Jakarta -
Stasiun Mampang sekarang berdiri sunyi di tengah padatnya lampau lintas kereta. Berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat, stasiun ini terbengkalai dan perlahan terlupakan.
Berdasarkan unggahan akun IG resmi KAI Commuterline, Stasiun Mampang sudah beraksi sejak masa pemerintah Hindia Belanda pada 1922. Bersama Stasiun Karet, stasiun ini menjadi penunjang lintas Tanah Abang-Manggarai.
Namun kala itu, keduanya hanya berfaedah sebagai stopplaats, ialah tempat perhentian sementara nan tidak mempunyai beveiliging (perangkat kendali persinyalan) maupun stationchef (kepala stasiun). Operasionalnya hanya ditangani penjaga loket nan menjual karcis kepada calon penumpang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki masa pascakemerdekaan, Stasiun Mampang dan Karet sempat "mati suri" dan tidak lagi beroperasi. Pada era Orde Lama, lintas Tanah Abang-Manggarai hanya digunakan untuk pikulan barang.
Akibatnya, gedung kedua stasiun peninggalan Belanda tersebut sempat dibongkar. nan tersisa hanya peron untuk naik turun penumpang nan terbengkalai selama lebih dari 40 tahun.
Pada 1987, kedua stasiun kembali diaktifkan dan melayani penumpang. Namun, usia operasional Stasiun Mampang tidak berjalan lama. Stasiun ini kembali ditutup pada 2007, berbeda dengan Stasiun Karet nan tetap beraksi hingga kini.
Kondisi Stasiun Mampang Kini
Berdasarkan pantauan detikcom, Senin (20/4/2026), Stasiun Mampang sekarang sudah tidak terawat. Tumpukan beragam jenis sampah terlihat baik di bagian luar maupun dalam area stasiun.
Bangunan mini nan dulu digunakan sebagai loket tiket juga tampak memprihatinkan. Bangunan beton tersebut sudah tidak mempunyai genting maupun jendela, dengan tembok nan kusam dan penuh coretan.
Sementara di sisi lain stasiun, hanya tersisa tiang menyerupai kerangka halte dengan tulisan "Mampang". Namun, tidak tersedia jalur unik bagi orang untuk menyeberang dengan aman.
Meski gedung stasiun terbengkalai, jalur rel di depannya tetap aktif dilintasi KRL setiap hari. Tak jarang, rangkaian KRL nan melintas berakhir sejenak di depan stasiun untuk menunggu sinyal masuk ke stasiun berikutnya.
Dalam kondisi tersebut, terlihat bahwa stasiun nan sudah berdiri sejak masa kolonialisme Belanda ini tidak lagi layak digunakan untuk aktivitas naik turun penumpang.
Peron nan ada tidak cukup tinggi untuk menjangkau pintu KRL saat ini, hanya setinggi roda besi kereta. Selain itu, panjang peron juga hanya cukup menampung sekitar empat gerbong.
Kondisi peron pun sangat tidak layak lantaran hanya berupa tanah dan kerikil. Permukaannya semakin tidak rata akibat pecahan puing, kaca, serta ranting pohon, sehingga tidak memungkinkan digunakan untuk naik turun penumpang.
(fdl/fdl)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·