Para produsen panel surya terus berupaya mengurangi jumlah perak dalam produk mereka. Hal ini menakut-nakuti sumber permintaan utama perak nan membantu mendorong nilai logam mulia tersebut ke level tertinggi sepanjang masa.
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (29/8), permintaan perak dunia dari industri tenaga surya diperkirakan bakal turun pada tahun 2026 untuk tahun kedua berturut-turut, menurut perkiraan BloombergNEF. Perak saat ini menyumbang sekitar seperlima dari biaya produksi modul surya.
Meskipun nomor tersebut turun dari puncaknya nan terlihat selama lonjakan nilai pada Januari 2026 lalu, nomor tersebut tetap jauh di atas 3 persen hingga 5 persen nan bertindak sebelum tahun 2024.
Dorongan untuk menghemat penggunaan logam ini muncul lantaran perang nilai nan berkepanjangan di China telah menghancurkan margin untung dan memaksa produsen panel surya nan lebih lemah gulung tikar.
Dengan nilai perak nan melonjak nyaris 150 persen pada tahun 2025, para produsen mempunyai insentif untuk menggunakan lebih sedikit logam tersebut.
Energi surya merupakan sumber permintaan krusial bagi pasar perak. Industri ini menyumbang nyaris seperlima dari permintaan perak dunia tahun lalu, dan 80 persen dari pertumbuhan permintaan selama dasawarsa terakhir, menurut BNEF.
“Ini merupakan pukulan besar dalam jangka pendek bagi sektor permintaan utama,” kata kepala riset logam mulia dan logam dasar JPMorgan Chase & Co, Greg Shearer.
Menurut catatan Juli, JPMorgan memperkirakan permintaan perak untuk sektor daya surya bakal turun sekitar 30 persen tahun ini, setara dengan sekitar 60 juta ons. Bank tersebut memperkirakan perihal itu bakal cukup untuk mendorong pasar perak, tidak termasuk persediaan dan aliran ETF, kembali seimbang setelah lima tahun mengalami defisit.
Analis BNEF, Yali Jiang, mengatakan kenaikan nilai perak selama beberapa tahun terakhir menjadi masalah nan lebih besar bagi produsen panel surya. Logam ini menjadi aspek biaya terbesar dalam pembuatan modul surya dan telah membikin kebutuhan berkurang, apalagi berpotensi menggantinya dengan logam lain.
Untuk mengurangi konsumsi perak, para produsen mencetak lapisan perak nan semakin tipis pada sel silikon, menggunakan pasta tembaga berlapis perak sebagai pengganti perak murni, dan menggunakan teknologi nan menghilangkan konduktor perak tebal dari sel. Lainnya apalagi berupaya lebih jauh dengan mencoba menghilangkan perak sepenuhnya.
Produsen panel surya terbesar di China, Longi Green Energy Technology Co, mengatakan bulan lampau bahwa mereka telah mulai memproduksi sel surya nan mengganti perak dengan tembaga nan lebih murah. Canadian Solar Inc. , pemain industri utama lainnya, juga memulai program penelitian dan pengembangan 'nol perak'.
Industri tenaga surya juga memasuki periode konsolidasi, setelah bertahun-tahun mengalami kelebihan kapabilitas kronis dan penurunan nilai nan drastis. Instalasi tenaga surya dunia diproyeksikan bakal menurun pada tahun 2026 untuk pertama kalinya sejak pencatatan BNEF dimulai pada tahun 2000.
Sebagai logam penghantar listrik paling kuat, perak telah lama menjadi komponen kunci panel surya, digunakan dalam corak pasta untuk mengumpulkan dan mengalirkan arus dari sel silikon. Ketahanannya terhadap oksidasi, kualitas nan sama nan membantu mencegah perhiasan perak menodai kulit. Mengganti perak sepenuhnya tetap merupakan tantangan teknis.
Tidak seperti perak, tembaga, pengganti nan paling sering disebut untuk logam putih, mengalami oksidasi dengan sigap nan mengurangi konduktivitasnya. Tembaga juga dapat meresap ke dalam silikon selama proses manufaktur suhu tinggi nan digunakan untuk sel surya konvensional, menciptakan abnormal nan dapat membahayakan keandalan jangka panjang.
Para produsen China mengatakan nilai perak nan stabil di atas USD 68 per troy ounce bakal membikin produksi tanpa perak menjadi lebih menarik secara finansial dibandingkan dengan produksi modul saat ini, tulis BNEF. Logam mulia tersebut saat ini diperdagangkan mendekati USD 69 per ounce.
“Jika nilai tetap tinggi alias naik lebih tinggi hingga USD 80 alias USD 100 per ons, itu bakal memaksa para pelaku industri untuk beranjak ke tembaga, sebagai bagian dari keseimbangan antara efisiensi dan biaya,” kata Chou dari Metals Focus.
Para pemasok pasta perak nan digunakan dalam sel surya, nan dipimpin oleh Wuxi DK Electronic Materials Co. dan Changzhou Fusion New Material Co, dapat memperoleh faedah dari peralihan ke tembaga, dengan mempertahankan biaya fabrikasi nan serupa sembari mengganti perak dengan bahan baku nan jauh lebih murah dan memerlukan modal nan lebih sedikit.
Juru bicara Wuxi DK menilai pergeseran ke pasta tembaga bakal meringankan tuntutan arus kas nan tinggi nan dibebankan pada produsen pasta dan meningkatkan profitabilitas.
“Dalam jangka panjang, mengambil pasta logam dasar bakal membantu industri mengurangi ketergantungannya pada perak dan mencapai pembangunan nan lebih berkelanjutan," ujarnya.
Meskipun permintaan perak untuk daya surya mungkin terus menurun, para pendukung teori persekongkolan beranggapan bahwa konduktivitasnya nan luar biasa membikin perak bakal menemukan banyak sumber permintaan baru sebagai bagian dari elektrifikasi ekonomi dunia nan lebih luas.
“Hampir semua perihal nan kita operasikan dengan sakelar hidup-mati dalam kehidupan sehari-hari mengandung perak. Jadi ada kompensasinya," kata kepala pelaksana Silver Institute, Michael DiRienzo.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·