Harga Pertamax Rp16.250, Benarkah Masih di Bawah Keekonomian?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Feby Novalius , Jurnalis-Kamis, 11 Juni 2026 |14:38 WIB

Harga Pertamax Rp16.250, Benarkah Masih di Bawah Keekonomian?

Kenaikan nilai BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green dinilai sebagai langkah nan wajar lantaran mengikuti sistem pasar. (Foto; Okezone.com/Pertamina)

JAKARTA - Kenaikan nilai BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green dinilai sebagai langkah nan wajar lantaran mengikuti sistem pasar. Namun, kebijakan tersebut tetap perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat dan daya beli publik.

Pengamat daya Sofyano Zakaria mengatakan nilai BBM nonsubsidi pada prinsipnya tidak dapat dilepaskan dari dinamika nilai daya global. Produk seperti Pertamax dan Pertamax Green mengikuti formula nilai nan diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245 Tahun 2022. Karena itu, pergerakan nilai minyak dunia, nilai tukar rupiah, hingga biaya pengedaran daya bakal memengaruhi nilai jual kepada konsumen.

“Penyesuaian nilai Pertamax merupakan akibat logis dari sistem pasar nan berlaku. Apalagi saat ini kondisi geopolitik dunia tetap memengaruhi rantai pasok daya serta biaya pengadaan minyak mentah maupun BBM nan sebagian tetap diimpor Indonesia,” ujar Sofyano, Kamis (11/6/2026).

Ia menjelaskan, ketegangan geopolitik di sejumlah area bumi telah meningkatkan ketidakpastian pasokan daya dan memunculkan tambahan biaya dalam proses upaya sektor migas, mulai dari hulu hingga hilir. Kondisi tersebut pada akhirnya berakibat pada struktur biaya nan kudu ditanggung badan upaya penyedia BBM.

Meski demikian, Sofyano menilai pemerintah dan Pertamina tetap menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat. Hal itu terlihat dari nilai Pertamax dan Pertamax Green nan dinilai belum sepenuhnya mencerminkan nilai keekonomian alias nilai pasar nan sebenarnya.

“Jika merujuk sepenuhnya pada perkembangan pasar daya internasional, semestinya nilai bisa berada pada level nan lebih tinggi. Fakta bahwa nilai saat ini tetap berada di bawah nilai keekonomian menunjukkan adanya upaya untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi,” katanya.

Sofyano juga mengingatkan bahwa menjaga keberlanjutan sektor daya nasional merupakan perihal penting. Menurutnya, andaikan nilai daya dalam jangka panjang tidak disesuaikan dengan kondisi pasar, bakal muncul tekanan terhadap kesehatan finansial badan upaya daya dan berpotensi menghalang investasi nan dibutuhkan untuk menjamin ketahanan daya nasional.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com