Harga Plastik Meledak 2 Kali Lipat, Pedagang Menjerit: Untung Tinggal Receh

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Harga produk plastik di pasaran mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, untuk sejumlah produk, kenaikan nilai mencapai 100% namalain dua kali lipat, membikin para pedagang kesulitan.

Sebagai contoh, Fuada, seorang pedagang plastik di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, mengatakan kenaikan nilai terjadi nyaris pada seluruh jenis plastik nan dijualnya. Mulai dari kantong plastik, kantong kresek, gelas plastik, hingga wadah makanan.

"Ini (kantong) plastik tomat, dulu saya jual Rp 10.000, sekarang nilai jualnya Rp 15.000. Karena dari modal awal, kan per 1 kilogram ya, biasanya Rp 33.000. Sekarang jadi Rp 48.000 alias Rp 54.000. Jadi untungnya tipis banget," kata Fuada saat ditemui detikcom di Pasar Gondangdia, Kamis (9/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gelas plastik biasa Rp 7.000-8.000, sekarang Rp 15.000. Itu naik nyaris 100% lah ya. Kalau plastik klip, saya biasa jual Rp 30.000, sekarang modalnya saja sudah Rp 40.000. Mau jual berapa? Jual Rp 50.000, kaget orangnya kan, naiknya Rp 20.000," jelasnya lagi.

Sementara itu, kenaikan nilai tertinggi banyak terjadi untuk wadah makanan (thinwall), di mana biasanya Fuada menjual per roll isi 25 set Rp 20.000, sekarang sudah naik menjadi Rp 40.000. Artinya, untuk produk ini kenaikan nilai mencapai dua kali lipat dari sebelumnya.

Padahal, produk ini biasanya digunakan para pedagang maupun rumah makan untuk wadah bungkusan makanan nan dibawa pulang. Hal ini membikin sebagian besar pembeli beranjak ke produk dengan kualitas lebih rendah demi mencari nilai nan lebih murah.

"Kalau wadah gini kan biasanya buat jualan ya, jadi mau nggak mau mereka kudu tetap beli. Tapi akhirnya banyak nan minta produk nan lebih murah, nan ekonomis lah. Saya saranin sih tukar nan wadah kertas, hanya ini kan jika basah dikit rawan bocor ya," paparnya.

Pada akhirnya, Fuada terpaksa menahan nilai jual plastik dengan mengurangi margin keuntungan. Tentu perihal ini sangat berakibat terhadap omzet hariannya nan sudah berkurang imbas menurunnya jumlah pembeli saat nilai tinggi.

"Biasa sehari dapat Rp 3.000.000, ini paling Rp 1.500.000, setengahnya lah. Itu belum buat modal lagi kan. Pokoknya buat modal lagi paling bersih-bersih dapat Rp 200.000 lah. Normalnya biasa Rp 400.000-500.000 mungkin. Jadi sekarang saya juga beli stok sedikit-sedikit saja, takut kelak ada kebijakan, nilai turun. Kan nggak bisa jual ini lantaran modalnya lebih dari nilai jual," ungkapnya.

Senada, pedagang toko sembako dan plastik di Pasar Gondangdia, Asan, juga mengaku kenaikan nilai terjadi untuk seluruh jenis plastik. Menurutnya, kenaikan rata-rata sudah di atas 50%, membikin nilai modal jauh lebih tinggi dari nilai jual sebelumnya.

"Kalau dulu kresek (kecil) ini kan modalnya paling Rp 10.000-11.000 gitu kan. Kalau sekarang modalnya sudah Rp 15.000-16.000. Nah jika nan ini (kresek sedang) biasa jual Rp 15.000, sekarang modalnya ini sudah Rp 19.000. Kita jual Rp 20.000, dulu bisa ambil untung Rp 1.500, sekarang Rp 1.000 gitu," jelas Asan.

Pada akhirnya, sama seperti Fuada, dia kudu mengurangi untung agar nilai produk tidak naik terlalu mahal di tingkat konsumen. Sebab, jika nilai jual dinaikkan sesuai nilai modal, dia cemas pembeli bakal beralih.

"Kalau kita naikkan sesuai nilai modal, jadi mahal banget nilai plastiknya. Nanti nggak ada nan mau beli," ujarnya.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance