Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah resmi memberlakukan formula baru Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih nikel mulai 15 April 2026. Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026 nan merevisi Kepmen Nomor 266 Tahun 2025 tentang pedoman penetapan nilai patokan mineral logam dan batubara.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono menilai perubahan formula HPM memberikan akibat signifikan, terutama bagi pelaku industri pengolahan nikel.
Menurut dia, smelter berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) menjadi pihak nan paling tertekan akibat kebijakan ini. Pasalnya, kenaikan nilai bijih nikel jenis limonite nan menjadi bahan baku utama HPAL bisa melonjak lebih dari 100% dalam formula terbaru.
"Dengan kenaikan nilai limonite nan lebih dari 100%, tentu bakal menyebabkan pabrik HPAL bakal mengalami tekanan paling besar," ujar Widhy kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/4/2026).
Kenaikan tersebut dipicu masuknya komponen kandungan kobalt dalam kalkulasi HPM limonite. Di sisi lain, biaya operasional HPAL juga terus meningkat terutama dari lonjakan nilai masam sulfat sebagai bahan utama proses pelindian.
Dalam tiga tahun terakhir, nilai masam sulfat naik drastis dari di bawah US$100 per ton menjadi sekitar US$250 per ton. Kondisi ini semakin menekan struktur biaya produksi smelter HPAL.
Berdasarkan kalkulasi Perhapi, kombinasi kenaikan HPM dan lonjakan nilai masam sulfat berpotensi mendorong biaya produksi nikel dalam corak MHP hingga di atas US$17.000 per ton. Angka tersebut nyaris setara dengan nilai nikel saat ini di pasar dunia nan merujuk pada London Metal Exchange.
Pihaknya pun memahami latar belakang dan tujuan dan perubahan atas HPM nikel ini, ialah salah satunya untuk meningkatkan royalti nikel. Namun demikian, PERHAPI menggarisbawahi bahwa kebijakan tersebut mestinya juga mempertimbangkan keberlangsungan industri hilirisasi nikel.
"Sebab jika keekonomisan pabrik pengolahan nikel tidak menarik lagi, akibat dan pengaruh dominonya bakal panjang, karna bakal menyebabkan pabrik pengolahan nikel berakhir operasi," ujarnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·