
Anggota DPR RI Komisi II, Azis Subekti
JAKARTA – Perbincangan mengenai potensi kondisi darurat selama tujuh hari ramai diperbincangkan di masyarakat belakangan ini. Kabar tentang listrik dan ATM bakal meninggal selama tujuh hari beredar luas dan tanpa sumber, tanpa otoritas, tanpa injakan teknis nan masuk akal.
Anggota DPR RI Komisi II, Azis Subekti menegaskan, tidak ada pengumuman resmi dan tidak ada lembaga negara nan membenarkan isu viral tersebut.
“Dalam sepekan itu, kita memandang pola nan kian mengeras di ruang digital, info dinilai bukan dari kebenarannya, melainkan dari keramaiannya. Pertanyaan “benar alias tidak” kalah sigap dari “sudah viral alias belum,”ujar Azis, Senin (2/2/2026).
Praktisi Bigdata Analis, ini menjelaskan, di sinilah kerentanan publik bermula. Emosi menjadi pintu masuk utama, sementara literasi tertinggal di belakang.
“Bahaya sesungguhnya tidak berakhir pada kepanikan sesaat. Hoaks nan dibiarkan beredar membentuk kebiasaan kolektif, bereaksi dulu, berpikir belakangan. Dalam jangka panjang, ini menggerogoti kepercayaan pada institusi, pada informasi, apalagi pada sesama warga,”bebernya.
Politikus Partai Gerindra ini menambahkan, masyarakat nan terus diguncang berita tiruan bakal capek membedakan mana ancaman nyata dan mana rekayasa.
“Di titik itu, ketika ancaman sungguhan datang, peringatan justru bisa diabaikan lantaran dianggap sekadar rumor viral lagi,” ucapnya.
Era ini kata dia, menuntut amal baru nan jarang dibicarakan, kesabaran digital. Kemampuan untuk berakhir sejenak sebelum membagikan, bertanya sebelum percaya, dan mencari sumber sebelum panik.
“Negara memang memikul tanggung jawab besar untuk datang dengan komunikasi publik nan sigap dan kredibel. Tetapi penduduk juga mempunyai tanggung jawab etis nan tak kalah penting: tidak menjadikan emosi pribadi sebagai kendaraan penyebaran kabar,” ujarnya.
8 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·