Hendak Pecahkan MURI, PDIP Gelar Pekan Peduli Sampah Nasional Bulan Depan

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Jakarta -

PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Pekan Peduli Sampah Nasional pada tanggal 9-14 November 2026. Kegiatan dipusatkan di Jakarta, tapi pelaksanaannya digelar di seluruh Indonesia dengan melibatkan kader PDIP.

"Nanti kami sebagai Ketua DPP Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tanggal 9 sampai 14, dicatat adik-adik, bakal mengadakan Pekan Peduli Sampah Nasional," kata Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDIP, Eriko Sotarduga, dalam webinar di area Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Malang Selatan, Sabtu (17/10/2026).

"Kita bakal memecahkan rekor MURI kelak tanggal 14 November," tambahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Eriko, aktivitas itu menyasar sampah organik rumah tangga nan diolah menjadi pupuk. Dia menyoroti akibat pupuk kimia terhadap tanah.

"Bapak-bapak tahu tidak apa pengaruh samping dari pupuk kimia? Tanah menjadi keras," ujarnya.

Karena itu, Eriko mendorong pengolahan sampah organik dengan bio-decomposer. "Kita tumpuk sampah organik di sana, jejak sisa makanan, daun-daunan dan lain-lain, tapi kelak kudu diberikan namanya bio-decomposer untuk apa? Agar tidak aroma dan proses itu menjadi lebih cepat," ucapnya.

Eriko mengaitkan aktivitas itu dengan Hari Pahlawan pada 10 November. "Kita bisa menjadi pahlawan di lingkungan kita masing-masing," katanya.

Sementara itu, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan pada puncak aktivitas bakal dilakukan pembersihan di ibu kota provinsi dan kabupaten dengan membersihkan sampah dan memisah-misahkan sampah sebagai bagian aktivitas Merawat Pertiwi. Menurutnya, sampah organik rumah tangga bakal diolah di tingkat RT melalui program TEBA.

"Kita olah, kami bakal membikin TEBA. TEBA itu sampah organik dimasukkan di situ. Bagi nan ikut webinar kelak nan perlu kelak kami berikan datanya. Termasuk diberikan biodekomposer agar sampahnya tidak berbau, sampah organik rumah tangga itu agar tidak berbau," ujar Hasto.

Dia menautkan aktivitas itu dengan tata ruang dan moratorium hutan. "Maka politik tata ruang, moratorium hutan-hutan kita kudu dilakukan. Tidak boleh ada konversi lahan pertanian untuk kepentingan lain lantaran itu menyangkut masa depan anak cucu kita. Kita kudu berdaulat di bagian pangan," katanya.

Hasto menyebut Pekan Peduli Sampah Nasional bakal menjadi arena berbagi pengalaman kepala wilayah dari partainya. "Termasuk Bu Risma di dalam mengelola sampah, mengelola lingkungan, membikin taman-taman kota, politik tata ruang, kemudian penggunaan teknologi," ucap Hasto.

Pengalaman Tunas Hijau

Dalam forum nan sama, penggerak lingkungan, M Zamroni, menceritakan pengalaman mengelola sampah sejak tahun 1999 melalui Tunas Hijau. Ia mengaku baru sadar soal sampah setelah mengikuti pertukaran pemuda ke Australia.

"90% masyarakat di Jawa Timur waktu itu tetap buang sampah di sekitarnya, sembarangan. Kalau di sana susah, apalagi 99% buang sampah pada tempatnya," ucap Zamroni.

Sekembalinya dari Australia, dia berbareng tim mulai membujuk penduduk membuang sampah pada tempatnya, dengan menjadikan saku sebagai tempat sampah sementara dan meminimalkan penggunaan air mineral bungkusan sekali pakai. Sejak 2002, dia merangkul anak-anak dan remaja melalui akademi Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup.

"Ada nan sejak pandemi apalagi 2020 itu satu anak dengan keluarganya itu mengolah sampah organik 125 kilogram dalam sehari. Di rumah," ujarnya.

Zamroni juga menyebut ada siswa sekolah dasar nan mengolah 110 kilogram sampah organik sehari, sehingga sebulan mencapai 3,3 ton.

Dialog soal Lahan di Surabaya

Lebih lanjut, Zamroni juga bersenggolan dengan Tri Rismaharini dalam sesi tersebut. Ia menyoroti sulitnya mencari lahan untuk menanam pohon di Surabaya lantaran nilai tanah nan mahal.

"Kalau Surabaya nanam pohon itu mahal. Ibaratnya jika mau nanam pohon ya mesti seyogianya beli tanahnya juga. Kalau tanah di Surabaya kok ada Rp 2 juta per meter. Pohonnya murah Rp 25.000 tapi mau ditaruh dimana?" katanya.

Risma nan merupakan mantan Wali Kota Surabaya dan mengikuti webinar langsung angkat suara. "Kontak saya ya jika butuh lahan untuk menanamnya, kelak mari kita kerjakan bersama-sama," ujar Risma.

(fas/maa)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑