Hidden Engine Pertumbuhan Bisnis: Networking bukan Sekadar Koneksi, tapi Kepercayaan

Sedang Trending 17 jam yang lalu
 Networking bukan Sekadar Koneksi, tapi Kepercayaan Elizabeth (kedua dari kanan) saat obrolan tentang 'High Level Networking: The Hidden Engine Behind Retail Growth' pada Indonesia Retail Summit & Expo 2026.(DOK Indonesia Retail Summit & Expo 2026)

DI tengah persaingan upaya nan semakin kompetitif, networking kerap dianggap sebagai salah satu jalan untuk membuka akses, mendapatkan pelanggan, maupun memperluas kesempatan usaha. Namun, Strategic Networking Advisor Elizabeth Setiaatmadja mengingatkan bahwa networking bukanlah sekadar aktivitas berganti kartu nama alias mengumpulkan kontak orang-orang penting.

Menurut Elizabeth, kekuatan networking justru terletak pada keahlian seseorang membangun hubungan, menciptakan kepercayaan, dan memberikan nilai bagi orang lain sebelum mengharapkan sesuatu sebagai imbalan.

“Networking itu bukan langkah mudah sukses, bukan langkah sigap kaya. Tapi langkah membangun hubungan, langkah panjang nan lekat,” ujar Elizabeth saat menjadi pembicara dalam sesi 'High Level Networking: The Hidden Engine Behind Retail Growth' pada Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026 di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Jakarta, Rabu (26/8).

Elizabeth nan dikenal sebagai Strategic Networking Partner & Advisor serta Maxwell Thought Leader membagikan pengalaman perjalanan pekerjaan dan bisnisnya, sekaligus menjelaskan gimana networking telah menjadi bagian krusial dalam beragam fase kehidupannya.

Saat mengikuti beragam pameran, termasuk pameran pernikahan, Elizabeth tidak hanya menawarkan jasa video production kepada calon pengantin. Ia juga berupaya membantu mereka memandang kebutuhan lain nan mungkin belum terpikirkan. 

“Udah dapat baju belum? Udah dapat ini belum? Ada nan bisa saya bantu nggak?” menjadi corak perhatian nan dia berikan kepada calon klien.

Bagi Elizabeth, perihal tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, justru di situlah konsep extra value bekerja.

Bisnisnya adalah video production, tetapi dia tidak membatasi kepeduliannya hanya pada jasa nan dijual. “Bisnisnya adalah video production. Tapi jika pengantinnya belum dapat baju, ditanyain. Ini tidak berasosiasi dengan baju nan dia pakai. Tapi itu extra value,” jelasnya.

MEMBERI SEBELUM MEMINTA
Bagi Elizabeth, inilah perbedaan antara sekadar mempunyai koneksi dengan betul-betul membangun networking. Ia menilai banyak orang tetap memandang networking secara transaksional. Seseorang mendekati orang lain lantaran memandang jabatan, nama besar, akses, alias potensi upaya nan dapat diperoleh.

Padahal, mempunyai nomor telepon seseorang tidak otomatis berfaedah mempunyai hubungan dengannya. Elizabeth menilai kualitas networking ditentukan oleh tingkat kepercayaan nan terbangun, bukan jumlah kontak nan dimiliki. Karena itu, pendekatan nan dia gunakan adalah memberikan extra value terlebih dahulu.

Ketika seseorang merasa mendapatkan faedah dari sebuah hubungan tanpa langsung dibebani kepentingan bisnis, kepercayaan bakal lebih mudah tumbuh. “Kalau saya sudah memberikan extra value, orang malah lebih happy mendengar advice saya. Karena mereka tahu saya tetap neutral,” ujarnya.

PRINSIP NETWORKING TERUJI SAAT PANDEMI
Pandangan Elizabeth mengenai kekuatan networking semakin teruji ketika pandemi COVID-19 melanda. Di tengah situasi susah tersebut, dia berbareng sejumlah kawan terlibat dalam aktivitas sosial dan kemanusiaan, termasuk membantu penyediaan perangkat pelindung diri (APD).

Gerakan tersebut tidak dimulai sebagai aktivitas upaya untuk mengejar keuntungan. Namun, jaringan nan selama ini dibangun justru membantu aktivitas tersebut berkembang dengan cepat.

Elizabeth memanfaatkan media sosial dan jaringan pertemanan untuk menyebarkan informasi. Saat itu, akun IG miliknya mempunyai sekitar 2.000 pengikut.

Namun, info mengenai aktivitas tersebut kemudian dibagikan oleh jaringan pertemanan dan orang-orang media. Dalam waktu relatif singkat dan tidak terasa program ini hasil kerja sama beragam lapisan masyarakat sukses menghasilkan sumbangan sebesar 364 ribu APD yg dibagikan ke seluruh Indonesia.

Bagi Elizabeth, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa networking tidak selalu kudu dimulai dari kepentingan bisnis. Ketika hubungan dibangun dengan ketulusan dan seseorang mempunyai kemauan untuk datang serta membantu, kesempatan dapat muncul dengan sendirinya.

NETWORKING SEBAGAI INVESTASI JANGKA PANJANG
Dalam konteks industri retail dan upaya secara lebih luas, Elizabeth memandang networking sebagai salah satu aset nan tidak bisa dibangun dalam semalam. Apalagi, perkembangan upaya saat ini membikin pelaku upaya tidak hanya berhadapan dengan kejuaraan produk dan harga, tetapi juga kudu bisa membangun pengalaman, kepercayaan, dan hubungan dengan pengguna maupun mitra.

Karena itu, networking tidak semestinya dipahami sebagai 'jalan pintas' menuju kesuksesan. “Networking itu bukan langkah mudah sukses, bukan langkah sigap kaya,” tegasnya. “Kita melakukan bagian kita, ialah yes, I want to come. Tapi selebihnya, jalan dan sebagainya itu menurut saya bukan kita nan menentukan,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi relevan ketika disampaikan dalam sesi 'High Level Networking di Indonesia Retail Summit & Expo 2026' nan mempertemukan para pelaku industri, pemimpin bisnis, brand, serta beragam pemangku kepentingan dalam ekosistem retail. (H-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia