Liputan6.com, Jakarta - Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menyoroti praktik produsen nan mengedarkan dua jenis galon guna ulang dengan standar keamanan berbeda, tetapi dipasarkan dengan nilai nan sama kepada konsumen.
Ketua KKI David Tobing mengatakan kondisi tersebut memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai kesetaraan kualitas dan keamanan produk nan diterima konsumen.
“Mengapa produsen nan sama mengedarkan dua standar keamanan bungkusan nan berbeda? Konsumen mempertanyakan kualitas dan keamanan bungkusan nan beredar ini,” kata David dalam konvensi pers di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Konsumen Pertanyakan Perbedaan Standar Keamanan
KKI menghimpun laporan dari 250 konsumen di tujuh kota besar sepanjang Maret hingga April 2026. Hasilnya, sebanyak 62 persen responden mengaku telah mengetahui adanya perbedaan jenis galon nan beredar di pasaran.
Menurut David, banyak konsumen mempertanyakan argumen adanya perbedaan standar keamanan pada produk dengan nilai nan sama. Mereka juga merasa berkuasa memperoleh bungkusan dengan kualitas nan lebih baik.
“Ada satu prinsip di dalam perdagangan, jika harganya sama maka kualitas juga sama,” tegas David.
Ia menilai persoalan ini semakin menjadi perhatian lantaran masyarakat sekarang lebih memahami jenis plastik nan digunakan dalam bungkusan air minum. Dalam prinsip perlindungan konsumen, transparansi serta kesetaraan antara nilai dan kualitas produk dinilai menjadi perihal mendasar.
Keluhan Galon Tua hingga Risiko BPA
Selain soal perbedaan material, KKI juga menerima banyak laporan mengenai kondisi bentuk galon polikarbonat nan dinilai sudah terlalu lama digunakan. Sebanyak 92 persen konsumen mengaku menerima galon nan diperkirakan telah berumur lebih dari satu tahun.
Tidak sedikit pula konsumen nan mengeluhkan kondisi galon nan kusam, berlumut, hingga retak. Dari laporan nan masuk, 30 persen galon disebut dalam kondisi kusam alias berlumut, sementara 18 persen lainnya mengalami retak.
“Semakin tua usia galon semakin beragam jenis keluhannya. Masalah fisik, kotor, kusam, dan retak. Nah ini mendominasi laporan konsumen,” jelas David.
KKI menilai penggunaan galon polikarbonat dalam jangka panjang perlu mendapat perhatian lantaran material tersebut berpotensi mengalami peluruhan BPA. Risiko itu disebut meningkat andaikan galon terpapar sinar mentari saat distribusi, dicuci dengan metode nan tidak standar, dan digunakan berulang kali.
Pakar polimer dari Universitas Indonesia sebelumnya merekomendasikan pemisah kondusif penggunaan galon polikarbonat maksimal satu tahun alias sekitar 40 kali pengisian ulang guna mengurangi akibat peluruhan BPA nan disebut dapat memicu obesitas, diabetes, hingga gangguan reproduksi.
“Kalau harganya sama, konsumen wajib mendapatkan nan sama keamanannya, keselamatannya, dan kenyamanannya,” ungkap David.
KKI pun mendesak pemerintah segera menetapkan izin nan lebih tegas mengenai masa pakai galon guna ulang untuk mencegah peredaran galon tua di masyarakat.
“Kekosongan izin masa pakai untuk guna ulang adalah akar masalah nan kudu ditutup. Negara perlu izin nan melindungi kesehatan masyarakat bukan sekedar untung produsen,” tutup David.
(*)
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·