Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan miliarder nan pernah menjadi simbol kejayaan dan kejatuhan pasar properti China, Hui Ka Yan, resmi dijatuhi balasan penjara seumur hidup oleh pengadilan setempat pada pekan lalu. Namun, kejatuhan sektor properti nan sekarang telah memasuki tahun keenamnya ini tetap menjadi beban berat bagi ekonomi terbesar di bumi ini.
Mengutip Reuters, Senin (24/08/2026), krisis mematikan ini telah menjadi titik penderitaan panjang bagi jutaan rumah tangga dan memaksa China untuk sangat berjuntai pada pertumbuhan nan ditopang ekspor sehingga memicu gesekan perdagangan global. Para analis pun memperingatkan bahwa belum ada titik terang mengenai kapan krisis sistemik ini bakal berakhir.
Banyak pemilik rumah dan kreditur nan marah melampiaskan kekesalannya di media sosial China. Topik mengenai balasan tersebut meraup lebih dari 370 juta tayangan dan 72.000 obrolan di platform Weibo pada hari Kamis. Publik secara blak-blakan mempertanyakan kenapa Hui Ka Yan, pendiri China Evergrande nan pernah menjadi orang terkaya di Asia, tidak dijatuhi balasan meninggal setelah terbukti bersalah atas beragam kejahatan berat mulai dari penyalahgunaan biaya hingga penyuapan.
Seorang pemilik rumah berumur 38 tahun, Jason Wang, mengungkapkan rasa frustrasinya. Nilai rumahnya di provinsi Shandong nan merupakan salah satu wilayah terdampak krisis paling parah, telah hancur dan ambruk 25% sejak dibelinya pada 2019.
"Rasa sakitnya tak tertahankan. Ketika orang-orang nyaris tidak bisa memberi makan diri mereka sendiri, siapa nan bisa membeli rumah?" ungkapnya.
Kehancuran Ekonomi dan Ancaman Ekspor Enam tahun usai regulator finansial China menindak keras sektor properti nan berutang tumpuk gunung, jutaan properti nan baru separuh dibangun sekarang duduk terbengkalai di seluruh penjuru China. Pemulihan nilai rumah baru di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai telah mandek total, penjualan tanah terus merosot, serta laju penurunan penjualan maupun bangunan properti justru semakin cepat. Di kota-kota pedalaman nan lebih kecil, nilai rumah jejak apalagi ambruk nyaris 25% dari level tahun 2020 nan langsung mengerem paksa daya beli konsumen.
Kehancuran di sektor pilar ini membikin ekonomi China hanya bisa tumbuh 4,3% pada kuartal nan berhujung di bulan Juni dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Angka ini merupakan laju pertumbuhan terlambat dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Dengan rusaknya mesin permintaan domestik, China sekarang banting setir dan semakin mengandalkan ekspor untuk pertumbuhan. Surplus perdagangan China nan membengkak lebih dari dua kali lipat sejak 2019 telah meningkatkan ketegangan jual beli dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS). Hal ini memicu kepanikan bakal ancaman "China Shock 2.0", di mana peralatan ekspor murah mereka menggusur industri lokal milik negara-negara mitra dagang, termasuk di area Global South.
Presiden Xi Jinping sejatinya telah berupaya mengalihkan aliran angsuran bank dan support negara dari sektor real estat ke industri teknologi strategis, seperti robotika dan semikonduktor. Namun, sektor berkembang tersebut tetap terlalu mini untuk mengimbangi beban dari kemerosotan perumahan. Ekonom Senior di Conference Board Asia, Max Zenglein, menyoroti perihal ini.
"Pertumbuhan dan faedah pertumbuhan didistribusikan secara jauh lebih sempit di seluruh ekonomi. Itulah argumen utama kenapa konsumsi tidak meningkat," tuturnya.
BUMN Kuasai Pasar, Harga Harus Turun 40% Di lanskap korporasi, Evergrande telah kandas bayar pada 2021 dan memulai likuidasi pada 2024. Pesaingnya, Country Garden, ikut kandas bayar pada 2023 dan tidak melakukan pembelian tanah sejak saat itu, sementara China Vanke sedang berupaya memperpanjang beberapa pembayaran obligasi dan telah mengganti sebagian besar manajemen puncaknya dengan pelaksana dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Mengingat sebagian besar developer swasta telah hancur, BUMN properti sekarang mendominasi pasar sepenuhnya. Seorang petugas pinjaman di sebuah bank BUMN besar membongkar realita pembiayaan saat ini.
"Pertimbangan utamanya adalah siapa nan berada di belakangnya - apakah itu badan upaya milik negara pusat alias daerah. Praktiknya, bank sudah lama berakhir memberikan pinjaman kepada developer swasta," paparnya.
Chief Executive dari konsultan real estat Enhance International, Sam Radwan, menegaskan bahwa tidak ada perbaikan instan untuk masalah ini. Ia memperkirakan butuh 18 bulan hanya untuk membersihkan inventaris rumah. Harga rumah apalagi kudu turun lebih jauh sebesar 40% lagi dari level tahun 2025 untuk bisa mencapai titik keseimbangan, sebuah proses menyakitkan nan bisa menyantap waktu hingga satu dasawarsa penuh.
"Masalahnya sistemik, dan tidak banyak nan bisa Anda lakukan. Anda mempunyai lebih banyak rumah daripada jumlah rumah tangga - rumah kedua digunakan sebagai investasi oleh lebih dari sepertiga populasi," katanya.
"Warga China adalah orang-orang nan sangat pintar. Mereka tahu betul bahwa mereka belum mendekati titik terendah tetapi mereka tidak bisa memandang titik terendah," tegasnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Riset China di Gavekal Dragonomics, Christopher Beddor, menilai bahwa masa terburuk mungkin telah berlalu.
"Kami tidak memperkirakan pemburukan substansial dari sini. Namun, jalan nan paling mungkin adalah koreksi nilai nan terus-menerus dan perlahan nan pada akhirnya membersihkan pasar dan membuka jalan bagi beberapa perbaikan," pungkasnya.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·