Herto Bastian Abul, Angkat Bahasa Daerah Tanah Kelahiran lewat Musik Pop Kontemporer

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Herto Bastian Abul, Angkat Bahasa Daerah Tanah Kelahiran lewat Musik Pop Kontemporer Herto Bastian Abul(Dok Istimewa)

MUSIK Indonesia tengah memasuki fase ketika identitas lokal justru menjadi kekuatan untuk menembus pasar nan lebih luas. Bahasa daerah, dialek Indonesia Timur, hingga perpaduan dengan bahasa Inggris sekarang datang dalam karya-karya nan dikemas secara modern.

Tren tersebut terlihat dari kejadian Tabola Bale, musik hipdut, hingga semakin kuatnya warna musik Indonesia Timur. Di tengah arus itu, penyanyi dan penulis lagu asal Manggarai, Herto Bastian Abul, konsisten membawa bahasa dan pengalaman dari tanah kelahirannya ke dalam musik kontemporer.

"Kreativitas tanpa identitas adalah hampa," kata Herto dalam keterangannya, Kamis (3/9).

Eksplorasi Herto menggunakan bahasa Manggarai, Indonesia, dan Inggris dalam sejumlah karyanya. Eksperimen tersebut antara lain terlihat dalam Ca Nai (2013), album Laboratory (2019), serta Neka Tombo Ata dalam EP Voice Note (2020) nan mempertemukan tiga bahasa sekaligus.

Namun, Herto tidak selalu mencampurkan bahasa. Momangm E dan Ca Ca Laku Lelon (2026) sepenuhnya memberi ruang bagi bahasa Manggarai. Sebaliknya, You’re My God (2020) dan Here I Am (2023) menggunakan bahasa Inggris.

Warna Indonesia Timur semakin terasa dalam Sa Minta Maaf (2024), Tuhan Atur Ulang (2025), dan Apa Masalahnya (2026). Sementara Sampe Ancor! (2025) mempertemukan Melayu Indonesia Timur dengan bahasa Manggarai dan Tobelo.

Langkah tersebut sejalan dengan perubahan lanskap musik Indonesia. Kehadiran Spotify, YouTube, dan TikTok membikin pendengar semakin terbiasa menikmati karya lintas bahasa dan budaya.

Fenomena serupa tampak dalam Tabola Bale karya Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel nan memadukan Melayu Indonesia Timur, bahasa wilayah Flores, dan Minang.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa musik wilayah dan musik terkenal tidak lagi mempunyai pemisah nan kaku. Bahasa lokal tidak kudu selalu datang dalam musik tradisional, sementara penggunaan bahasa Inggris tidak otomatis menghilangkan identitas Indonesia.

Bagi musisi seperti Herto, identitas justru dapat menjadi jembatan untuk membawa cerita dari wilayah ke ruang dengar nan lebih luas.

"Musik boleh berubah mengikuti zaman, tetapi akar budaya tetap dapat menjadi bagian dari kekuatannya," ujarnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia