Harga minyak mentah jatuh ke level terendah sejak awal meletusnya perang AS-Israel dengan Iran, lantaran adanya tanda-tanda peningkatan aliran pasokan minyak melalui Selat Hormuz dan kemajuan menuju kesepakatan perdamaian sementara.
Dikutip dari Bloomberg, nilai minyak Brent berjangka turun 3,4 persen menjadi USD 87,33 per barel pada Jumat (12/6), terendah sejak 5 Maret, dan mengakhiri pekan dengan penurunan 6,2 persen. Minyak West Texas Intermediate turun 3,2 persen menjadi USD 84,88 per barel, serta nilai perjanjian berjangka gas alam Eropa merosot hingga 8,4 persen.
Harga minyak mentah telah turun sekitar 30 persen sejak puncak konflik. Pasar mengalami kelebihan pasokan sebelum perang pecah pada Februari, dan minyak mentah Brent, patokan global, telah berada di kisaran USD 70 per barel.
AS dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz nan dapat ditandatangani saat para pemimpin bumi G7 berjumpa minggu depan, kata para pejabat senior. Namun, pesan nan saling bertentangan antara Washington dan Teheran terus menimbulkan keraguan tentang jangka waktu tersebut.
Selain angan bakal perdamaian, penurunan nilai dipercepat oleh pasar nan menemukan langkah untuk mengatasi penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran nan dilewati sekitar seperlima minyak bumi sebelum perang.
Dalam beberapa minggu terakhir, semakin banyak kapal nan melintasi jalur air tersebut dengan sinyal satelit dimatikan, sementara penurunan impor China dan lonjakan ekspor AS juga membantu menyeimbangkan pasar.
"Bahkan jika kesepakatan tenteram sementara diselesaikan dan selat dibuka kembali, kita tetap bakal menghadapi keterbatasan pasokan," kata mahir strategi investasi senior US Bank, Rob Haworth.
Para pemilik kapal memantau dengan saksama perkembangan perundingan perdamaian, dan beberapa pemilik kapal tanker menyatakan kehati-hatian tentang potensi pembukaan kembali selat tersebut. Bahkan, sudah ada nan memperkirakan bakal terjadi kekacauan besar jika jalur itu betul-betul dibuka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, nota kesepahaman antara kedua pihak belum pernah sedekat ini, dalam sebuah unggahan media sosial pada Jumat. Hal tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap akhir dari bentrok nan sekarang memasuki bulan keempat. Sebab, para pejabat Iran lebih menahan diri daripada rekan-rekan mereka dari AS dalam memberikan sinyal kemajuan menuju kesepakatan.
Namun, terlepas dari semua kemajuan nan telah dicapai, tetap belum ada kejelasan mengenai isi dari apa nan disebut nota kesepahaman tersebut, dan kedua belah pihak memberikan penjelasan nan berbeda. Ketidakjelasan ini menimbulkan keraguan tentang seberapa sigap Selat Hormuz dapat kembali beraksi mendekati kondisi sebelum perang.
Haworth mengatakan bahwa kapal-kapal nan melintasi Selat Hormuz menuju Asia, pasar utama bagi pemasok dari Teluk Persia, bakal memerlukan waktu dua bulan untuk sampai ke sana dan kembali.
Meskipun demikian, ahli daya ICAP Scott Shelton mengatakan bahwa banyak negara tetap lebih memilih membeli minyak mentah AS daripada minyak mentah nan berasal dari Teluk Persia.
“Pasar bakal berupaya melakukan diversifikasi dari mereka, setidaknya dalam jangka pendek, lantaran Iran pada dasarnya telah menyadari bahwa menutup selat itu bukanlah perihal nan sulit," kata Shelton.
Investor menanggapi perkembangan diplomatik terbaru dengan hati-hati setelah beberapa klaim sebelumnya tentang terobosan nan bakal segera terjadi terbukti tidak berdasar. Volatilitas nan dihasilkan telah mendorong posisi terbuka pada patokan Brent dunia ke level terendah dalam lebih dari setahun lantaran para pedagang mengurangi eksposur risiko.
Belakangan ini, pasar gas Eropa terjadi peningkatan posisi bullish, nan berpotensi menambah dorongan penurunan lantaran para trader menyesuaikan posisi mereka.
"Kabar tentang potensi kesepakatan tersebut tampaknya telah mendorong pelaku pasar untuk mau menutup beberapa posisi beli sebelum akhir pekan," kata kepala gas dan LNG Eropa Wood Mackenzie, Tom Marzec-Manser.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·