Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi sejak Juni 2022 pada Kamis (30/4), imbas dari belum adanya tanda-tanda berakhirnya bentrok AS-Iran dan terhambatnya aliran daya melalui Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran menyusutnya persediaan pasokan dunia dengan cepat.
Dikutip dari Bloomberg, patokan dunia Brent naik lebih dari 7 persen hingga diperdagangkan di atas USD 119,50 per barel sebelum sedikit terkikis dan ditutup sekitar USD 118 per barel, level tertinggi baru sejak perang Iran dimulai dua bulan lalu, sementara West Texas Intermediate mengakhiri hari sedikit di bawah USD 107 per barel.
Harga Brent sekarang telah menghapus semua kerugian sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara awal bulan ini, sementara penanammodal bersiap menghadapi perang nan berkepanjangan dan akibat lebih lanjut dari guncangan pasokan nan belum pernah terjadi sebelumnya.
Terdapat banyak tanda bahwa negosiasi perdamaian telah gagal, termasuk ketika Presiden AS Donald Trump membahas langkah-langkah nan dapat diambil AS untuk memperpanjang blokade angkatan lautnya terhadap Iran, selama pertemuan dengan para pelaksana industri minyak dan perdagangan pada Selasa.
Axios melaporkan bahwa Trump telah menolak proposal terbaru dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, tempat arus vital terhenti.
“Selama belum ada rencana untuk mengakhiri kekacauan ini alias setidaknya membuka Selat Hormuz, pasar bakal terus naik,” kata Direktur bagian berjangka daya Mizuho Securities USA, Robert Yawger.
Pergeseran pasar secara keseluruhan ke arah ekspektasi bentrok nan lebih lama telah mempertajam konsentrasi pada pasokan AS, nan sekarang semakin krusial untuk mengimbangi gangguan pada arus pasokan Timur Tengah.
Data pemerintah nan diterbitkan pada Rabu menunjukkan bahwa stok minyak domestik menurun sementara ekspor minyak mentah AS melonjak ke rekor tertinggi.
Di sisi lain, blokade angkatan laut AS merupakan poin krusial nan menjadi penghalang antara Washington dan Teheran, nan bersikeras tidak bakal memulai kembali negosiasi alias membuka kembali Selat Hormuz selama pembatasan tersebut tetap berlaku.
Aliran minyak mentah, gas alam, dan produk minyak dari Teluk Persia tetap terputus sejak bentrok dimulai pada akhir Februari. Krisis ini telah menyebabkan nilai bensin, solar, dan bahan bakar jet melonjak, meningkatkan kekhawatiran inflasi di seluruh dunia.
“Kebuntuan ini bisa berjalan selama berminggu-minggu. Entah pasar dunia nan bakal memberi tahu Trump bahwa kita tidak bisa lagi menanggung kekurangan minyak ini, alias Iran nan bakal mengatakan bahwa mereka mau dapat mengeluarkan minyak mereka," kata kepala kebijakan dan akibat geopolitik di Kpler Ltd, Michelle Brouhard.
Menurut Kpler, Teheran dengan sigap kehabisan ruang penyimpanan minyak mentah, nan menakut-nakuti bakal mempercepat pengurangan produksi.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·