Hari Kebersihan Menstruasi Dirayakan Tiap 28 Mei, Kenapa Penting Disorot?

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi Periode siklus menstruasi. Foto: Helena Nechaeva/Shutterstock

Setiap 28 Mei, bumi diajak untuk merayakan Hari Kebersihan Menstruasi atau Menstrual Hygiene Day. Ini merupakan momen untuk menyorot pentingnya edukasi dan pemahaman mengenai kesehatan dan kebersihan menstruasi. Meski terkesan sepele, pemahaman ini sangat krusial untuk disebarluaskan.

Hari Kebersihan Menstruasi pertama dirayakan pada 2014, satu tahun setelah diinisiasi oleh organisasi nirlaba asal Jerman, WASH United. Tahun ini, tema nan diangkat adalah Together For a Period Friendly World.

Dilansir situs resmi Menstrual Hygiene Day, pemilihan tanggal 28 Mei punya filosofi tersendiri. Angka ‘28’ diambil dari rata-rata rentang siklus menstruasi dalam sebulan, ialah 28 hari. Sementara itu, bulan Mei diambil dari nomor ‘5’ nan merepresentasikan rata-rata hari menstruasi seorang perempuan.

instagram embed

Menstruasi memang merupakan pengalaman ketubuhan alami perempuan. Meski begitu, tetap banyak stigma nan melekat pada menstruasi. Contohnya adalah penggunaan kata-kata pengganti “menstruasi” untuk menyensor, seperti “datang bulan”, “red day”, “dapet”, alias “tamu bulanan”.

Dilansir Clue, penggunaan nama pengganti dilakukan lantaran menstruasi tetap dianggap tabu dan kotor. Akibatnya, menstruasi dipandang sebagai topik nan dihindari untuk didiskusikan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan edukasi soal menstruasi.

Lantas, kenapa Hari Kebersihan Menstruasi sangat krusial untuk diperingati? Berikut penjelasan nan telah kumparanWOMAN rangkum dari beragam sumber, Ladies.

1. Memberantas stigma dan tabu soal menstruasi

Ilustrasi Menstruasi. Foto: Shutterstock

Akibat kurang pemahaman soal menstruasi, banyak stigma dan tabu nan menyebar di masyarakat. Contohnya adalah stigma bahwa darah menstruasi adalah darah kotor. Stigma ini berbahaya, lantaran menyebabkan banyak perempuan dikucilkan saat menstruasi. “Darah kotor” tersebut membikin mereka dianggap tak suci. Alhasil, para wanita itu tidak bisa beraktivitas dengan bebas.

“Kebersihan dan kesehatan menstruasi nan jelek bisa merusak hak-hak asasi perempuan, anak perempuan, dan mereka nan mengalami menstruasi. Ini memperburuk ketidaksetaraan sosial dan ekonomi,” ungkap UNFPA dalam laman resminya.

UNFPA menambahkan, sumber daya nan tidak memadai untuk mengelola menstruasi, ditambah dengan perilaku diskriminatif, tabu, dan stigma terhadap menstruasi dapat merendahkan martabat kemanusiaan.

2. Meningkatkan kesadaran bakal pentingnya kebersihan menstruasi

Ilustrasi Pembalut. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Di kota-kota besar, akses terhadap produk menstruasi hingga akomodasi penunjang kebersihan menstruasi seperti air bersih condong lebih mudah. Namun, di banyak wilayah, terutama di area terpencil dan perdesaan, akses terhadap hal-hal tersebut tetap terbatas.

Menurut info World Bank, setidaknya ada 500 juta wanita di seluruh bumi nan kesulitan mendapatkan akses terhadap produk menstruasi nan memadai serta akomodasi kebersihan. Hal ini juga tetap terjadi beragam wilayah di Indonesia, salah satunya di NTT.

UNICEF melakukan survei di 51 negara mengenai kebersihan dan kesehatan menstruasi perempuan. Hasilnya, 10 persen wanita di lima negara tidak mempunyai akses terhadap kebutuhan dasar mengenai menstruasi, seperti produk menstruasi memadai. Para wanita itu tidak memakai pembalut, tampon, alias menstrual cup; mereka hanya memakai tisu toilet, celana dalam biasa, alias apalagi tidak memakai apa-apa.

Kondisi tersebut diperburuk dengan rendahnya akses air bersih hingga ruang privasi untuk mengganti pembalut. Akibatnya, banyak wanita nan berisiko mengalami masalah kesehatan reproduksi dan tidak bisa beraktivitas normal.

Di sinilah pentingnya Hari Kebersihan Menstruasi. Momen ini datang untuk meningkatkan kesadaran bakal pentingnya mengelola kebersihan menstruasi. Peringatan ini turut menyajikan kebenaran bahwa tetap banyak wanita nan memerlukan support untuk mencapai kebersihan menstruasi memadai.

3. Memberdayakan perempuan

Ilustrasi wanita tetap beraktivitas dengan semangat saat menstruasi. Foto: Krakenimages.com/Shutterstock

Lewat peringatan Hari Kebersihan Menstruasi, semakin banyak wanita nan diberdayakan dengan edukasi. Dikutip dari Only My Health, edukasi nan baik mengenai kebersihan menstruasi bisa mendukung mereka untuk mengelola menstruasi dengan lebih baik.

Edukasi bisa membantu mengurangi stigma dan tabu soal menstruasi. Kebersihan menstruasi nan memadai bakal memperbaiki kualitas hidup perempuan.

4. Advokasi kebijakan

Hari Kebersihan Menstruasi juga menjadi perangkat pembelaan kebijakan kepada pemangku jabatan. Dengan penyebaran awareness, mereka didesak untuk memprioritaskan kesehatan menstruasi, seperti mempermudah akses produk menstruasi memadai, akomodasi sanitasi, hingga pendidikan menstruasi nan komprehensif.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan