Jakarta, CNN Indonesia --
Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menuding pihak luar negeri nan tidak suka dengan upaya swasembada daya Indonesia, misalnya melalui program B50 hingga B100.
"Pasti ada pihak-pihak luar negeri nan tidak suka, pasti," ujar Hashim dalam wawancara unik dengan CNNIndonesia, Kamis (22/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hashim awalnya menyatakan bahwa program B50 hingga B100 di Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada daya dari luar negeri. Bahkan, bisa mengurangi sebesar Rp200-300 triliun dari pengeluaran impor Indonesia.
Dengan adanya komitmen Indonesia untuk pengadaan program biodiesel tersebut, Hashim mengatakan ada pihak-pihak luar negeri nan merasa dirugikan.
"Nanti pasar mereka kan semakin berkurang. nan mereka sukses tiap tahun jual 600, 500-600 triliun setiap tahun kelak ya kita bakal kelak kurangi kan," katanya.
Lebih lanjut, Hashim menjelaskan beberapa latar belakang terbentuknya program swasembada daya di Indonesia. Salah satunya adalah gimana situasi daya Indonesia rentan terpengaruh oleh situasi geopolitik dunia.
"Setiap kali ada gejolak, misalnya ada perang di dulu di Ukraina, sekarang perang di Teluk ya, Teluk Persia antara Amerika, Israel, dan Iran, sekarang apalagi hari ini ada antara Yaman Houthi dengan Arab Saudi, Indonesia nan kena. Indonesia kena dampaknya, akibat negatifnya," ujarnya.
Maka dari itu, Hashim memandang ini sebagai kesempatan bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor luar negeri.
Sementara itu, impor daya ini juga disebut memberi beban besar bagi ekonomi Indonesia.
"Rp500-600 triliun rupiah itu beban besar bagi ekonomi kita. Kita kudu keluarkan dolar, kita kudu keluarkan kurs asing dolar untuk mengimpor ya, dan ini berat sekali untuk apa ekonomi kita," ujarnya.
Terlebih dengan kondisi rupiah nan dia sebut lemah, pengurangan impor justru menurutnya dapat membantu memperkuat nilai mata uang.
Oleh lantaran sifatnya nan padat karya, program swasembada daya melalui B50 ini juga, menurut Hashim, dapat membuka banyak lapangan kerja. Tak terkecuali, lapangan kerja nan masuk dalam kategori green jobs alias pekerjaan ramah lingkungan.
"Belum ada sampai sekarang robot alias ya alias apa nan bisa menggantikan manusia untuk untuk apa bagian pertanian ini. So saya kira ini kesempatan untuk masa depan kita menciptakan lapangan kerja nan cukup besar," kata Hashim.
(mou/fra)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·