Harga Naik Ada Sampai Rp50.000-Warga RI Mulai "Pelit" Ganti Oli Muncul

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Tensi di Timur Tengah nan terus memanas dikhawatirkan bakal terus mendorong kenaikan nilai minyak dunia. Bahkan, nilai minyak Brent diprediksi bisa melambung sampai US$200 per barel.

Jika nilai minyak terus melonjak, pengaruh rentetannya tidak dapat dihindari. Termasuk, dampaknya ke nilai pelumas untuk kendaraan bermotor. Seperti nan dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai pelumas alias oli mesin mengalami inflasi 3,85% pada Mei 2026 dan menjadi salah satu penyumbang kenaikan nilai di golongan transportasi.

Kenaikan nilai diprediksi tetap bakal terus terjadi. 

Pantauan CNBC Indonesia di sejumlah bengkel area Mampang, Jakarta Selatan hari ini, Jumat (5/6/2026), menunjukkan nilai oli nan sebelumnya dijual komplit dengan jasa pemasangan sekitar Rp60 ribu hingga Rp65 ribu sekarang sudah menyentuh Rp75 ribu.

Kenaikan nilai ini membikin pemilik upaya dan montir bengkel pusing. Termasuk juga lantaran kudu menghadapi pertanyaan-pertanyaan pelanggan.

Menurut pengakuan pemilik bengkel, kunjungan pengguna pun sudah turun sekitar 50%. Biasanya ada 10 pelanggan, sekarang sudah nyaris 3 bulan nan datang haya 5 orang.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, kenaikan nilai oli tidak terlepas dari lonjakan biaya produksi nan dialami industri pelumas.

Kata dia, tekanan nan dihadapi produsen tidak hanya berasal dari kenaikan nilai bahan baku utama. Ketergantungan industri terhadap komponen impor juga membikin biaya produksi semakin rentan terhadap pergerakan nilai tukar.

Yusuf menjelaskan, arah nilai oli dalam waktu dekat bakal sangat ditentukan oleh dinamika eksternal dan stabilitas ekonomi domestik.

"Selama kedua aspek tersebut belum menunjukkan perbaikan nan signifikan, ruang kenaikan nilai tetap terbuka," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (5/6/2026).

"Jika ketegangan mereda dan nilai minyak turun, tekanan terhadap nilai oli bakal berkurang. Sebaliknya, jika bentrok bersambung dan nilai daya tetap tinggi, nilai oli kemungkinan tetap bakal terus menyesuaikan sebelum akhirnya stabil," tambah Yusuf.

Hal itu, terangnya, lantaran pelumas namalain oli merupakan produk turunan minyak bumi sehingga kenaikan nilai minyak mentah langsung meningkatkan biaya produksi.

"Pada saat nan sama, pasokan base oil sebagai bahan baku utama pelumas juga sedang terbatas sehingga harganya naik signifikan," ujarnya.

Faktor dunia dan domestik membikin industri pelumas menghadapi tekanan biaya. Kondisi tersebut pada akhirnya diteruskan ke nilai jual di tingkat konsumen.

Meski demikian, Yusuf menilai kenaikan nilai nan terjadi di pasaran tidak seluruhnya seragam lantaran berjuntai pada jenis produk dan bahan baku nan digunakan.

"Namun perlu dicatat bahwa kenaikan nilai oli di pasar umumnya berada di kisaran Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per botol, alias sekitar 15 sampai 20 persen. Jika nilai nan Anda temui naik dari Rp70 ribu menjadi Rp120 ribu, kenaikannya jauh di atas rata-rata pasar. Kemungkinan besar itu terjadi pada oli sintetik premium alias produk nan mempunyai ketergantungan lebih besar terhadap bahan baku impor," sebut Yusuf.

Perbedaan karakter produk membikin besaran penyesuaian nilai di tiap merek dan segmen pasar tidak sama.

"Produk premium nan mengandalkan bahan baku impor condong lebih sensitif terhadap gejolak nilai dunia dan nilai tukar rupiah," ujarnya.

Ke depan, masyarakat tampaknya tetap kudu bersiap menghadapi potensi kenaikan nilai lanjutan. Sebab, tekanan dari pasar daya dunia belum sepenuhnya mereda.

"Untuk jangka pendek, nilai oli tetap berpotensi naik. Pelaku industri apalagi memperkirakan ada kenaikan lanjutan sekitar 15 hingga 20 persen dalam satu hingga dua bulan ke depan," ucapnya.

"Arah pergerakannya sangat berjuntai pada dua aspek utama, ialah perkembangan bentrok di Timur Tengah nan memengaruhi nilai minyak bumi dan keahlian Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah," ujar Yusuf.

(dce/dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News