat.

“Viral itu pintu masuk, bukan karier,” tegas Aldo.

Oleh lantaran itu, hipdut dinilai punya kesempatan untuk berkembang menjadi bagian krusial dari musik Indonesia. Namun, bukan dengan menggantikan dangdut, melainkan melanjutkan perjalanan dangdut dalam bahasa nan lebih dekat dengan generasi sekarang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan